Tag Archives: peri musim gugur

Sore yang Luntur Bersama Peri Musim Gugur

Standard

Hai..

Siapapun kamu, hari cerah ceriakah di sana? Pun enggak juga nggak papa. Malah kalo nggak pernah mendung awannya, praktis kekeringan nanti tanahnya. Ya kan? Tuhan Yang Maha Sempurna itu selalu punya rencana yang sempurna. Acapkali, kitanya aja yang belum sampai nalar logikanya.

.

Hai..

Masih inget dengan si Peri Musim Gugur?

Tokoh fiktif dalam skenario Rahasia-Rahasia, tulisan yang nangkring di blog ini milyaran menit yang silam. Hari ini, aku ketemu lagi sama dia.

.

Kalo kemarin lalu nulisnya edisi agak melow-melow gitu, tertular khasnya si Peri Musim Gugur manakala irama hatinya lagi ngelantur, kali ini santai banget. Edisi ngobrol yang isinya tanya jawab. Penting nggak penting sih. Tapi ya lantaran saya ngerasanya belajar banyak dari dia (dan jadi bersyukur karenanya) berasa enak aja kalo pelajaran hidup ini dibagi-bagi. Serasa minum kopi-kopian di pinggir danau dipayungi pohon nan rindang. Emang ketemu dia sembari ngobrol sore ini. Alhamdulillah sih, sedhaif penglihatan saya, hatinya udah mulai menerima kenyataan sebagai pelajaran.

.

Well,,, this is what it was. Dikira-kira aja ya, siapa yang lagi ngomong apa…

..

16.30 WIB, pinggir danau sebuah kampus tua

Kamu masih mikirin dia?

“Kalo kamu jatuh cinta sedemikian dalamnya, mencintainya hingga bertahun-tahun lamanya padahal nggak pake tatap muka, menurut kamu kira-kira jawabannya apa?”

Well… Aku tertohok. Agak bingung nanggepin apa. Memilih manggut-manggut menatap waktu yang jatuh dari penahan bulir-bulirnya.

 

“Jadi nggak enak nih suasananya, haha.” Dia ketawa.

Ah, enggak kok. Gimana ya.. Penasaran, tapi khawatir salah omongan. Sori ya kalo tadi nyinggung.

“Enggak kok. Santai aja. It is what it is, sekarang.”

Yah, well… Aku makin bengong. Kemarin dulu dia puitis banget pas patah hati. Hari ini praktis, dia logis banget. Sayanya? Dilematis.

 

16.48 WIB, waktu jam tangan saya

“Kadang kalo pas bikin drama di kepala sendiri, atau berwacana dengan pikiran sendiri, masih selalu ada orang itu di situ. Meski dia mungkin cuman jadi background. Ini tentang, aku yang butuh perlahan-lahan melepaskan.”

 

Iyalah. Wajar. Thoh yang baru kenal terus putusan juga sedihnya kadang nggak ketulungan. Gimana kamu yang cintanya mirip karya sastra lama sekaligus film drama romantis yang berakhir tragis pada saat yang sama.

 

Dia ketawa. Pelan banget ketawanya. Pikirannya, entah dimana.

 

Gimana sih rasanya, tahunan mencintai orang yang sama. Orang yang hampir nggak pernah kamu sapa. Nggak kamu lihat wajahnya. Dan literally nggak pernah kenalan formal sebelumnya.

 

“Mmm… Gimana ya. Cinta agak susah sih dibahasainnya. Anggep aja emang udah gitu skenarionya.”

Skenarionya?

“Iya. Skenario yang menghantar kita pada akhirnya untuk belajar dengan sebenar-benarnya.”

Nah lho, filosofisnya kambuh nih bocah…

 

Kamu nyesel nggak mencintai dia, untuk kemudian mesti terima kenyataan, kalo jalan harapan kita nggak sesuai kenyataan?

 

“Itu proses yang panjang ya, untuk akhirnya mengenali stand point hati sendiri. Sedih nggak sedih. Rela nggak rela. Ikhlas nggak ikhlas. Dan, nyesel nggak nyesel. Tapi sekarang, hari ini setelah dua bulan refleksi, rasa-rasanya aku sih insya Allah cukup yakin buat bilang, ‘nggak tuh. Aku nggak nyesel mencintai dia.”

