Tentang Si Gadis Setengah Waras

Standard

Mungkin otak gadis ini korslet sewaktu praktek di kelas elektro saat SMP. Mungkin juga terjangkit virus lokal yang melumpuhkan satu spot kecil di kepalanya, spot untuk bertindak secara biasa. Spot yang memungkinkannya berpikir sebagaimana mestinya, atau setidaknya menurut lumrahnya model pikiran orang-orang di sekelilingnya.

 

Atau mungkin aku yang korslet tiap kali berusaha memahaminya. Gadis ini unik. Dia hidup di dunia yang sama denganku, dibesarkan dengan kelumrahan masyarakat pada umumnya, tapi kemudian memilih jalan yang tidak ada jalannya. Dia menyukai tebing. Bukan karena tinggi dan menantang rasa takut seperti perasaan sebagian orang. Tapi karena di tepi tebinglah terbentang jurang-jurang. Bukan pada tebingnya. Tapi pada jurangnya. Gadis ini tak sepenuhnya waras. Cuma orang gila yang terobsesi pada jurang. Pada ketidakmungkinan.

 

Gadis Setengah Waras ini berjalan sebagaimana orang lain berjalan. Jikalau kau tak langsung menatap matanya lekat, tak sempat mendengarnya bercerita naik turun belok kanan kiri terantuk jatuh bangun lagi untuk kemudian guling-guling dalam imajinasi. Kalau saja kau tak sial menemuinya saat menjalani ritual mimpi siang bolong, mengoceh tentang asal usul kemerdekaan dan berteori tentang kemungkinan-kemungkinan, kau akan sepakat dengan kebanyakan orang: dia gadis biasa, dengan wajah manis dan pandai berkata-kata, cerdas dan cukup bagus IPKnya, juga suka menyapa sekalipun orang yang tak dikenalnya.

 

Tapi aku ialah aku yang membayanginya semenjak TK. Aku menyaksikan metamorfosisnya. Mengamatinya kala ia masih ulat yang berjuang jungkat jungkit menjangkiti daun dengan capitnya yang sempit. Menemaninya saat garis-garis halus mulai membungkus dan menyelimutinya hingga matahari pun terasa gelap. Aku di situ saat ia tercekat dalam kepompong, berusaha menembus dengan taring imajiner yang terbang duluan sebelum sayapnya terbentang. Aku adalah aku yang terus di situ. Dan karenanya aku berani bilang, gadis ini memang setengah waras adanya.

 

Namanya Ranum. Usianya seperempat abad sedikit lewat. Latar belakangnya tidak begitu penting. Tak perlulah diulas. Jangan sampai sedikit banyak kamu jadi tertular. Aku? Aku tidak tertular. Aku hanya bayangan, tak butuh pandangan hidup yang spesial. Tak butuh tempat dan lakon partikular.

 

Diantara semua hobinya, Ranum paling suka berteori. Menghabiskan usia dengan membaca kepingan informasi alih-alih membaca dari A sampai Z secara kronologis. Dengan begitu, dia jadi bebas menginterpretasi, begitu katanya.

 

Di antara semua ceritanya, Ranum paling ahli menganalogi. Melahirkan diksi-diksi fiksi. “Dunia ini tak suka kejujuran. Maka biarlah aku jujur dalam keterselubungan. Akan kulebur kenyataan-kenyataan dalam analogi fiksi.” Dia senang, menyesatkan orang dalam ceritera, hanya dengan begitu katanya, dia merasa dunia dan dirinya bisa bicara dalam bahasa yang sama.

 

“Hanya dalam ketidakmungkinan, katanya, kemungkinan-kemungkinan mendapatkan artinya.”

 

Gadis Setengah Waras : Episode Pertama,

17.52 WIB

14 September 2017

Advertisements

Proses

Standard

Setiap orang berproses, proses panjang yang porosnya milik masing-masing, tak terbandingkan. Ada yang sejak kecil sudah cerdas berempati, ada yang butuh sepuluh tahun untuk sekadar ‘melihat’ apa sih itu empati. Ada yang langsung bisa adaptasi dengan segala norma di lingkungan barunya. Ada yang butuh sejuta menit untuk sampai ke sana. Pun ada yang butuh setengah tahun atau setengah masa kuliahnya atau malah satu setengah dasawarsa selepas ia jadi mahasiswa untuk menamatkan bab yang dahulu belum dikuasainya. Bab-bab hidup. Beda-beda tapi nyata. Terlihat sekecil semut padahal esensinya lebih besar dari gajah. Proses.

