Tag Archives: kereta

Dan Keretanya Pun Pergi

Standard

Kamu ada di seberangku hari itu.

Di stasiun itu

Empat tahun berlalu sejak hari terakhir retinaku menangkap sekilas bayangmu. Hari itu, pertengahan Juli, empat tahun lalu. Di sebuah stasiun di kotamu. Empat tahun lalu, selang beberapa hari kemudian, kudengar engkau akan pergi. Untuk entah kapan akan kembali berjalan di bawah  garis waktu yang sama denganku saat itu. Pergi.

 

Empat tahun berlalu. Hampir, kurang cukup dua bulan saja. Awal Mei, kulihat engkau di peron seberang. Duduk dengan seorang kenalanmu, dan aku melanjutkan duduk di seberang sini, main dengan kucing stasiun yang kuning warnanya itu. Sesekali aku menatapmu. Tak lama. Sungguh sangat tidaklah lama.

 

Aku bahagia dalam diamku. Hari itu kali pertama bisa kutatap engkau tanpa kau sadar, lebih dari dua detik berlalu. Sebelumnya? Hanya dua detik saja. Dua detik yang menggenap di hatiku bagai larik cahaya yang menelisik daun pinus: indah, menetap lekat, terlalu lekat hingga tak kunjung digerus waktu. Kesempatan melihatmu adalah imaji. Imaji bisu di hari-hari yang kaku-kaku sayu. Tapi hari itu di awal bulan itu, aku melihatmu. Lebih lama dari waktu-waktu semula.

 

Keretaku datang, tapi masih kulihat engkau dari jendela seberang. Kau  masih di situ, berbincang dengan wanita berbaju hijau dengan engkau berkemeja biru. Keretaku menutup pintu. Di seberang sana, nampaknya kalian juga menutup bincang itu… Dengan peluk, dan kecup.

Dunia ini kadang melucu. Saking lucunya, acapkali aku terduduk dungu.

Tenang saja cinta…

Aku sudah jauh lebih kuat dari aku yang dulu.

Aku tidak menangis di tempat, tidak gemetar, tidak tergugu.

Aku berjalan seperti biasa, naik kereta tanpa mempercepat langkah, seolah biasa saja hari itu.

Hari itu, Cinta…

Tuhan meneguhkan hatiku.

 

#Cemburu

Sejak lahir baru sekali kusandang kata cemburu dalam hidupku.

Aku tidak cemburu pada kakakku ketika ibuku memilih mengkhawatirkan mereka dan meninggalkanku dalam bisu.

Aku tidak cemburu ketika orang lain punya sesuatu yang aku ingini tanpa bisa aku miliki.

Tidak cemburu.

 

Baru tahun lalu aku sandang kata cemburu di hatiku.

Ketika lembar-lembar ujian hidup tak habis-habisnya dilayangkan padaku. Sementara anak-anak lain seusiaku riuh tertawa di luar sana. Menikmati es krim yang manis, dan lelucon yang mengundang tawa-ringis-hingga tangis.

Kala itu aku merasa cemburu.

Terlalu lelah kueja soal ujianku satu demi satu.

Aku lelah. Teramat sangat lelah.

Kubilang pada Tuhanku, “boleh tidak aku istirahat dulu?”

 

Maka bila kau ingin tahu, seberapa jauh aku cemburu pada nona berbaju hijau itu, aku khawatir jawabanku cuma satu: aku tidak cemburu.

Itu adegan yang manis buatku.

Halusnya rasa, lembutnya  hati, dan pikiran yang empati.

Nama-nama kecil dari cinta yang digdaya. Aku menikmatinya.

Meski bukan padaku engkau menjelmakannya.

 

#Sedih

 

Yang ini rasa yang familiar buatku.

Aku sedih diuji bertubi-tubi sampai mau nangis pun tak sanggup lagi.

Sejak dulu. Dulu sekali. Sejak aku masih muda sekali.

Berlanjut.

