Harus Dimulai!

Standard

Adakalanya kita hanya harus memulai.

Aku sampai pada titik dimana aku dibuat harus memulai. Kalau saja aku dibiarkan sendiri, aku mungkin takkan punya cukup alasan (dan/atau keberanian) untuk memulai eksplorasi ini. Kali ini, aku dibuat sampai pada titik dimana, aku menjadi sepakat untuk mencoba. Dan karena sudah sepakat, mau tak mau jalani saja, bahkan ketika pun belum terlihat arahnya mau kemana.

Aku sedang menulis, sebuah tulisan yang kubiarkan saja dimulai tanpa rencana. Kami membiarkannya mengalir. Bukan, bukan isi ceritanya, tapi prosesnya. Entah nantinya mengambil bentuk apa, sejelek apa, biarlah proses mendapatkan porsinya. Kadang untuk memulai, satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah: memulainya.

Secara kualitas, aku bermasalah dengan tulisan itu. Tulisan itu kedengaran setengah mengarang, dan dipaksakan ke dalam sebuah format. Semacam menjejalkan batu yang banyak ke wadah kekecilan. Atau dalam kasusku, semacam memakai celana yang kedodoran, dengan tulisannya sebagai kaki dan bentuk tulisannya sebagai si celana. Terlalu sedikit untuk menempati ruang yang agaknya keluasan sedemikian rupa.

Tapi sebagian dari diriku mengakui, bahwa tulisan itu adalah metamorfosis yang hebat dari data-data yang singkat. Dari situasi lapangan yang tak memadai, dari ketiadaan prior knowledge di kepalaku tentang bidang yang harus kugarap saat itu. Tulisan itu adalah upaya terbaik kami saat itu : memberi bentuk pada bongkahan tanah liat yang kualitas wujud dasarnya tak seliat namanya. Karenanya, meski secara kualitas sangat jauh dari sempurna, bagiku tetap, prosesnya bermakna dan karya ini berharga. Ini yang pertama, yang mengganti ketiadaan menjadi ada. Bukankah dalam di awal penciptaan manusia, semua manusia tidak serta-merta punya tulang dan mata.

Aku memutuskan untuk memberi kesempatan pada kami untuk berproses. Kami yang tak lain kurujukkan pada diriku, karyaku, dan kualitas karya itu. Hanya harus dimulai, karena tanpa memulai tak ada yang perlu aku evaluasi. Dan karenanya, tak kan ada pula modifikasi, inovasi, maturisasi, improvisasi, dan perkembangan itu sendiri. Untuk bertumbuh kembang kita perlu memulai.

Dan berbesar hati.

Bahwa ternyata kualitasnya tak lantas sebaik harapan kita. Bahwa ternyata kita belum setangguh yang kita kira. Bahwa ternyata ada banyak celah yang tak tertambal dan kita terlalu lelah untuk menambalinya. Bahwa ternyata dengan pahitnya kita harus mengakui: kita bahkan belum memenuhi harapan kita sendiri.

Pahit. Tapi di antara kepahitan itu kita bertransformasi.

Perjalanan tulisan ini memahamkan aku akan satu hal baru. Ternyata teman karib berjuang untuk “tidak menyerah” dan “bersungguh-sungguh”, tak lain bernama “berani untuk memulai”. Itu teori lama yang orang-orang sampaikan sejak dahulu kala. Tapi bagiku titik pemahaman ada di level yang beda. Sekedar tahu tak tentu paham. Dan proses yang sedang kami (aku, tulisanku, dan kualitas karyaku) jalani sekarang, membantuku menjadi lebih paham. Sedikit. Masih sedikit. Semoga lama-lama mewujud ia menjadi bukit.

 

05.32 WIB, 12 Januari 2018.

Yang sedang mencatat,

Anggun Nadia Fatimah.

Advertisements

Diantara Pencarian-Pencarian

Standard

Sementara orang bilang “rejeki harus dicari” dan “rejeki harus dijemput”, baru-baru ini aku ketemu orang dengan perspektif yang agak-agak jarang kedengaran. Katanya, “rejeki itu amanah, mesti dikelola dan disampaikan kepada yang berhak sebagaimana mestinya.”

Kalau saja orang ini berhenti di kalimat ini aku akan berpikir, “oh… iya memang begitu kan ya. Selalu ada hak orang lain dalam rejeki kita.” Sayang dia melanjutkan, hingga pikiran di kepalaku itu pun terlanjur terhentikan.

