Category Archives: Cerita tentang ilalang

In The Room of Consultation

Standard

Within the room of consultation I seek my refuge to you.

I asked your advice and nod to your prescription.

 .

It was white coloured one,

With a wooden table, and a pair of chair for those who are in the talk.

A well blooming pink flower stands in the corner,

Sends the accent of roses through the air that cover us talking.

 .

In the room of consultation I admit all my hesitations.

The doubtful feeling inside my chest,

Growing colder as time passes,

Make it harder for me to taste the fresh air.

.

In the room of consultation I tell you my secret.

The greatest one in which my spirit, my hope, and my sorrow so romanticly tangled.

I let out all the grievances of loosing the most wanted dream.

The hard feeling of seeing the people you love, off sailing.

.

In the room of consultation I look for medicine.

To ease the pain within which I am struggling.

My restless heart aching,

Echoing the sound of it’s moaning.

.

In the room of consultation I seek you.

Hoping you’ll show me the way to see the sun once again smiling,

That you’ll hand me hand to get a better breathing.

.

To you I seek refuge.

To you I come anyway while silently crying.

Cause I’m sure,

Talking to you need no words arranging.

..

Looking for Your Benevolence,

13.31 pm

July 23rd, 2017

Anggun Nadia

Sebuah Kisah tentang Layang-Layang

Standard

Aku adalah layang-layang yang putus dari tambatan.

Ikatanku terlibas sekelibat angin biru.

 .

Dulu sekali, diwaktu aku berangan-angan pada pagi di suatu kali…

Kuramalkan diriku jatuh dan sobek sana-sini,

Bila nanti kutemui tali kecil ini tak lagi mengikatku pada bumi.

.

Tapi ternyata, karangan kita tidak selalu demikian kenyataannya.

 .

Karena justru,

Karena tambatku yang putus, aku menjadi tahu,

Rasanya terbang bersama angin,

Mengarung langit yang kuning, ungu, biru, hingga kelabu.

.

Kupikir,

Tali yang kokoh dan panjang memungkinkanku terbang,

Ternyata,

Angin yang kukuh, bebas, tak terhalanglah,

Yang mengantarku menyentuh awan.

.

Jatuh itu klise.

Toh kita semua akan kembali ke tanah.

Tapi berteman dengan angin si prajurit alam aku mulai percaya,

Suatu kali lepas dari angkasa ini,

Ke tanah, aku tidak akan jatuh.

Aku labuh.

 ..

11.49 WIB

18 Juni 2017

Anggun Nadia Fatimah

Satu-Satunya

Standard

a9pfIB0

 

Bagian Pertama : Tanpa Rencana

“Aku jatuh cinta tanpa rencana, ” katanya.

“Begitukah?”

“Ya. Juga kepada orang yang tak terencana?”

Alisku merapat.

“Dia bukan model orang yang dengan mudah kusukai sejak awalnya. Bahkan aku baru tahu setelah aku mencintainya, bahwa aku bisa mencintai hal-hal yang menjadikan dia sebagai dia. Bahwa sebagianku mencintai sisi hidup yang ditinggalinya.”

Aku mengangguk. Setengah paham, setengah hanyut.

Tengah Cerita : Cinta, Cerita, dan Fakta

Seribuan hari aku mengamati orang ini. Ia kadang menderas dalam cerita, kadang menderas dalam tangisnya. Yang paling pilu bukan itu. Ialah saat keran hatinya dipepat. Bicara tidak, menangis pun tidak. Hatiku antara iba, sayang, sedih, prihatin, dan mengaguminya di saat yang sama.

Dekat dengannya membuatku merasa ditimpa hujan musim gugur. Hujan daun-daun yang gugur pada senja yang luntur. Nona cantik yang semakin cantik di kala sedih. Ironis.

