Category Archives: Cerita tentang ilalang

Construct – Deconstruct – Reconstruct

Standard

Cerita ini terinspirasi penuh oleh episode gagalnya haircut. Nggak sepenuhnya gagal sih, cuman semacam agak kurang puas aja. Dua malam berikutnya seorang teman kosan mengomentari potongan rambut anak-anak lantaiku (yang kebetulan baru pada potong rambut di waktu dan kesempatan yang beda). Dia bilang dia juga ingin potong rambut lantaran rambutnya sedang bermasalah. Kubilang, “potong aja mba, terus diurus lagi dari awal.” Agar membaik pertumbuhan rambut itu ke depannya.

Ini cuma beranda, bukan ini inti ceritanya.

Kadang lucu memang, pikiran kita melompat-lompat. Lompatan yang tak selamanya random.  Acapkali itu malah lompatan yang mengantar kita memikirkan hal penting di balik kejadian yang tidak begitu penting.

Kali itu, pikiranku melompat dari soal haircut menuju frase construct – deconstruct – reconstruct. Masuk kamar, kututup pintu, dan mulailah pikiranku berhambur. construct – deconstruct – reconstruct, kita tercipta untuk mengalaminya berkali-kali. Acapkali kejatuhan kita, kegagalan, rusaknya rencana, adalah tanda awal untuk mengubah arah rencana. Dan tak jarang pula, perubahan itu melibatkan proses dekonstruksi yang menyesakkan hati.

Bukan soal rambut tentu, banyak episode hidup yang menuntut kita untuk mendekonstruksi mimpi, dekonstruksi isi hati dan cara pandang ini, dekonstruksi kebiasaan dan rutinitas kita. Dekonstruksi atas hal yang tak nyaman, maupun hal yang membuat kita nyaman. Hal-hal yang sebagiannya kita awali dengan konstruksi setengah mati, meski tak semua, karena sebagian konstruksi memang terwujud setengah hati. Apapun itu. Tapi  begitu nampaknya prosesnya, berkali-kali. Dibangun, untuk dihancurkan pada suatu kali, untuk kemudian diperbaiki dan dibangun kembali. Mungkin untuk hancur lagi nanti.

Di atas tanah yang membara, kehidupan baru tumbuh dan mendapati udara.

 

16 Januari 2018

09.33 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Harus Dimulai!

Standard

Adakalanya kita hanya harus memulai.

Aku sampai pada titik dimana aku dibuat harus memulai. Kalau saja aku dibiarkan sendiri, aku mungkin takkan punya cukup alasan (dan/atau keberanian) untuk memulai eksplorasi ini. Kali ini, aku dibuat sampai pada titik dimana, aku menjadi sepakat untuk mencoba. Dan karena sudah sepakat, mau tak mau jalani saja, bahkan ketika pun belum terlihat arahnya mau kemana.

Aku sedang menulis, sebuah tulisan yang kubiarkan saja dimulai tanpa rencana. Kami membiarkannya mengalir. Bukan, bukan isi ceritanya, tapi prosesnya. Entah nantinya mengambil bentuk apa, sejelek apa, biarlah proses mendapatkan porsinya. Kadang untuk memulai, satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah: memulainya.

Secara kualitas, aku bermasalah dengan tulisan itu. Tulisan itu kedengaran setengah mengarang, dan dipaksakan ke dalam sebuah format. Semacam menjejalkan batu yang banyak ke wadah kekecilan. Atau dalam kasusku, semacam memakai celana yang kedodoran, dengan tulisannya sebagai kaki dan bentuk tulisannya sebagai si celana. Terlalu sedikit untuk menempati ruang yang agaknya keluasan sedemikian rupa.

Tapi sebagian dari diriku mengakui, bahwa tulisan itu adalah metamorfosis yang hebat dari data-data yang singkat. Dari situasi lapangan yang tak memadai, dari ketiadaan prior knowledge di kepalaku tentang bidang yang harus kugarap saat itu. Tulisan itu adalah upaya terbaik kami saat itu : memberi bentuk pada bongkahan tanah liat yang kualitas wujud dasarnya tak seliat namanya. Karenanya, meski secara kualitas sangat jauh dari sempurna, bagiku tetap, prosesnya bermakna dan karya ini berharga. Ini yang pertama, yang mengganti ketiadaan menjadi ada. Bukankah dalam di awal penciptaan manusia, semua manusia tidak serta-merta punya tulang dan mata.

Aku memutuskan untuk memberi kesempatan pada kami untuk berproses. Kami yang tak lain kurujukkan pada diriku, karyaku, dan kualitas karya itu. Hanya harus dimulai, karena tanpa memulai tak ada yang perlu aku evaluasi. Dan karenanya, tak kan ada pula modifikasi, inovasi, maturisasi, improvisasi, dan perkembangan itu sendiri. Untuk bertumbuh kembang kita perlu memulai.