Waktu itu orang ini bilang, “Karena rejeki sudah ditetapkan, mungkin amanah kita sesungguhnya bukanlah mencari rejeki sebagaimana orang-orang katakan. Aku berpikir jangan-jangan, amanah kita itu sejatinya adalah mengelola dan mengalokasikan rejeki. Jadi Tuhan itu penjamin rejeki kita, sementara kita adalah perpanjangan rencana Tuhan untuk menyinambungkan usia semesta.” Dia juga bilang, “Aku percaya kita semua lahir dengan mengemban peran. Dalam pentas yang kita kenal sebagai hidup, Tuhan adalah penulis skenario, sutradara, sekaligus produser cerita hidup kita. Dan masing-masing kita hanyalah aktor-aktor yang memerankan sesuai alur yang Tuhan tetapkan, mungkin dengan sejumlah kebebasan berimprovisasi. Tapi  jalan kita, peran kita, adalah peran yang menjadikan kita sebagai ‘aktor A’ yang mesti dilahirkan ke semesta. Spesifik, purposif, non identik.”

Orang ini mengingatkan aku pada secarik kertas yang kulupa sudah dahulu kubaca dimana. Tapi aku ingat aku memotretnya. Potongan tulisan Shakespeare, yang isinya renungannya si penulis soal keberadaan manusia dalam hidupnya. Mirip-mirip dikit sama perspektifnya si orang yang lagi merenung tentang rejeki itu. Mungkin dia pernah baca, atau mungkin pernah dengar yang serupa. Entahlah. Aku sedang belajar untuk tidak repot-repot mengkonfirmasi segala hal. Biar mengalir saja. Mencair sebagai air. Terlupakan sebagaimana air-air di selokan. Nanti jikalau sampai ke hutan-hutan dan tercucikan, nanti jikalau sampai ke samudera dan kembali menjadi hujan,  nanti juga berubah jadi tumbuh-tumbuhan, mekar jadi bunga-bungaan.

Waktu itu Shakespeare bilang,

All the world’s a stage,

And all the men and women merely players,

They have their exits and their entrances,

And one man in his time, plays many parts, ...

Aku berpikir, mungkin renungan si orang ini ada benarnya. Manusia memang bertebaran mencari rejeki, tapi bukan karena mereka ditakdirkan sebagai mesin pencari. Melainkan karena mencari rejeki itu adalah bagian dari siklus hidup yang sudah didesain untuk memastikan manusia tetap hidup sedemikian rupa hingga waktu yang ditetapkan oleh Tuhan buat kita. Dan ada baiknya memandang positif renungan ini, bahwa benar juga, jangan-jangan manusia itu amanahnya lebih ke  soal alokasi, yakni untuk jadi agen-agen yang Tuhan kirim untuk menjamin kelangsungan hidup sendiri sebagai aktor, sekaligus juga mengambil peran dalam hidup orang lain dan dalam desain besar bernama hidup itu sendiri.

Bila amanah kita adalah alokasi, maka menjadi penting juga buat kita untuk tidak sekadar memiliki/memperoleh rejeki. Tapi juga untuk menyampaikan rejeki itu kepada pihak lain sebagaimana Tuhan senangi.

Hipotesis.

Orang bilang hipotesis itu abstraksi yang masih mentah. Pun mentah biarlah, toh tidak ada yang salah dengan mentah. Yang salah itu kalau kita yang menganggap mentah itu sama dengan matang, alias menerima mentah-mentah hipotesis orang sebagai kebenaran. Aku pribadi percaya, hipotesis nggak selamanya benar, nggak selamanya perlu bernilai benar. Hipotesis adalah tanda sebuah perenungan memasuki tahap perenungan yang lebih dalam.

Hidup adalah perjalanan merindukan kesimpulan. Mencari closing yang melegakan hati, sedari samudera, ke gunung, hingga sesat di hutan-hutan. Hidup adalah perjalanan mencari kesimpulan, yang sayangnya acapkali terlupakan : sebuah tempat untuk pulang, sebuah tempat yang penuh kedamaian, sebuah tempat yang mengindikasikan pertemuan hati dengan kebesaran Tuhan.

 

11.59 WIB, pas banget mesjid sebelah mulai Adzan.

11 Januari 2017,

Anggun Nadia Fatimah

Aryou Arya(?!)