Nona itu masih mengembangkan ceritanya. Menuturkannya dari bab ke bab padaku, melompat-lompat. Kembali ke bab satu, lari lagi ke adegan dua puluh satu ribu di halaman 391. Berbalik ke bab 3 adegan pertama, halaman 46, lanjut lagi percakapan di halaman 246, adegan 2077. Melompat-lompat, mengikut imajinasinya yang susah duduk diam.

“Aku cinta dia dan itu faktanya. Sudah kuhabiskan bilang tahunan, kulalui jalan demi jalan, bertemu peluh hingga embun. Masih dia dan selalu saja dia.”

Aku mengangguk takzim. Tersenyum tipis menikmati hembusan angin musim gugur yang setengah kering setengah romantis.

“Aku pernah menyukai lelaki lain. Tapi suka. Bukan cinta. Ini beda rasanya. Beda dan selalu saja beda. Dengan orang lain, tak ada mimpi yang bisa kubangun maketnya. Dengan yang ini, mulai dari draft, maket, hingga pun harus kuangkat sendiri batu pondasinya, aku khawatir bagiku tetap saja semuanya ‘iya!’.”

Cinta berdengung di sayap-sayap lebah, menggaung di hutan rumput di sudut lembah. Tersaru. Acak tak berpola. Baru. Tidak dikenalnya sebelum itu. Si Peri Musim Gugur kalut dalam cintanya yang tak surut. Cinta yang berhadapan dengan kabut, menghadap nyata yang menyimpan kemelut. Selalu. Sedari dulu, lelaki dalam fantasi Si Peri Musim Gugur, dicintainya dalam diam, dalam cinta yang tak pernah tertemukan dan ditemukan. Lelaki ini tidak pernah diberitahu, mungkin juga tak pernah berniat tahu. Tak tersiarkan. Terlupakan. Tertinggalkan. Jauh di belakang. Cintanya berhembus di angan-angan.

Bagian Terakhir : Ketika Salju Turun Pada Akhirnya

 

“Aku melihatnya di stasiun kereta. Sore hari di kitaran jam tiga.”

“Oh ya?” Terakhir kuingat, Nona ini tak tahan berada di satu tempat dengan lelaki yang dicintainya. Kehilangan akal katanya. Dulu kabur sambil menutup muka, untuk kemudian di tikungan jalan, sendirian tertawa-tawa. Dulu. Empat tahun lalu saat ia bercerita. Dan kali-kali berikutnya di saat ia merapal ulang ceriteranya. “Kamu kabur lagi?” tanyaku padanya.

“Hebatnya kali ini tidak. Aku mengamatinya dari jauh, lebih lama dari biasanya. Dia bersama seorang wanita berblus hijau. Nona yang tak berhasil kuamati wajahnya.”

“Temannya?”

“Entahlah. Aku mana tahu. Yang aku tahu yang terjadi setelah itu.”

123851-Falling-Leaves

Firasatku mendadak abu-abu.

“Pintu kereta yang baru kunaiki ditutup, begitu pun pembicaraan di seberang peron tempatku semula duduk. Ditutup dengan peluk dan kecup.”

Abu-abu bersahutan dengan biru. Di hatiku mulai bertiup angin musim salju.

“Lalu?”

“Tentu saja tak ada lanjutannya. Keretaku jalan, kereta mereka tiba. Masih kulihat kereta di seberang, pintunya terbuka. Setelahnya hanya barisan anak rel dan jalan-jalan kota.”

“Kamu nggak papa?”

“Aku? Nope. Hari itu aku berdiri sempurna. Senang saja akhirnya bisa melihatnya. Senang saja kali ini melihatnya lebih lama. Dan bila di sana, dengan Nona berblus warna surga dia bahagia, aku ingin sepenuh  hatiku ikut bahagia untuk dia.”

Hatiku ingin menanyakan ulang, “are you really alright?”, tapi suaraku tercekat. Angin musim salju memaksaku merapatkan tulang-tulang yang mulai gemeretak. Diam, tegak, hilang tanggap.

