Category Archives: Cerita tentang ilalang

Kitapun Pada Akhirnya

Standard

img1527566263363-1238109895.jpg

Seperti gerbong-gerbong tua,

Yang ditinggalkan dan menjelma semacam hiasan.

Harapan-harapan yang tak tersampaikan,

Pelan-pelan menghilang di kejauhan ingatan.

 

Kita melupakan sembari kita berjalan.

Bertambah semil,  lupalah satu tahapan.

Kemudian, hanya yang benar-benar kita ikat dengan erat, yang akan tinggal dan menggema di sudut hati kita,

Selamanya.

 

Di antara yang tinggal itu pun sayangnya,

Bersemayam pula mimpi-mimpi penuh karat.

Diperjuangkan dengan hebat, untuk kemudian tertindas waktu,

Patah dianiaya kenyataan.

Upaya-upaya itu menguap,

Keringat menghilang, berganti bau asam yang menyengat.

Kita pun berpaling.

 

Adalah sebuah jembatan usang hampir putus yang ingin kusambung,

Dahulu, sebelum aku kalah oleh sembilu.

Antara aku dan orang yang mestinya sedemikian penting dalam hidupku.

Tapi aku kalah. Jembatan kayuku putus.

Tinggal  kupandangi dengan pasrah.

 

Hatiku patah,

Tapi yasudahlah.

 

Bukankah hidup harus berlanjut.

Mereka yang gagal paham biarkanlah.

Telah kubuktikan, menjelaskan seringkali percuma.

Arti hanya bermakna bagi mereka yang peduli.

Sayang seribu sayang, dunia dihuni oleh lebih banyak zombie yang tak paham apa itu peduli.

 

Aku kalah dan aku menyerah.

Aku pasrah, maka biarlah yang patah tetap patah.

Asalkan yang berdiri di ujung sana dan di ujung lainnya ini tetap bisa melanjutkan hidup.

Meski ada yang hilang, ada yang tak tersambungkan,

Setidaknya telah pernah kita cobakan.

Setidaknya telah puas segala sisi hati ini kita korbankan.

 

Di sini aku berdiri,

Pada akhirnya merelakan diriku untuk pergi,

Meninggalkan kegagalan yang tak terjelaskan.

Meninggalkan seraut pertanyaan yang tak kunjung membutuhkan jawaban.

Manusia senang sekali mencari tahu,

Manusia hanya sesekali lupa,

Bahwasanya dirinya sesekali perlu menyadari,

Di dunia ini, ada satu dua perkara yang tidak perlu dicari tahu.

 

 

 

Untuk perempuan yang tak  putus bertanya, “beberapa jawaban sesungguhnya tercipta dalam diam.”

10.41 WIB

29 Mei 2018

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Orang Aneh dan Salah Satu Cita-Cita Anehnya

Standard

img_20171209_16125494055569.jpg

 

Beberapa kenalan saya ingin punya bisnis online. Ada juga yang bilang maunya punya warung makan. Ada yang ingin jadi tukang rias wajah orang. Saya? Saya makhluk planet yang ingin punya laundrian.

Entahlah.

Rasa-rasanya saya menikmati sensasi damai saat mengucek pakaian, meski tentu saja sebuah laundrian tidak memanfaatkan energi kucekan tangan.

Saya suka bau harum deterjen, bau bunga-bunga. Rasanya damai, seperti jalan di taman saat bunga-bunga bermekaran, nun, di suatu pagi yang masih menyisakan embun.

 

Dulu kala, saat masih kuliah, untuk alasan organisasi maupun pelajaran seringkali saya pulang malam. Pernah kala itu, selama kurang lebih sebulan baru jam 11 malam saya ada di kosan. Rehat sebentar, mandi dan cuci, shalat  isya, baru tidur. Ditambah ngerjain sisaan tugas jikalau kurang beruntung. Bulan itu adalah masa pertama kali saya ingat rasa damai mencuci baju tengah malam. Sepertinya penat seharian ikutan luntur bersama noda dan kotoran. Menyisakan lega, “oh, satu masalah sudah selesai rupanya.” Semacam itu sensasi di struktur hati saya. Aneh memang. Tapi itu ingatan yang menyenangkan.