Standard

“Kalau anak baik itu daratan dan anak nakal itu lautan, saya di pantainya, Bu.” (Arya Pradipta, 2018)

 

Arya itu murid saya waktu masih main-main di sekolah alam. Waktu ketemu dia, dia masih kelas 5 SD, sekarang udah mau UN SMP. Tahun berlalu cepat ya. Arya manis dikit lagi bertransformasi jadi Arya ganteng, lengkap dengan branding “Aryou”-nya di blog pribadinya dia. Di blog itu, dia menyebut dirinya “Aryou!”

 

Si Arya ini paling pintar di kelasnya. Pintar, cerdas, cekatan, pemberani, tapi santun. Curiositynya tinggi. Dia dibesarkan oleh sepasang orangtua cerdas yang cerdas dalam mencerdaskan. Rasa ingin tahu Arya dikembangkan, instead of dimarjinalkan dan dianggap nggak penting. Pufff… Jadilah Arya The Explorer yang percaya diri dan punya sudut pandang meyakinkan dalam hidup, padahal baru kelas 3 SMP. Ah man,  you should know this kid!

 

Sedari Arya lulus hingga beberapa hari lalu saya belum ada kontak lagi sama Arya. Tempo hari setelah mampir ke laman instagramnya Arya, yang menyediakan link ke blognya dia, saya pun menghubunginya. Semacam, “Arya! Aku mampir ke blogmu, dan aku menikmatinya!”  begitu. Buat yang nggak kenal Arya, mungkin itu blog biasa aja. Tapi karena itu blog memang Arya banget, alias sudut pandangnya doi tuh emang kuat, rasanya jadi kaya ngeliat Arya langsung, kaya ngedengerin Arya cerita kaya dulu. Kangen Arya jadinya.

 

Kami mengobrol pendek di direct message instagram, karena memang udah nggak punya nomor Arya atau nomor orangtuanya Arya di ponsel. Maafkan, ponsel saya memang acapkali hilang atau rusak. Semoga ke depannya lebih sehat dan jarang kena kasus lagi ya, hehe.

 

Sampailah saya pada pertanyaan, “gimana SMP? Seru?” Arya pun bilang, “seru, seru..! Masa transisi, anaknya nakal-nakal.” oiya, saya belum bilang. Arya ini kecerdasannya dan penguasaan bahasanya di atas rata-rata.  Jadi dia paham tuh sama istilah-istilah rumit dan logika yang lebih rumit dari yang kebanyakan anak usianya pahami. Bukan baru ya, sejak dulu. Sejak SD. Ngobrol sama Arya itu imajinatif tapi presisi. Dia tau apa yang dikatakannya, dan tau bagaimana menyampaikannya. Dia kanak-kanak yang berpikiran dewasa, dan mendewasa sembari menyimpan citarasa manis kekanak-kanakannya.  Always love Arya!

 

Arya itu beda. Iya, dia punya citarasa. Sementara kanak-kanak lain (waktu saya masih guru kelasnya Arya) kalaupun pintar palingan jago ngafal atau rajin baca sehingga cakap jawab  pertanyaan ujian, Arya was in different level. Dia bisa ngafal, bisa baca buku, bisa berpikir logis dan mengemukakan alasan rasional, dia bisa jawab pertanyaan ujian dengan baik dan benar. Tapi bukan itu yang saya suka mati-matian dari Arya. Dia itu, punya stand point! Dia  mengembangkan sudut pandangnya terhadap dunia. Dia punya opini dan opininya berlandas pada konsep logis dan etik di kepalanya dia, jadi nggak sembarang opini alias opini asal bunyi.  Arya is smart! Oiya, dia juga jago gambar. Jago bikin komik srip. Hihi. Haha. Maaf ya, saya memang penggemarnya Arya. Walaupun pada dasarnya saya menggemari banyak anak-anak, karena dari mereka ada aja yang luar biasa keliatannya buat saya. haha. Norak.  Biarlah. Toh jujur ini.

 

Kembali ke obrolan dengan Arya. Melanjutkan pertanyaan, saya pun menulis, “waahh seru tuh masa transisi, jadi warna-warni. Ikut nakal-nakalan nggak?”  Ini pertanyaan iseng, toh saya kenal Arya kan. Meski manusia berubah, orang yang stand pointnya berlandas konseptuasi logis-moril-relijis dan punya karakter kuat kaya Arya, nggak akan gampang tergoyahkan. Terpengaruh mungkin, tapi nggak lantas kehilangan identitas. Seneng aja gangguin Arya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan well, sebagaimana biasa saya justru yang belajar banyak dari kanak-kanak (yang notabene udah jadi ABG kini hari), saya nggak menduga jawaban ini meluncur dari Arya.

