Orang Aneh dan Salah Satu Cita-Cita Anehnya

Standard

img_20171209_16125494055569.jpg

 

Beberapa kenalan saya ingin punya bisnis online. Ada juga yang bilang maunya punya warung makan. Ada yang ingin jadi tukang rias wajah orang. Saya? Saya makhluk planet yang ingin punya laundrian.

Entahlah.

Rasa-rasanya saya menikmati sensasi damai saat mengucek pakaian, meski tentu saja sebuah laundrian tidak memanfaatkan energi kucekan tangan.

Saya suka bau harum deterjen, bau bunga-bunga. Rasanya damai, seperti jalan di taman saat bunga-bunga bermekaran, nun, di suatu pagi yang masih menyisakan embun.

 

Dulu kala, saat masih kuliah, untuk alasan organisasi maupun pelajaran seringkali saya pulang malam. Pernah kala itu, selama kurang lebih sebulan baru jam 11 malam saya ada di kosan. Rehat sebentar, mandi dan cuci, shalat  isya, baru tidur. Ditambah ngerjain sisaan tugas jikalau kurang beruntung. Bulan itu adalah masa pertama kali saya ingat rasa damai mencuci baju tengah malam. Sepertinya penat seharian ikutan luntur bersama noda dan kotoran. Menyisakan lega, “oh, satu masalah sudah selesai rupanya.” Semacam itu sensasi di struktur hati saya. Aneh memang. Tapi itu ingatan yang menyenangkan.

 

Di lain kesempatan pikiran saya sedang penuh dengan beban. Mencuci dan menyeterika adalah selingan santai untuk merunutkan pikiran. Kalau sedang suntuk, ingin hati menyelesaikan tugas namun apa daya pikiran tak kunjung fokus, mengalihkan perhatian ke tumpukan baju siap seterika seringkali sangat menolong buat saya. Menyetrika itu membuat licin, menjadikan lurus perkara-perkara kusut di kain dan di kepala saya sekalian. Kebetulan saya bukan pengguna pelicin-pewangi-pelembut jadi satu seperti di iklan-iklan. Dulu sih pernah, sampai saya menemukan bahwa harum pewangi pakaian semisal Do**ny atau M***to lebih cocok di penciuman saya. Alih-alih merendam pakaian dalam pewangi, saya melarutkan pewanginya ke dalam semprotan pelicin pakaian. Wanginya lebih enak, bikin saya senyum-senyum sendiri sambil nyetrika. Damaaai sekali rasanya.

 

Rasanya lega dan sekali lagi lega, tiap kali menyaksikan pakaian kotor yang berproses jadi rapi dan wangi. Entah sejak kapan, rasa-rasanya saya ingin punya laundrian. Impian remeh yang tercipta di atas rasa senang menyelesaikan persoalan. Sepertinya akan menyenangkan, membantu orang mengatasi masalah harian : ketiadaan waktu luang, energi yang terkuras, dan pikiran yang kontan tumpul saat melihat tumpukan pakaian kotor di pojok ruangan. Plus, saya punya akses penuh bergelut  merapikan yang kusut-kusut. Salah satu jenis obat mujarab di kala suntuk.

 

Ahh… Saya selalu bahagia saat mengambil pakaian dari laundrian. Haruumm… Bau laundrian itu selalu haruummmm…. *walau parfumnya gak selalu cocok juga sih.

 

Inilah satu cerita kecil tentang saya dan preferensi saya.

Saya alien yang tidak suka hal-hal besar gegap gempita riuh tepuk tangan. Saya makhluk kecil yang menikmati hal-hal kecil, renik yang tidak kelihatan. Sederhana, yang penting punya makna, setidaknya dalam pandangan saya.

 

Sebagian diri saya ingin menulis lebih panjang.

Tapi saat ini, saya sedang tersenyum dengan pikiran yang dipenuhi antusiasme sebuah kalimat, “saya ingin punya laundrian!”

 

Sungguh manusia adalah makhluk yang beragam,

10.54 WIB, 28 April 2018

Anggun Nadia.

