Category Archives: Cerita tentang Tuhan

In The Room of Consultation

Standard

Within the room of consultation I seek my refuge to you.

I asked your advice and nod to your prescription.

 .

It was white coloured one,

With a wooden table, and a pair of chair for those who are in the talk.

A well blooming pink flower stands in the corner,

Sends the accent of roses through the air that cover us talking.

 .

In the room of consultation I admit all my hesitations.

The doubtful feeling inside my chest,

Growing colder as time passes,

Make it harder for me to taste the fresh air.

.

In the room of consultation I tell you my secret.

The greatest one in which my spirit, my hope, and my sorrow so romanticly tangled.

I let out all the grievances of loosing the most wanted dream.

The hard feeling of seeing the people you love, off sailing.

.

In the room of consultation I look for medicine.

To ease the pain within which I am struggling.

My restless heart aching,

Echoing the sound of it’s moaning.

.

In the room of consultation I seek you.

Hoping you’ll show me the way to see the sun once again smiling,

That you’ll hand me hand to get a better breathing.

.

To you I seek refuge.

To you I come anyway while silently crying.

Cause I’m sure,

Talking to you need no words arranging.

..

Looking for Your Benevolence,

13.31 pm

July 23rd, 2017

Anggun Nadia

Terima ‘Kasih’…

Standard

Suatu kali, anak muda berjalan dengan wajah terlipat. Lalu orang-orang berkata padanya, “hei nak, berpikirlah yang ringan-ringan saja. Banyak-banyaklah bersyukur. Setiap masalah sulit bagi yang menghadapinya. Tapi lebih mudah jika dihadapi dengan pikiran yang lapang dan hati yang tenang. Taukah kau, nak? Tenang itu amat dekat dengan syukur.”

 

Anak muda yang tadi terhenti, kemudian tersenyum. Ia meneruskan perjalan sambil sesekali mengajak dirinya tersenyum. Pikirannya sibuk meniti. Mencari-cari penjelasan. Memang syukur itu seperti apa? Memang Tuhan itu inginnya manusia bersyukur dengan cara yang bagaimana?

 

Anak muda itu selalu yakin, setiap kita punya cara yang spesial untuk bercakap dengan Tuhannya. Anak ini sering sekali bertanya-tanya. Adaa saja yang melintas di kepalanya. Dia terus berjalan, dan tak semua dari apa yang pernah ia risaukan, dari apa yang pernah ia tanyakan, diingatnya dengan baik.

Tapi begitulah, tidakkah Tuhan tidak pernah lalai ingatan?

 

Bergumamlah langit mempertautkannya dengan seorang berjanggut putih berwajah teduh. Di sebuah surau, selepas mengambil air wudhu mereka bertemu papas. Panjanglah konon ceritera ini jadinya. Kemana-kemana dan entah kemana…

 

Anak muda yang senang bertanya itu mendapat teman yang menyenangkan. Orang tua berjanggut putih, berwajah teduh itu suka sekali berbagi pengalaman. Juga pandai memuji dan mendengarkan. Terciptalah kemudian sebuah percakapan. Anak muda teringat pertanyaannya dahulu waktu. Tentang syukur itu. Bertanyalah ia pada orang berjanggut putih, berwajah teduh itu. Tersenyum, mengangguk, menghela nafas setengah panjang, menutup mata, dan pak tua ini bercerita.

 

Adalah suatu kali didengarnya dari para tetua di desa tempat surau itu tegak berdiri. Nun, ketika itu dirinya pun masih anak muda, sedikit lebih muda dari anak muda si tukang tanya. Para tetua itu dengar juga dari tetua sebelumnya. Ah, panjang sekali rantainya.

 

Syukur itu konon katanya, adalah dengan sadar menghaturkan terima kasih pada Tuhan yang selalu baik dan murah hati.

Syukur itu konon katanya, ada dua macamnya. Yang pertama syukur yang mesti. Syukur ini mengambil bentuk ketaatan. Melaksanakan yang Tuhan perintahkan dan menjauhi yang Tuhan larang.

Macam kedua adalah syukur tambahan. Menyatakan wujudnya lewat perkara-perkara yang sunnah..

“Sunnah itu anak muda,” kata pak tua, “bukan sempit wujudnya. Iktikad baik itu sunnah, senyum yang tulus itu sunnah, berbuat baik itu sunnah, mencari ilmu itu sunnah, berkata baik dan menolong sesama juga sunnah,,, ah… Nak. Betapa luasnya…”

 

Masihlah panjang percakapan itu, tapilah cukup kusitir sependek ini saja.

Anak muda itu bersila sambil termangu-mangu. Rambutnya melambai-lambai ditiup angin. Surau yang hening jika jam shalat telah berlalu. Nanti akan ramai lagi selepas shalat ashar, anak-anak mengaji menanti maghrib.

 

Pak tua pergi, dan anak muda merebahkan diri. Menerawang sembari tersenyum-senyum untuk kesekian kali. Baru mengerti : oh,,, ternyata semua shalat itu, semua puasa itu, semua itu untuk bilang terima kasih pada Tuhan…

Ahh,,, indahnya, pikir si anak muda.

Lebih mudah baginya memandang ibadah-ibadah itu layaknya ucapan terima kasih yang sering sekali disampaikannya pada orang-orang.

Daripada mematut-matut kehendak, menyungut-nyungut,,, anak muda itu tak selalu suka kata ‘wajib’. Dia lebih senang perspektif baru hadiah mengobrol dengan pak tua : memandang ibadah sebagai rasa terima kasih.

Hari itu, dia tak muluk-muluk bercita-cita. Menengok ia ke beranda surau, memandang sebuah pancuran. Membasuh diri, lalu berangkat, untuk bilang pada Tuhan : terima kasih.

 

 

Lt. 2 Rafflesia, kamar 20

2 Desember 2012

12.20 WIB

Anadia Fatimah

Yang Tinggal Ketika Pergi

Standard

Suatu kali, seorang kakak dan seorang adiknya terjebak hujan di perjalanan.

Mereka berteduh di balik bayangan teras sebuah pertokoan.

Sembari mengusap wajah dan menepuk-nepuk bajunya yang basah mereka mengobrol.

 

Ad : “kak, aku mau kaya orang itu deh..”

Kk : “siapa?”

Ad : “mm.. Nggak tau namanya. Pokoknya, bu guru pernah cerita.”

Kk : “memang bu guru bilang apa?”

Ad : “dulu ada seorang paman yang meninggal lebih dulu. Di waktu hidup, paman ini menanam pohon rambutan di samping rumahnya. ”

Kk : “terus kenapa?”

Ad : “kata bu guru, paman itu meninggal sebelum sempet nyicipin rambutannya.”

Kk : “terus kenapa?”

Ad : “kata bu guru, enak jadi paman itu. Orangnya udah duluan, tapi kebaikannya masih ngalir sampe sekarang.”

 

Si kakak tercenung. Mengalihkan pandangan dari trotoar ke sisi kanan, memandang adiknya. Tercenung. Dua, tiga detik lewat….

Adiknya benar. Pergi dari dunia tapi hidup dalam kebermanfaatan yang tinggal. Cantik.