 

“Kalau anak baik itu daratan dan anak nakal itu lautan, saya ada di pantainya, Bu.” (Arya Pradipta, 2018).

 

See? Jawaban non mediocre.

Buat saya yang sempat dua tahun main sama anak-anak SD, ini jawaban nggak standar. Ada banyak anak imajinatif yang saya temui. Tapi yang paling menyenangkan itu kalo nemu anak pintar, imajinatif, dan berhati baik. Ya yang model-model Arya, Syauqi, Panglima. Haha. Mereka anak-anak berhati lembut dan manis. Heads in the cloud tapi logis, rasional, santun, tapi tetep nakal. Lucu kan…? Hahahah….

 

Jawaban Arya itu imajinatif banget. Imajinatif, alegoris, asosiatif, dan di saat yang sama presisif deskriptif. Manis. Jawaban Arya jadi semangat saya pagi ini. Bahwa di antara kacau balaunya dunia persilatan, ada saja satu dua bibit-bibit harapan. Arya nggak cuman bilang kalau dia anak tengah-tengah. Tengah-tengah bagi sebagian orang adalah jawaban aman. Tapi bagi sebagian orang lain, semoga Arya salah satunya, ya memang itu posisi pilihan. Karena adanya alasan-alasan, yang nggak sekedar cari aman, atau cari banyak teman. Itu perspektif, sekali lagi itu perspektif. Buat yang memilih jalan di kanan aja atau di kiri aja, percayalah, Insya Allah kita tetap bisa saling menghormati. Okey? No hard feeling ya. Don’t ever forget ya, we’re not The Judge.

 

Membaca Arya mengingatkan saya, ada terlalu banyak pikiran yang saya hambat di kepala saya. Itu kenapa ada banyak tulisan saya yang gagal selesai. Ada banyak kata-kata yang saya ketik kemudian saya hapus dan akhirnya menyerah, nggak dilanjutkan.

 

Kita perlu mengalir, Anggun. Membiarkan isi kepala kita bertaburan. Kita bukan pelita yang lahir untuk menerangi dunia. Kita cuman manusia bukan setengah dewa, kalaupun berlaku salah itupun manusiawi. Kalaupun merasa lemah itu pun bisa dimaklumi. Kalau bingung, bilang aja bingung. Persis seperti Arya yang mengomentari kids jaman now yang boncengan bertiga pergi ke taman. Kalau nggak suka bilang aja nggak suka. Tetap santun aja. Cuman ya gitu, nggak usah dihambat. Biarkan mengalir. Karena menulis itu bukan untuk orang lain, Anggun. Tapi lebih untuk diri kita sendiri. Untuk mengalirkan emosi, untuk menceritakan pikiran-pikiran yang rumit kelelahan, untuk membicarakan mimpi-mimpi dengan diri kita sendiri. Dengan semua wacana itu, kita menjelma jadi diri kita yang terbarukan. Apudetto, kalo kata Sabao.

 

Dengan ini saya menyatakan, saya off dari editan. Ingin membiarkan lepas ke alam, semua yang bertujuan maupun yang iseng ingin saya lepaskan. Dengan ini, saya masa bodoh dengan pikiran orang-orang. Kalaupun orang lain nggak sepakat, ataupun enggak ngerasa dapat manfaat, mohon maaf saja. Anggap saja ini surat buat diri saya sendiri sepuluh tahun lagi. Saya hanya ingin mengapresiasi, kelabu sebagai kelabu, dan biru jingga sebagai biru jingga. Walaupun orang bilang saya buta warna, nggak papalah. Setidaknya saya jujur, benar kelabu itu dan benar pula biru jingga itu, warna yang saya pahami lewat mata kepala saya (yang mungkin bagi sebagian orang masuk kategori buta warna itu). Kita tidak bisa menjaga semua pihak senang selamanya. Tapi kita selalu bisa memilih untuk jadi diri kita apa adanya, selamanya.

 

Salam,

Dari dia yang mencintai pikiran kacau-balaunya.

05.18 WIB, 4 Januari 2018.

Anggun.