Advertisements

Di Atas Gelombang

Standard

Ada beda yang nyata ketika antara pelaut yang mengayuh dengan sampan dan pelaut yang mengemudi di belakang navigasi sebuah kapal Ferry.

Di bawah cuaca yang sama dan kondisi laut yang sama, pengayuh sampan dan pengemudi Ferry merasakan sensasi mengarung laut yang berbeda. Saya tidak sedang memukul rata pengalaman manusia. Hanya saja, secara logika rasa-rasanya jelas dua jenis pelaut itu mengarung laut dengan sudut pandang yang beda.

Sama halnya dengan kita dan hidup yang kita jalani. Sebagian orang dikaruniai ‘sampan’ dan sebagian lain dikaruniai ‘ferry’. Tentang satu hal seseorang dimodali  Tuhan dengan sampan, namun di lain soal orang tersebut Tuhan pinjamkan Ferry.

Sampan dan Ferry adalah jenis tunggangan beda modal beda kapasitas. Keduanya juga menghasilkan pelaut dengan beda kapabilitas. Nahkoda Ferry memiliki keterampilan, secara teknis Ferry lebih sulit dikendalikan bila pengendalinya tak memiliki pemahaman yang memadai. Pengemudi sampan juga punya keterampilan. Secara teknis sampan lebih mudah dikendarai. Sepintas urusannya hanya sebatas kayuh dan pahami arah yang benar dalam mengayuh. Itu sudah. Tapi di atas lautan, pengemudi sampan menemukan wujud asli monster yang perlu ia taklukkan. Bukan sampan, tapi laut itu sendiri.

img_20180429_191323_646-230904798.jpg

 

Baik sampan dan Ferry punya fungsinya sendiri. Tak ada Ferry di sungai, dan jarang sekali sampan di lautan bebas. Tapi sampan bisa berlayar di laut, dengan sedikit keharusan dan keterpaksaan.

Terpaksa memang, tapi dalam nyata kehidupan, seringkali sejenis sampan Tuhan arungkan di lautan. Bukan untuk menguji kehebatan sampan. Tapi untuk menghasilkan pengemudi andalan. Mereka yang bisa bertahan di lautan hanya dengan sampan, idealnya punya potensi keberhasilan yang lebih besar manakala mesti mengemudi sampan di sungai, atau belajar menjadi nahkoda Ferry.

Ini hanya analogi. Mohon jangan merisaukan diri dengan menyebut tingkat pendidikan, sekolah khusus pelaut, dan sejenisnya. Bukan hal teknis yang kita bicarakan di sini. Analogi ini adalah tentang kita, kehidupan kita, sumber daya yang kita kelola dalam hidup, dan cara kita menghadapi hidup.

Ijinkan saya menggunakan catatan ini sebagai sarana refleksi. Saya hanya sedang berpikir, adakalanya manusia merasa lelah dengan hidup ini. Lelah lantaran sebagian orang Tuhan modali dengan Ferry, sementara sebagian lain mesti memasuki lautan dengan sampan. Kenyataan berakhir dalam hitungan mil tempuhan. Mereka yang berangkat dengan Ferry sudah hilang dari pandangan mata, sementara pengguna sampan seperti satu dua orang di antara kita bergerak merangkak dari dermaga.

Tapi di situ uniknya. Jika saja Tuhan beri kita Ferry terlebih dahulu, mungkin kita tumbuh jadi pelaut yang gampang merengek. Segala fasilitas yang ada di Ferry membuat kita jadi manja. Bahkan mobil, bis, dan truk bisa dibawa dengan Ferry. Dengan skenario ini, jika suatu hari kita terpaksa turun ke sampan di laut antah berantah, sangat mungkin sepanjang sisa perjalanan kita gagal mengambil pelajaran. Alih-alih mengayuh dan mencari cara sampai ke tujuan, kita mungkin menghabiskan waktu dengan cacian, dengan prosesi panjang membandingan agungnya Ferry dengan kemiskinan sampan. Belum lagi tentang potensi tenggelam lantaran porsi cacian yang lebih besar dari porsi kayuhan.