Hingga kini.

 

Sampai-sampai, kosakata sedih di kamus hatiku punya dua halaman sendiri untuk deskripsi. Itu belum dengan gubahannya. Malah mungkin bisa menelurkan jenis kamus yang lain.

Sedih itu temanku.

Teman setiaku. Ada bersamaku. Bahkan ketika orang mengira aku tertawa. Sedih selalu di bilik itu, kadang duduk memberati, kadang berdiri mengamati. Selalu di situ. Di bilik hatiku yang sakral dalam lamun yang tak terobati.

 

Tentang kemarin, apa aku sedih?

Mungkin.

Aku menolak merasakannya sampai sebegitu. Aku melokalisasi isi hatiku agar tetap di hati. Tidak menguar bersama darah, tidak menanjak hingga otak, tidak menyentuh sendi-sendi. Karena aku harus kuat berdiri.

Saat malam datang, hatiku sebagian regang.

Meremas bantal  dan membanting sunyi. Aku menangis dengan airmata yang tak kau lihat dengan mata kepala.

 

#Marah

 

Siapa aku? Aku tidak punya alasan untuk marah.

Aku bukan ibumu, bukan adik perempuanmu.

Aku tidak kehilangan engkau dengan cara itu, manakala kau melangkah kaki keluar dari rumah kita yang hangat, menuju senyum kekasihmu.

Aku bukan bidadarimu. Aku tidak sedang menunggumu di surga dan merutuki gadis dunia yang menyianyiakanmu.

Bukan peri cinta, yang sedang repot mengarah bidik mata hatimu. Penuh harap agar jatuh padaku. Untungnya, itu fantasi orang-orang yang setengah tau.

 

Aku tidak marah. Buat apa juga marah.

Tidak punya hak marah.

Cukup Tuhan saja yang menggenggam hak untuk marah padamu.

Itu pun, semoga tidak sampai.

Aku percaya Dia sangat mencintaimu.

 

#Setengah Hampa

 

Mungkin ini deskripsi yang mirip agaknya dengan tak terdefinisinya hatiku saat itu. Entahlah. Bisa jadi masih kurang representatif. Tapi sudahlah. Kadang definisi tidak jadi demikian penting.

#Baik-Baik Saja

 

Anehnya kali ini aku baik-baik saja.

Hatiku hampa, tapi yasudahlah, toh orang-orang tidak melihatnya.

Aku seperti baik-baik saja, selain bahwa pikiranku melayang lebih dari setengahnya.

Jangan tanya kemana?

Aku toh tidak menyimpan jawabannya.

 

#Pada Akhirnya…

 

Pada akhirnya aku mencari damai saja.

Ingin sekali berdamai dengan hidup. Dengan konstelasi hati yang carut-marut. Dengan nadi yang berdenyut runut.

Damai-damai sajalah. Kita toh hanya butuh waktu.

Untuk menerima apa yang ada, apa adanya.

Menengahi rasa tak puas dengan syukur.

 

#Oh Mungkin Itu

 

Mungkin itu yang melipur hatiku.

Fakta bahwa hari itu aku bisa melihatmu. Alih-alih dua detik, aku khawatir totalnya hampir dua menit.

Setelah empat tahun.

Akhirnya aku melihatmu.

 

Tahukah kamu, Cinta…

 

Saat itu, matahari masih menggantung di awan. Kata sore belum terbakukan dalam penyebutan.

Di hari itu saat aku kembali dari pencarian, aku turun di stasiun mana mataku menemukanmu.

Duduk di kursi mana sebelumnya engkau duduk di kursi itu.

Melanjutkan hidup. Berjalan sebagaimana lazimnya orang berjalan.

Memunggungi waktu.

 

Kala itu malam hampir separuh.

 

Kala itu aku menengadah, ada bulan penuh di atasku.

Hari ini masih bulan penuh, Cinta.

Sepenuh cintaku untukmu yang boleh jadi tidak akan sempat egkau sadari.

