Tag Archives: puisi

Sebuah Kisah tentang Layang-Layang

Standard

Aku adalah layang-layang yang putus dari tambatan.

Ikatanku terlibas sekelibat angin biru.

 .

Dulu sekali, diwaktu aku berangan-angan pada pagi di suatu kali…

Kuramalkan diriku jatuh dan sobek sana-sini,

Bila nanti kutemui tali kecil ini tak lagi mengikatku pada bumi.

.

Tapi ternyata, karangan kita tidak selalu demikian kenyataannya.

 .

Karena justru,

Karena tambatku yang putus, aku menjadi tahu,

Rasanya terbang bersama angin,

Mengarung langit yang kuning, ungu, biru, hingga kelabu.

.

Kupikir,

Tali yang kokoh dan panjang memungkinkanku terbang,

Ternyata,

Angin yang kukuh, bebas, tak terhalanglah,

Yang mengantarku menyentuh awan.

.

Jatuh itu klise.

Toh kita semua akan kembali ke tanah.

Tapi berteman dengan angin si prajurit alam aku mulai percaya,

Suatu kali lepas dari angkasa ini,

Ke tanah, aku tidak akan jatuh.

Aku labuh.

 ..

11.49 WIB

18 Juni 2017

Anggun Nadia Fatimah

Sebuah Kapal Cepat

Standard

IMG-20160531-WA0005

Ada laut, dan sebuah kapal cepat

Jarak melebar sepersekian detik dan berlipat pada detik berikutnya.

Lajunya serasa lesat.

Ada aku, sendiri tegak di ujung dermaga,

Tertinggal si kapal cepat,

Dilematis.

Jika kukejar aku tenggelam,

Jika kutunggu mungkin tak kan pulang,

Jika kurindu barangkali tak usai sewindu,

Jika aku berpaling, sungguh hatiku yang diusut beling.

Taukah engkau apa yang sulit dilepaskan?

Ialah yang paling terbilang sayang.

Selasa, 31 Mei 2016

22:38 WIB

By the River Piedra, you sat down and wept…

Kepada Jarak

Standard

Yang jauh biarlah jauh…

Tak menjadi dekat meski habis pagi dan siang engkau perangi.

*

Yang jauh biarlah jauh…

Biar ketidakpastian esok membungkusnya rapi dengan tajuk misteri,

Esok akan selamanya menjadi milik esok.

*

Yang jauh biar saja jauh,

Hanya dari dan di atas tinta kita mengaguminya,

Merasa dekat menjangkau hatinya,

Menjangkau nyawa bunga-bunga dan larik-larik cahaya yang mengitarinya.

Terpana.

Tersenyum untuk kemudian merasa bahagia.

Sederhana.

 *

Yang jauh biarlah jauh,

Esok adalah rahasia esok,

Terima saja, demikian ini adanya.

 *

Jikalau ingin mengejar kejarlah saja yang bisa dikejar,

Tidak matahari, tidak purnama, tidak awan-awan,

Kejar saja daun-daun yang jatuh,

Pandangi saja citra sendiri yang memantul di sungai,

kepada mana matahari tersenyum tanpa menyakiti,

Mungkin dengan begitu, yang jauh itu terbayang dekat kembali,

Di sini,

Di dalam hati.

*

Jika suatu hari aku kehilanganmu, Cinta,

Ingatkan aku,

Engkau di sini, di dalam hati,

Selamanya tak pernah pergi.

***

Pada suatu malam yang tidak istimewa,

21.32 WIB, 27 Maret 2016

Anggun Nadia