Keterampilan yang diperoleh dengan sumber daya yang matang kadangkala gagal mematangkan kebijaksanaan, meski tidak selalu demikian. Mungkin karena melangkahi proses memasaknya, sehingga sensasi cemas menunggu vonis sukses atau gagalnya terlewatkan. Padahal, di jalan kebijaksanaan, proses-proses ini adalah proses yang penting untuk dialami.

Di atas sampan ini mungkin Tuhan tidak ingin kita terjebak dengan manisnya hasil. Mungkin, Ia lebih ingin kita memahami manisnya proses, hingga tiap kayuhan dan tiap hempasan ombak menjadi teman bukan lagi lawan yang mencemaskan.

Cerita tentang Ferry dan sampan tidak membicarakan satu aspek sumber daya. Ini mencakup banyak aspek kesempatan. Tidak hanya metafora finansial, melainkan juga metafora atas waktu, atas keterhubungan, atas kesempatan, kepercayaan, ketersediaan mentor, lingkungan dan persahabatan, kekuatan mental dan pikiran, atas keunggulan fisik dan daya tahan, atas kejujuran, atas nilai keluhuran yang dijunjung masing-masing orang. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ini dialog nan panjang. Tidak usah risau memberikan batasan. Biar seperti ombak di laut, diayun dan mengayun dengan mekanismenya sendiri. Memberi arti adalah juga sebuah proses. Pemahaman kita akan definisi juga berkembang dari masa ke masa. Ferry dan sampan biarkan jadi sebuah metafora. Semoga setiap Ferry menjadi optimal dalam fungsinya: mengantar manusia menuju mil demi mil yang lebih sempurna, dan semoga tiap sampan di laut menemukan hakikatnya: mengantar manusia menemui ketangguhan yang lebih sempurna.

 

24 April 2018,

21.06 WIB

Anggun Nadia

Balon Nitrogen

Standard

Dalam hidup, kita berpapasan dengan banyak orang. Sebagian diantaranya menitipkan mimpi mereka dalam sebuah balon nitrogen. Menggelembung penuh, untuk diterbangkan jauh.

Kata mereka mimpi-mimpi ini suatu kali akan menyentuh awan. Mereka percaya, lebar jarak antara tanah dan langit itu selebar keyakinan, kekuatan harapan, dan pantang menyerahnya usaha. Orang-orang dengan kepala dan hati yang penuh mimpi. Orang-orang yang menyerahkan angan pada balon gas dan membiarkan mengudara. Lepas hingga tak nampak dari tempat mereka berpijak.

Aku ingin bilang. Cerita balon gas hebat sekali di telingaku kedengaran. Meski aku punya sebagian hati yang melihat, bahwa balon gas tak selamanya asosiasi yang ideal dan tepat. Acapkali mimpi butuh kaki. Butuh pijakan yang jelas. Butuh tangga untuk sampai di level selanjutnya. Butuh diinisiasi, tapi juga butuh  motivasi dan tujuan tegas  bukan ilusi.

Maka biarlah. Sebagian mimpi berdesakan dalam satu dua balon nitrogen yang terbang ke udara. Dalam lampion merah yang dibakan oranye ketika imlek. Biar direngkuh angin dan dipecahkan bersama hujan dan pelangi. Aku titip salam buat awan dan bintang.

Dan pun marilah. Sebagian mimpi yang lain, yang lebih mudah  diberi kaki, kita beri kaki. Agar berpijak pada bumi dan naik setangga demi setangga menuju level yang lebih tinggi. Meski bukan awan atau matahari. Meski hanya menjangkau hingga setinggi beberapa lantai, itu pun tidak apa. Karena mimpi-mimpi itu beragam sekali wujudnya. Dan tak melulu sama cara untuk mencapainya. Sebagian hadir untuk diupayakan. Sebagian diilhamkan untuk diwujudkan. Dan sebagian lagi, mungkin, hanyalah sebuah cara bagi manusia, untuk berdialog dengan harapan.

 

06.07 WIB

Senin, 19 Februari 2017

Anggun Nadia.