Penuh sekali bulan hari-hari ini.

Menggantung tak gelincir. Membulat tanpa tepi.

Tepat di atasku. Menunggang angin, mengatasi sepi.

 

#Bahagia

 

Aku itu, Cinta…

Terlalu mencintaimu.

 

Hingga bahagiaku melihatmu, mengalahkan semua sakit yang mungkin tumbuh dari akar hatiku.

Terlalu bahagia, hingga tersenyum sekalipun lara.

Kau itu, Cinta, paradoks paling digdaya sepanjang hayat ini.

Meski kulelah, dan meletakkanmu setengah, besok kupungut lagi engkau dari kotak pandora.

Kugenggam lagi. Erat. Hangat.

Tak kubiarkan pergi.

 

Cinta, Cinta…

Boleh mencintaimu hingga sejauh ini saja, rasanya sudah luar biasa.

 

Rahasia-rahasia, adegan keseribu

00.34 WIB

Anggun Nadia.

Advertisements

Ikatan-Ikatan

Standard

2014508152421Kita terhubung oleh sebuah ikatan. Ikatan yang punya banyak sekali cabang, hingga kita tak kan mampu menghitung atau memperkirakannya. Ikatan ini mengaitkan kita dengan rantai takdir yang lain, milik orang lain, atau milik makhluk lain, kucing sekalipun.

Ikatan kita tidak kasat mata. Terjadi bahkan tanpa pernah kita bayangkan akan terjadi. Bentuknya juga beraneka. Durasi dan implikasinya juga berupa-rupa. Ikatan kita mengikat takdir kita, kecil sekalipun, menyatukannya bahkan dengan orang yang tak kita kenal, untuk kemudian segera saja kita lupa, dalam hidup kita yang panjang.

Ikatan itu yang membuat aku dan Nila pergi ke Sempu Juni 2014 lalu, tanpa tim. Harusnya berempat, dua batal. Dan kita hanya berdua. Sok asik aja. Hihi… Ikatan itu juga yang membuat sopir angkutan setempat mengantar kami ke pertigaan depan masjid, tempat angkutan menuju Sendangbiru (kalau tidak salah, aku sudah agak lupa) menunggu penumpangnya. Sopir yang berinisiatif membawa kami ke pertigaan itu, bukan ke terminal sebagaimana seharusnya.

Ikatan itu juga yang menjadikan aku dan Nila menunggu demikian lama hingga mengira kami ditipu. Sampai akhirnya ikatan itu juga yang membawa serombongan anak SMA (seluruhnya lelaki) menuju angkutan yang sama dengan kami, untuk kemudian menemani perjalanan kami dua hari itu. ikatan itu menjadikan aku dan Nila nggak sendirian di Sempu. Dan ikatan takdir itu, menjadikan kami berdua dapat banyak bantuan dari orang asing tapi nggak berbahaya. Cowok-cowok SMA itu, SMA sekali rupanya. Dan kami senang, kita batal nyasar berdua doank. 🙂

Dapat bantuan mendirikan tenda, karpet gratis di depan tenda (mereka bawa-bawa baliho acara OSIS donk..), teman shalat berjamaah, tukang ngamen gratis, bantuan menyalakan api di tungku, teman mengobrol dan ceceritaan, teman satu perahu jadi sewanya murah dan langsung berangkat, dan seteruuussnya, dan seterusnya. Aman. Alhamdulillah.

Pagi ini aku baru balik dari Lampung. Entah kenapa ingin ke kosan Margonda. Mampir dululah, naro beberapa barang, begitu pikirku. Pagi ini gerbong wanita di ujung belakang rangkaian kereta hampir penuh bangkunya. Sisa sempilan di antara dua perempuan yang lebih muda dariku. Sempilan yang mereka isi dengan ransel. Kuminta sempilan itu untukku, pas. Tasnya kemudian mereka pangku. Ada banyak tas di sisi mereka, gendut-gendut, khas orang yang sedang bepergian jauh untuk waktu tertentu. Nona di sebelah kiriku bertanya, stasiun mana yang lebih dekat ke Mabes Polri Depok. Mabes Polri? Depok?