IMG_20170726_060348_274

 

“Orang-orang bijak pernah bilang, yang kemudian disadur kembali oleh seniman beragam zaman. Katanya, kita sejatinya nggak jatuh cinta kecuali sama diri kita sendiri. Bahwa setiap hal di jagad semesta yang menarik hati kita hingga sesungguh-sungguhnya, tak lain adalah cerminan diri kita sendiri. Pencil yang pencar. Pencar yang pendar. Pendar yang entah bagaimana, mengembalikan kita tersadar.”

Mulai tertatih-tatih mengikuti arah pembicaraan.

 

“Aku nggak nyesel mencintai dia. Dia orang keren yang patut dicinta. Nggak cuman soal tampang, harta, atau kecerdasan semata. Karakternya, sikap santunnya, rasa tulus yang terpancar lewat matanya, banyak hal dari dia yang mengunggah kesadaranku hingga akhirnya aku belajar. Mengikuti langkah-langkahnya sadar atau tanpa sadar. Belajar. Dan bermetamorfosis jadi manusia yang lebih utuh, sekaligus lebih ‘aku’ rasanya. Pengalaman cinta adalah pengalaman yang membawaku mengenal sisi diriku yang dulu tak terpikir ada  di situ. Cinta melembutkan keberanian yang kasar. Menghadirkan rasa insaf yang seringkali absen saat belajar. Ini pengalaman besar. Mengantarku untuk hidup dengan lebih tegar. Menyesal? Nggak tuh. Aku beruntung dan sejujurnya, hingga titik tertentu aku bangga, aku jatuh cintanya sama orang kaya dia. Yang kuat, yang tinggi cita-citanya, yang sungguh-sungguh dalam upayanya. Yang inspiratif, yang berpikir dengan kekuatan pikir nan jernih. Yang empatik, yang percaya pada kata hatinya. Dia  bold tapi halus di saat yang sama. Dia tak terjelaskan namun sederhana di saat yang sama. Misterius tapi jernih. Aku bahagia, Tuhan memilih dia untuk kepadanya aku jatuh cinta.”

 

17.35 WIB, waktu jam tangan saya

Sekarang, rencana kamu apa?

“Belajar menerima, mensyukuri, dan menjalani hidup apa adanya. Seru sih jikalau benar takdir berjalan sesuai kita punya rencana. Tapi masa iya, rencanaku lebih sempurna dari rencana yang Tuhan sendiri arsiteknya? Doa sih doa. Berdoa supaya bisa hidup dalam damai. Semoga lelaki yang kucinta sungguh-sungguh berkah dalam bahagianya  bersama perempuan pilihan hatinya. Tentang aku? Aku sedang belajar percaya, Tuhan pasti punya rencana.”

 

Rahasia-Rahasia, adegan 1191 : Sesuatu di Sudut Matanya,

Sore hari yang sama, 26 Juli 2017

Anggun Nadia Fatimah

Satu-Satunya

Standard

a9pfIB0

 

Bagian Pertama : Tanpa Rencana

“Aku jatuh cinta tanpa rencana, ” katanya.

“Begitukah?”

“Ya. Juga kepada orang yang tak terencana?”

Alisku merapat.

“Dia bukan model orang yang dengan mudah kusukai sejak awalnya. Bahkan aku baru tahu setelah aku mencintainya, bahwa aku bisa mencintai hal-hal yang menjadikan dia sebagai dia. Bahwa sebagianku mencintai sisi hidup yang ditinggalinya.”

Aku mengangguk. Setengah paham, setengah hanyut.

Tengah Cerita : Cinta, Cerita, dan Fakta

Seribuan hari aku mengamati orang ini. Ia kadang menderas dalam cerita, kadang menderas dalam tangisnya. Yang paling pilu bukan itu. Ialah saat keran hatinya dipepat. Bicara tidak, menangis pun tidak. Hatiku antara iba, sayang, sedih, prihatin, dan mengaguminya di saat yang sama.