 

Di lain kesempatan pikiran saya sedang penuh dengan beban. Mencuci dan menyeterika adalah selingan santai untuk merunutkan pikiran. Kalau sedang suntuk, ingin hati menyelesaikan tugas namun apa daya pikiran tak kunjung fokus, mengalihkan perhatian ke tumpukan baju siap seterika seringkali sangat menolong buat saya. Menyetrika itu membuat licin, menjadikan lurus perkara-perkara kusut di kain dan di kepala saya sekalian. Kebetulan saya bukan pengguna pelicin-pewangi-pelembut jadi satu seperti di iklan-iklan. Dulu sih pernah, sampai saya menemukan bahwa harum pewangi pakaian semisal Do**ny atau M***to lebih cocok di penciuman saya. Alih-alih merendam pakaian dalam pewangi, saya melarutkan pewanginya ke dalam semprotan pelicin pakaian. Wanginya lebih enak, bikin saya senyum-senyum sendiri sambil nyetrika. Damaaai sekali rasanya.

 

Rasanya lega dan sekali lagi lega, tiap kali menyaksikan pakaian kotor yang berproses jadi rapi dan wangi. Entah sejak kapan, rasa-rasanya saya ingin punya laundrian. Impian remeh yang tercipta di atas rasa senang menyelesaikan persoalan. Sepertinya akan menyenangkan, membantu orang mengatasi masalah harian : ketiadaan waktu luang, energi yang terkuras, dan pikiran yang kontan tumpul saat melihat tumpukan pakaian kotor di pojok ruangan. Plus, saya punya akses penuh bergelut  merapikan yang kusut-kusut. Salah satu jenis obat mujarab di kala suntuk.

 

Ahh… Saya selalu bahagia saat mengambil pakaian dari laundrian. Haruumm… Bau laundrian itu selalu haruummmm…. *walau parfumnya gak selalu cocok juga sih.

 

Inilah satu cerita kecil tentang saya dan preferensi saya.

Saya alien yang tidak suka hal-hal besar gegap gempita riuh tepuk tangan. Saya makhluk kecil yang menikmati hal-hal kecil, renik yang tidak kelihatan. Sederhana, yang penting punya makna, setidaknya dalam pandangan saya.

 

Sebagian diri saya ingin menulis lebih panjang.

Tapi saat ini, saya sedang tersenyum dengan pikiran yang dipenuhi antusiasme sebuah kalimat, “saya ingin punya laundrian!”

 

Sungguh manusia adalah makhluk yang beragam,

10.54 WIB, 28 April 2018

Anggun Nadia.

Construct – Deconstruct – Reconstruct

Standard

Cerita ini terinspirasi penuh oleh episode gagalnya haircut. Nggak sepenuhnya gagal sih, cuman semacam agak kurang puas aja. Dua malam berikutnya seorang teman kosan mengomentari potongan rambut anak-anak lantaiku (yang kebetulan baru pada potong rambut di waktu dan kesempatan yang beda). Dia bilang dia juga ingin potong rambut lantaran rambutnya sedang bermasalah. Kubilang, “potong aja mba, terus diurus lagi dari awal.” Agar membaik pertumbuhan rambut itu ke depannya.

Ini cuma beranda, bukan ini inti ceritanya.

Kadang lucu memang, pikiran kita melompat-lompat. Lompatan yang tak selamanya random.  Acapkali itu malah lompatan yang mengantar kita memikirkan hal penting di balik kejadian yang tidak begitu penting.

Kali itu, pikiranku melompat dari soal haircut menuju frase construct – deconstruct – reconstruct. Masuk kamar, kututup pintu, dan mulailah pikiranku berhambur. construct – deconstruct – reconstruct, kita tercipta untuk mengalaminya berkali-kali. Acapkali kejatuhan kita, kegagalan, rusaknya rencana, adalah tanda awal untuk mengubah arah rencana. Dan tak jarang pula, perubahan itu melibatkan proses dekonstruksi yang menyesakkan hati.

Bukan soal rambut tentu, banyak episode hidup yang menuntut kita untuk mendekonstruksi mimpi, dekonstruksi isi hati dan cara pandang ini, dekonstruksi kebiasaan dan rutinitas kita. Dekonstruksi atas hal yang tak nyaman, maupun hal yang membuat kita nyaman. Hal-hal yang sebagiannya kita awali dengan konstruksi setengah mati, meski tak semua, karena sebagian konstruksi memang terwujud setengah hati. Apapun itu. Tapi  begitu nampaknya prosesnya, berkali-kali. Dibangun, untuk dihancurkan pada suatu kali, untuk kemudian diperbaiki dan dibangun kembali. Mungkin untuk hancur lagi nanti.

Di atas tanah yang membara, kehidupan baru tumbuh dan mendapati udara.

 

16 Januari 2018

09.33 WIB

Anggun Nadia Fatimah