Dan berbesar hati.

Bahwa ternyata kualitasnya tak lantas sebaik harapan kita. Bahwa ternyata kita belum setangguh yang kita kira. Bahwa ternyata ada banyak celah yang tak tertambal dan kita terlalu lelah untuk menambalinya. Bahwa ternyata dengan pahitnya kita harus mengakui: kita bahkan belum memenuhi harapan kita sendiri.

Pahit. Tapi di antara kepahitan itu kita bertransformasi.

Perjalanan tulisan ini memahamkan aku akan satu hal baru. Ternyata teman karib berjuang untuk “tidak menyerah” dan “bersungguh-sungguh”, tak lain bernama “berani untuk memulai”. Itu teori lama yang orang-orang sampaikan sejak dahulu kala. Tapi bagiku titik pemahaman ada di level yang beda. Sekedar tahu tak tentu paham. Dan proses yang sedang kami (aku, tulisanku, dan kualitas karyaku) jalani sekarang, membantuku menjadi lebih paham. Sedikit. Masih sedikit. Semoga lama-lama mewujud ia menjadi bukit.

 

05.32 WIB, 12 Januari 2018.

Yang sedang mencatat,

Anggun Nadia Fatimah.

Anomali

Standard

Halo! Saya Anomali!

 

Panggil saya Anomali. Saya berbeda dengan dunia di sekitar saya, mungkin nggak dengan seluruh dunia. Siapa saya berani mengklaim demikian, padahal, belum seluas lapangan bola bagian dunia yang pernah saya pijak.

 

Saya Anomali. Bergerak selaras keyakinan hati. Anti mainstream? Nggak juga. Kalau pas searah dengan tujuan jiwa, mainstream itu kendaraan saya. Easy, itu cuma istilah, semoga tidak kedengaran terlalu pongah. Karena memang tidak demikian dimaksudkannya.

 

Saya Anomali. Sementara orang lain merasa damai dengan jaminan-jaminan, saya memilih melepaskan diri dan terantuk-antuk belajar jalan, lompat, sesekali ‘merasakan’ terbang. Sementara orang lain merasa utuh dengan ketergabungan (sense of belonging), saya merasa utuh manakala boleh bebas memilih. Bila sepakat maka kita bergabung, bila tak sepakat marilah kita berpisah. Bebas. Saya ingin punya kendali, bukan atas dunia ini, melainkan terhadap diri dan pilihan-pilihan saya sendiri.

 

Saya adalah Anomali. Masa bodoh orang bilang, “harusnya begini dan begini.” Saya kenal hati saya, saya tumbuh bersamanya. Saya kenal jiwa saya, saya menyaksikan perkembangannya. Saya kenal pikiran saya, saya hidup bersamanya. Saya percaya pada diri dan pilihan-pilihan saya, berikut konsep-konsep yang melatarinya. Meski nggak mainstream, meski nampak nggak mungkin, rentan jauh dari kata mapan, saya bahagia untuk bisa berjalan dengan penuh keyakinan saya.

 

Dalam perjalanan saya, ada alasan yang lebih panjang (insya Allah) dari sekedar “saya suka maka saya lakukan.” Insya Allah nggak seimpulsif dan nggak segegabah itu. Hanya saja, mungkin kelihatannya demikian. Karena manusia melihat apa yang mampu dilihatnya dari sudut sempit tempatnya memandang. Dan biarlah Tuhan saja yang saksikan, kenapa dan kenapa, bagaimana hingga demikian pada akhirnya. Percayalah, jalan sendirian tanpa rombongan itu nggak selamanya mudah. Tapi hidup yang saya lalui, mengantar saya ke titik ini. Dan barulah juta menit sebelum ini, saya belajar, mengeja rasa syukur atas jalan yang nggak familiar ini.

 

Wild. Jalan yang nggak familiar itu liar. Nggak ada peta, nggak ada kamus, nggak tercantum dalam ensiklopedi. Boro-boro guidance book, jalanannya aja belom tentu ada. Mesti bawa golok buat buka jalan sendiri. Mungkin pernah dilalui, satu dua orang entah sengaja mungkin juga kesasar dan nelangsa. Hanya saja itu entah kapan dulunya, nggak ada catatannya. Maka bagi saya, jalan ini nggak ada rujukan praktisnya. Rujukan hakikat insya Allah ada. Rujukan praktis itu, yang konon butuh kelapangan hati untuk merelakan ketiadaannya, sekaligus butuh keyakinan sempurna, untuk entah bagaimana, memberanikan diri mengambil segala risikonya.

 

Saya orang gila?

Sepakat! Tidak secuil pun diri saya ingin menyangkalnya!

 

Anomali : Pencilan Pertama,

19.02 WIB,

14 September 2017,

Anggun Nadia.