Dekat dengannya membuatku merasa ditimpa hujan musim gugur. Hujan daun-daun yang gugur pada senja yang luntur. Nona cantik yang semakin cantik di kala sedih. Ironis.

Nona itu masih mengembangkan ceritanya. Menuturkannya dari bab ke bab padaku, melompat-lompat. Kembali ke bab satu, lari lagi ke adegan dua puluh satu ribu di halaman 391. Berbalik ke bab 3 adegan pertama, halaman 46, lanjut lagi percakapan di halaman 246, adegan 2077. Melompat-lompat, mengikut imajinasinya yang susah duduk diam.

“Aku cinta dia dan itu faktanya. Sudah kuhabiskan bilang tahunan, kulalui jalan demi jalan, bertemu peluh hingga embun. Masih dia dan selalu saja dia.”

Aku mengangguk takzim. Tersenyum tipis menikmati hembusan angin musim gugur yang setengah kering setengah romantis.

“Aku pernah menyukai lelaki lain. Tapi suka. Bukan cinta. Ini beda rasanya. Beda dan selalu saja beda. Dengan orang lain, tak ada mimpi yang bisa kubangun maketnya. Dengan yang ini, mulai dari draft, maket, hingga pun harus kuangkat sendiri batu pondasinya, aku khawatir bagiku tetap saja semuanya ‘iya!’.”

Cinta berdengung di sayap-sayap lebah, menggaung di hutan rumput di sudut lembah. Tersaru. Acak tak berpola. Baru. Tidak dikenalnya sebelum itu. Si Peri Musim Gugur kalut dalam cintanya yang tak surut. Cinta yang berhadapan dengan kabut, menghadap nyata yang menyimpan kemelut. Selalu. Sedari dulu, lelaki dalam fantasi Si Peri Musim Gugur, dicintainya dalam diam, dalam cinta yang tak pernah tertemukan dan ditemukan. Lelaki ini tidak pernah diberitahu, mungkin juga tak pernah berniat tahu. Tak tersiarkan. Terlupakan. Tertinggalkan. Jauh di belakang. Cintanya berhembus di angan-angan.

Bagian Terakhir : Ketika Salju Turun Pada Akhirnya

 

“Aku melihatnya di stasiun kereta. Sore hari di kitaran jam tiga.”

“Oh ya?” Terakhir kuingat, Nona ini tak tahan berada di satu tempat dengan lelaki yang dicintainya. Kehilangan akal katanya. Dulu kabur sambil menutup muka, untuk kemudian di tikungan jalan, sendirian tertawa-tawa. Dulu. Empat tahun lalu saat ia bercerita. Dan kali-kali berikutnya di saat ia merapal ulang ceriteranya. “Kamu kabur lagi?” tanyaku padanya.

“Hebatnya kali ini tidak. Aku mengamatinya dari jauh, lebih lama dari biasanya. Dia bersama seorang wanita berblus hijau. Nona yang tak berhasil kuamati wajahnya.”

“Temannya?”

“Entahlah. Aku mana tahu. Yang aku tahu yang terjadi setelah itu.”

123851-Falling-Leaves

Firasatku mendadak abu-abu.

“Pintu kereta yang baru kunaiki ditutup, begitu pun pembicaraan di seberang peron tempatku semula duduk. Ditutup dengan peluk dan kecup.”

Abu-abu bersahutan dengan biru. Di hatiku mulai bertiup angin musim salju.

“Lalu?”

“Tentu saja tak ada lanjutannya. Keretaku jalan, kereta mereka tiba. Masih kulihat kereta di seberang, pintunya terbuka. Setelahnya hanya barisan anak rel dan jalan-jalan kota.”

“Kamu nggak papa?”

“Aku? Nope. Hari itu aku berdiri sempurna. Senang saja akhirnya bisa melihatnya. Senang saja kali ini melihatnya lebih lama. Dan bila di sana, dengan Nona berblus warna surga dia bahagia, aku ingin sepenuh  hatiku ikut bahagia untuk dia.”