 

Bukankah dalam memaknai hakikat peristiwa dalam tiap inci kehidupan juga sebuah proses. Proses yang kadang bahkan tak disadari dimulai sejak kapan dan berakhir pada kapan.

 

Fiuh… Lama rasanya, tidak menulis cuilan pikiran yang isinya wacana-wacana di kepala. Kemarin-kemarin banyak sekali mengoceh perihal satu dua hal yang berbeda. Nggak papa… Itu pun proses. Proses untuk memahami diri sendiri, menerima, beradaptasi. Evolusi.

 

Aku lagi nggak mau ngasih contoh. Ini pagi gula-gula yang cocok buat terbang di awang-awang. Orang lain nggak ngerti, nggak apa, kali ini maaf ya. Setidaknya.

 

Intinya, kita semua belajar dan makan waktu untuk memahami pelajaran-pelajaran kehidupan. Intinya, kita semua berkembang, menurut waktu mengitari poros berkali-kali, mengembangkan pengertian yang lebih organik: yang lebih kita, yang lebih menyatu dengan kekitaan kita – sudut pandang dan konsep yang melatarinya, begitu kata orang-orang.

 

Jadi baik itu proses. Baik, dengan segala dimensinya yang kadang terlalu samar dan mudah terlewatkan.

 

Mengerti itu baik, empati itu baik. Berkembang secara finansial itu baik. Berkembang secara intelektual dan mental juga baik. Bersabar itu baik, latihan syukur juga baik. Dan semisal ungkapan “di atas langit masih ada langit”, selalu ada lapis demi lapis kebaikan (pun ketidakbaikan ya..). Sabar itu ada tingkatannya, dalam aneka bentukannya, variasi formasinya, dan level intensitasnya. Begitu pun kebaikan lainnya. Proses. Memahami hakikat lapis demi lapis ini pun dengan proses. Yang pun belum selesai tentunya. Haha. Miris ya? Kalau semuanya berproses, maka di bagian mana kita bisa menyebut diri kita berhasil? Hehe. Mungkin, pemahaman akan itu pun perlu berproses ya… Semangat-semangat! Sejatinya kita nggak pernah sendiri. Dalam berproses pun, kita nggak pernah sendiri. Ini hanya tentang poros masing-masing yang beda. Hingga ada kalanya, kita tak sempat saling mengamati saja.

 

Proses.

Di antara proses-proses ini, ada satu proses yang sedang aku coba jalani. Kembangkan. Adaptasi. Semoga bisa terintegrasi ya, pada tahap berikut dan berikutnya. Aamiin. Semoga.

 

Kunamai ia, “sudut lain kita memandang”. Ya. Aku sedang belajar untuk mengembangkan pemahaman baik akan orang-orang, akan peristiwa, akan diriku sendiri pada akhirnya. Belajar untuk melihat dan mengutamakan kebaikan di atas kritikan. Belajar untuk bersabar dalam mengevaluasi dan mengalihkannya ke dalam: menjadikan evaluasiku untuk luar diriku sebagai bahan evaluasiku untuk diriku. Modifikasi tentu. Pengalihan sudut pandang. Karena kita nggak sempurna. Maka perfeksionisme kita pun butuh arahan.

 

Seseorang pernah bilang, “life is chaotic, you know?”

Sepakat.

Bahkan ketika kamu menjalani semua proses dengan baik, hasilnya belum tentu baik.

Oh ya! Aku percaya. Bahwa niat baik, amal  baik, akan berbuah baik : pada akhirnya. Iya. Insya Allah percaya. Hanya saja titik tekan ungkapan “life is chaotic” bukan pada pesimismenya, melainkan pada kesadaran, bahwa kita sedang bermain di atas DUNIA. Bukan surga. Kita bicara dunia jelang akhir masa. Baik nampak buruk, buruk nampak baik.  Berhala-berhala baru : uang, kuasa, pengaruh, cinta, dan segalanya yang tak mengantar kita pada pemahaman akan hakikat kehidupan. Dunia ini taman bermain, akan ada saatnya semua dari kita dipanggil pulang.