Percakapan kami dimulai. Nona di kanan-kiriku ini adalah mahasiswa asal Surabaya. Mereka apply magang di kantor Kepolisian Depok. Aku nggak inget itu namanya Polres, Polsek, Pol apalaah.. Aku nggak tau bedanya malah. Yang aku kenal benar cuma satu jenis polisi. Namanya Polisi Tidur.

Nona-nona itu menanyakan stasiun UI. Mereka disuruh turun di sana katanya, lalu sambung angkutan. Aku bilang, turun bareng saya aja, saya bisa turun situ kok. Ikatan baru, ikatan yang membuatku ingin ke kosan dulu sebelum ke tempat tujuanku. Ikatan yang memanggilku meminta sempilan ruang yang menyela mereka berdua, yang konon sebelum aku duduki telah jadi singgasana bagi sebuah tas ransel milik salah satu nona itu.

Ikatan ini menelantarkan obrolan kami kesana-kemari. Tempat beli oleh-oleh, tempat makan kerak telor, naik kereta apa kemana, harga tiket kereta ke Surabaya, jurusan Pendidikan Kedokteran Hewan UNAIR (yang menginspirasi mereka untuk main dengan anjing pelacak Kepolisian Depok), jam berapa berangkat dari stasiun apa, hingga nama dan bertukar nomor ponsel (aku penasaran, magang di divisi anjing pelacak kekira ngapain yak?), daaannn seteeeruussnyyaa….

Aku ikut turun bersama mereka di stasiun UI. Sudah lama sekali aku nggak turun sini. Aku bahkan baru tau kalau pintu keluar stasiun fix menggunakan jalur jebolan tembok di belakang halte stasiun UI. Oh Nona, kamu pasti sudah tua sekarang… -_- Lalu ikatan takdir itu bekerja lagi. Aku tapping keluar, dan di mesin ATM sisi kiri gerbang tapping, berdiri seorang teman lama. Kita teriak-teriakan memanggil nama dan persis seperti para Teletubbies itu, kami berpelukan. Ikatan yang tak dinyana menyampirkan kami dari satu halaman ke halaman takdir yang lain. Percayakah? Beberapa hari ini aku sedang mengingat nona yang kutemui di depan mesin ATM pagi ini. Sebenarnya aku mengingat dua orang. Tapi nampaknya, Tuhan memilih nona yang ini duluan untukku kutemui. Adalah, satu dua percakapan yang ingin aku buka dengan nona ini. Selangkah demi selangkah, kita lihat sejauh mana kita bisa berjalan.

Aku berpisah dengan dengan nona di depan mesin ATM, melanjutkan ikatan sebelumnya yang mempertemukan aku dengan lima anak UNAIR yang datang untuk magang di Kepolisian. Satu lelaki dan sisanya perempuan. Aku menemani mereka berjalan hingga dapat angkutan. Selesai. Ikatan babak satu selesai. Masih kontak via watsap, hingga pagi ini. Tidak tahu akan sepanjang apa ikatan ini berlangsung. Panjang boleh, sekian juga boleh. Seru aja kalau bisa ikutan main ke Surabaya. 🙂 suatu kali nanti.

Dan ikatan dengan nona di depan mesin ATM itu, rencananya akan berlanjut sore ini. Senang rasanya ketemu sama dia. Ada satu dua hal yang perlu diceritakan. Ada satu dua hal yang perlu diingat-ingat. Pelan-pelan.

*ada apa sebetulnya dengan KRL dan tapping gate-nya. hihihi… suatu kali di beberapa waktu yang lama berlalu, juga begini. turun KRL, di tapping gate. tapping gate. huff…

Minggu, 11 Januari 2015

Wisma Ella kamar 6b.

anggun nadia.