Hatiku ingin menanyakan ulang, “are you really alright?”, tapi suaraku tercekat. Angin musim salju memaksaku merapatkan tulang-tulang yang mulai gemeretak. Diam, tegak, hilang tanggap.

“Mungkin sudah saatnya merangkul kenyataan dan mencukupkan angan-angan.” kata Si Peri Musim Gugur.

Well. Lima pertemuan yang rumit ya.” Lima. Hanya lima kali itu dia bertemu lelaki ini.

Pertama di koridor kampusnya, tempat lelaki tampan yang gagal dicintainya di pandangan pertama menekuk wajah bersama bukunya. Waktu itu, Peri Musim Gugur melewatinya sambil lalu saja.

Kedua, saat ia berbincang dengan teman-temannya di taman kampusnya. Segar sekali wajahnya, begitu Si Peri mendeskripsikannya. Dan Si Peri mulai rajin mendengar kabar tentangnya.

Ketiga, saat melihatnya mengambilkan buntalan karung berisi barang pulungan, yang jatuh dari tarikan gerobak seorang tua yang kumal. Tanpa kata-kata. Tanpa diketahui pak tua, karungnya  jatuh dan tertinggal dua  hasta. Diambilkan dan dinaikkan kembali ke gerobaknya oleh si lelaki. Hari itu, praktis, Peri Musim Gugur memasuki musim gugurnya yang pertama kali: cinta yang menghujani bumi dengan dedaunan warna tua.

Keempat, di stasiun kereta di sebuah kota. Beberapa hari sebelum didengarnya kabar bahwa si lelaki akan pergi. Pergi jauh sekali. Entah kapan kembali.

Kelima, kembali di stasiun kereta. Stasiun yang berbeda dengan kali keempat pertemuan mereka. Stasiun dimana kisah musim gugurnya, menanjak bab jadi musim salju. Stasiun yang diantara rel-relnya Peri Musim Gugur menaburkan sisa kelelahannya, menahun mencintai satu lelaki saja. Tanpa bersuara. Untuk kemudian menyaksikannya jatuh cinta dengan khusyuknya. Seperti mendengar himne, ujar Si Peri Musim Gugur tentang cintanya sore itu.

Nggak papa. Dibolehkan mencintainya hingga sejauh ini saja rasanya sudah luar biasa. Asal di sana dia bahagia, asal di sana dia jadi orang yang baik dan bermanfaat buat sesamanya. Asal dia senantiasa sejahtera jiwanya. Aku bahagia untuknya.”

Aku?

Antara ragu, khawatir akan teman, terpaku, setengah linglung, tetapi kagum di saat yang sama. Kembali tersaruk pada hujan musim gugur di senjakala yang ramah, indah, dan teduh. Orang ini mengagumkan, batinku. Boleh mencintainya hingga sejauh ini saja, rasanya sudah luar biasa. Bagaimana bisa.

Bertahun-tahun cinta ini bertahan di hatinya. Memberinya harapan sekaligus patah hati lantaran kenyataan yang tidak semulus sentuhan dewi fortuna kata sinetron di layar-layar kaca. Tanpa bertemu, ditemui, atau menemui. Tanpa dengar kabarnya, hanya sesekali, itu pun kadang tak sengaja  curi dengar pembicaraan di meja seberang saat makan siang. Dia mencintainya dalam doa-doa, dalam ringkasan hati yang dibaginya padaku bilamana hari itu aku cukup beruntung beroleh cerita doanya. Rapal doa yang lepas. Cinta yang tak mengikat, yang dengan sayapnya terbang bebas menempuh baris-baris awan di langit.

Kisah cinta yang hebat, diciptakan untuk orang-orang hebat yang kadang sama sekali tidak disangka hebat oleh dunia yang acapkali abai mengenali indah yang tak terindera demikian mudahnya. Peri Musim Gugur, bagiku kamu sangat hebat! Terima kasih untuk membaginya denganku.

 

Teruntuk Peri Musim Gugur yang sepenuh hati mencintai yang dicintainya,

Rahasia-Rahasia: adegan pertama, tengah, dan akhirnya.

08.53 WIB

Jumat, 26 Mei 2017

Anggun Nadia Fatimah