 

Life is chaotic, anggun.

Karenanya, apa salahnya bila sesuatu berlangsung salah, tergelincir keluar jalur. Masih mengherankankah?

Itu dia!

Titik itu. Titik penerimaan bahwa hidup ini penuh dengan kekacauan. Probabilita yang mengandung banyak kekacauan ketimbang keselarasan. Dan kita, manusia, sering saja tergoda-goda untuk ambil bagian dalam kekacauan yang menyenangkan.

 

Life is chaotic, anggun.

Pun gak sesuai, ya nggak papa. Pun gak ideal, mungkin memang demikian adanya.

Bukan, anggun. Bukan dunia yang harus diubah. Terlalu besar buat kita campur tangan di urusan yang bukan wilayah kita mencampurinya. Wilayah kita adalah diri kita, respon kita. Yang berdasar penuh pada dari sudut mana kita memandang. Sudut pandang yang tegak penuh di atas konsepsi apa yang kita yakini dengan hati dan kita nilai selaras dengan mata jiwa dan mata pikiran kita.

 

Life is chaotic, we have to deal with it.

Nggak semua proses baik berakhir baik di dunia ini. Hanya saja, kurasa kita masih boleh yakin, anggun, “bahwa semua yang berniat baik dan menjalani prosesnya dengan upaya paling baik, akan berkembang jadi orang yang lebih baik.”

 

Karena kebaikan bukan soal apa yang terjadi di dunia ini, bukan tentang peristiwa yang menimpa kita dalam hidup.

Melainkan tentang,

Bagaimana kita berkembang jadi pribadi yang lebih matang dalam menyikapi kehidupan.

Bilapun dunia ini nggak berakhir baik, semoga kita bisa pulang dalam sebaik-baik keadaan.

Bersama waktu, bersama pendewasaan. Setapak demi setapak. Mari belajar jadi lebih baik.

 

 

Membenahi letak keset di halaman,

07.35 WIB,

Kamis, 14 September 2017,

Anggun Nadia.

Di Pasar Tradisional

Standard

Tahukah kau, apa yang menarik dari pasar?

Ah ya! Benar, bahwa pasar itu ramai.

Tapi bukan itu.

 .

“Lalu apa?” tanyamu hari itu,

Di bawah gerimis yang kadang gagal menaksir harap lembar dedaunan.

 .

Aku suka pasar, karena di pasar berkumpul aneka cerita,

Tentang buah yang ranum, tentang wortel dan cabai yang tak selalu sama nada warnanya.

Pasar adalah pertemuan-pertemuan,

Adalah perbincangan antarkasta yang semula tak saling bersapaan,

Adalah kata-kata pendek untuk mendapat kemanfaatan yang lebih panjang,

“Lima ribu ya, Bang?”

“Wah! Belum bisa mbak,” kata si pedagang.

 .

Pasar adalah riuh rendah penuh debu dan lebur segala bau.

Jika beruntung, lewatlah kaki ini di lorong pedagang bunga atau pedagang kue yang baunya menggoda.

Kadang pada becek dan anyir kita terdampar,

Mencari kebajikan laut di pojok-pojok penuh orang tawar-menawar.

.

Di pasar tradisional, semua warna berkumpul.

Peduli apa kamu pakai baju hitam ataupun hijau.

Peduli apa kantung belanjamu bekas atau mahal.

Peduli apa kamu sekolah dimana, bayar berapa persemesternya.

Pun kamu petinggi negara,

Beli oncom di pasar tradisional, tetap saja kamu harus bayar!

.

Di pasar-pasar, lelaku manusia sesuai arah tujuannya.

Mencari kemanfaatan yang lebih panjang.

Pakaian, makanan, buah dan sayur, hingga parfum, dan kain kafan.

Aku suka suasana pasar.

 .

Tempat di mana beda pilihan tak selamanya masuk hitungan.

 ..

Sudut lain kita memandang, 21 Juli 2017

11.03 WIB

Anggun Nadia Fatimah