“Mungkin sudah saatnya merangkul kenyataan dan mencukupkan angan-angan.” kata Si Peri Musim Gugur.

Well. Lima pertemuan yang rumit ya.” Lima. Hanya lima kali itu dia bertemu lelaki ini.

Pertama di koridor kampusnya, tempat lelaki tampan yang gagal dicintainya di pandangan pertama menekuk wajah bersama bukunya. Waktu itu, Peri Musim Gugur melewatinya sambil lalu saja.

Kedua, saat ia berbincang dengan teman-temannya di taman kampusnya. Segar sekali wajahnya, begitu Si Peri mendeskripsikannya. Dan Si Peri mulai rajin mendengar kabar tentangnya.

Ketiga, saat melihatnya mengambilkan buntalan karung berisi barang pulungan, yang jatuh dari tarikan gerobak seorang tua yang kumal. Tanpa kata-kata. Tanpa diketahui pak tua, karungnya  jatuh dan tertinggal dua  hasta. Diambilkan dan dinaikkan kembali ke gerobaknya oleh si lelaki. Hari itu, praktis, Peri Musim Gugur memasuki musim gugurnya yang pertama kali: cinta yang menghujani bumi dengan dedaunan warna tua.

Keempat, di stasiun kereta di sebuah kota. Beberapa hari sebelum didengarnya kabar bahwa si lelaki akan pergi. Pergi jauh sekali. Entah kapan kembali.

Kelima, kembali di stasiun kereta. Stasiun yang berbeda dengan kali keempat pertemuan mereka. Stasiun dimana kisah musim gugurnya, menanjak bab jadi musim salju. Stasiun yang diantara rel-relnya Peri Musim Gugur menaburkan sisa kelelahannya, menahun mencintai satu lelaki saja. Tanpa bersuara. Untuk kemudian menyaksikannya jatuh cinta dengan khusyuknya. Seperti mendengar himne, ujar Si Peri Musim Gugur tentang cintanya sore itu.

Nggak papa. Dibolehkan mencintainya hingga sejauh ini saja rasanya sudah luar biasa. Asal di sana dia bahagia, asal di sana dia jadi orang yang baik dan bermanfaat buat sesamanya. Asal dia senantiasa sejahtera jiwanya. Aku bahagia untuknya.”

Aku?

Antara ragu, khawatir akan teman, terpaku, setengah linglung, tetapi kagum di saat yang sama. Kembali tersaruk pada hujan musim gugur di senjakala yang ramah, indah, dan teduh. Orang ini mengagumkan, batinku. Boleh mencintainya hingga sejauh ini saja, rasanya sudah luar biasa. Bagaimana bisa.

Bertahun-tahun cinta ini bertahan di hatinya. Memberinya harapan sekaligus patah hati lantaran kenyataan yang tidak semulus sentuhan dewi fortuna kata sinetron di layar-layar kaca. Tanpa bertemu, ditemui, atau menemui. Tanpa dengar kabarnya, hanya sesekali, itu pun kadang tak sengaja  curi dengar pembicaraan di meja seberang saat makan siang. Dia mencintainya dalam doa-doa, dalam ringkasan hati yang dibaginya padaku bilamana hari itu aku cukup beruntung beroleh cerita doanya. Rapal doa yang lepas. Cinta yang tak mengikat, yang dengan sayapnya terbang bebas menempuh baris-baris awan di langit.

Kisah cinta yang hebat, diciptakan untuk orang-orang hebat yang kadang sama sekali tidak disangka hebat oleh dunia yang acapkali abai mengenali indah yang tak terindera demikian mudahnya. Peri Musim Gugur, bagiku kamu sangat hebat! Terima kasih untuk membaginya denganku.

 

Teruntuk Peri Musim Gugur yang sepenuh hati mencintai yang dicintainya,

Rahasia-Rahasia: adegan pertama, tengah, dan akhirnya.

08.53 WIB

Jumat, 26 Mei 2017

Anggun Nadia Fatimah