Category Archives: Cerita tentang hidup

Tunas-Tunas Tertunda

Standard

Beberapa tahun lalu saya membaca tentang Pohon Bambu Cina, entah dimana. Inti ceritanya berkisar tentang mode hidup si pohon yang agak beda cerita. Nun di  masa SD sebagian kita pernah bereksperimen dengan pohon tauge, kecambah. Yang kemunculan tunasnya beda tipis waktunya dengan kemunculan akarnya.

Pohon Bambu Cina beda. Spesies ini menghabiskan sekitar 6 tahun untuk lebih dahulu menumbuhkan akar-akarnya. Belum. Belum sama sekali belum menampakkan tunasnya di atas tanah. Tahun-tahun awal kehidupan si Bambu Cina dihabiskan melubangi batu, mencari celah air, membentuk pijakan yang kokoh.  Tak ada daun tak ada batang. Segala tentangnya hanyalah akar yang bagi kita yang hidup di atas tanah ini, tak jua kunjung kelihatan.

Sedih? Tidak sih.

Karena pondasi tumbuh yang dibangun menahun ini menampakkan fungsinya saat si pohon mulai bertunas, keluar memecah tanah. Nun di saat pohon-pohon yang bertunas dan tumbuh besar duluan harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa tumbuh lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya sekarang, Bambu Cina yang tertunda tunas dan tumbuh ke atasnya ini naik terus menjangkau langit.

Dalam enam bulan setelah tunasnya, Bambu Cina bisa menjulang setinggi 20 meter dengan kualitas bambu yang luar biasa kokoh dan tak kenal patah. Pohon ini tumbuh melampaui tinggi pohon lainnya. Meninggalkan pohon-pohon yang bertumbuh sekian meter dalam sekian tahun lamanya. Sementara yang lain tak bisa tumbuh lebih tinggi, akar Bambu Cina yang digembleng selama enam tahun itu menjadi pondasi tumbuh yang memungkinkan tubuh atas tanahnya menjangkau langit lebih dan lebih tinggi lagi. Kokoh semenjak akarnya.

Filosofi Bambu Cina senantiasa segar di ingatan saya, sejak kali pertama saya membacanya entah kapan entah dimana. Hingga hari ini, iya tepat hari ini, saya membaca sejenis pohon serupa yang tak kalah hebatnya. Orang-orang mengenalnya sebagai Kurma.

 

Jadi ceritanya, dalam sebuah kajian pekan kemarin, saya mendengar satu pernyataan yang diulang oleh beberapa narasumber, yakni tentang pohon kurma yang bisa mengalirkan air. Saya penasaran. Memang gimana caranya sebuah pohon mengalirkan air. Browsing pun dimulai, hingga mampirlah saya ke beranda maya seorang teknisi jebolan ITB.

Serupa dengan Pohon Bambu Cina, Pohon Kurma memiliki fase yang sama yang konsisten bahkan dalam ekosistem yang lebih ekstrem semisal gurun. Di fase awal hidupnya, Kurma berkonsentrasi mencari air. Tak peduli seberapa dalam air sembunyi, ke sanalah akarnya akan menemukannya. Tidak tumbuh ke atas kecuali telah sampai ke sumber air yang dibutuhkannya. So? Bisa panjang sekali itu akarnya dan bisa lama sekali itu pencariannya.

Benar-benar makhluk yang tabah dan sabar…

 

Tidak hanya kisah seputar akar yang unik dari Kurma. Konon, ada teknik seru menanam kurma di gurun. Menurut blog yang saya baca, untuk menumbuhkan kurma di gurun, biji kurma mesti dipendam sekitar 2-3 meter sebelum akhirnya ditimbun dengan bebatuan. Mekanisme alami pertumbuhan kurma memungkinkannya bersabar sampai menemukan jalan air. Begitu akarnya sampai ke suplai air, tunasnya  akan mulai tumbuh dan eitsss.., uniknya adalah si tunas ini akan berjuang memecah batu yang menimbuninya terlebih dahulu.

Fungsi batu penimbun sebenarnya adalah untuk memaksimalkan pertumbuhan akar. Sehingga, tunasnya tidak akan tumbuh kecuali setelah akarnya demikian kokoh, cukup air, dan kuat menopang usaha tumbuh si tunas yang mesti berjibaku melawan batu-batu hambatan. Batu-batu itu pun perlahan bergeser memberi ruang, atau malah terpecah hancur dan terpaksa membuka celah bagi tunas untuk akhirnya muncul ke permukaan.

Keren kan?

 

Dalam satu dua momennya, cerita dua spesies ini mengingatkan kita pada kehidupan. Tentang kita yang merasa berjalan demikian lambat. Tentang kita yang merasa tertinggal dalam begitu banyak aspek. Rasa kerdil, inferior. Kadang bercampur rasa frustrasi melihat hidup orang lain yang jalannya bebas hambatan padahal kelakuan dan pilihan-pilihannya dalam hidup serba dipertanyakan.

Tapi acapkali jalan ceritanya memang mesti begitu.

Mesti menunggu. Bukan semata agar belajar sabar. Tapi lebih dari itu agar menjadi kuat, kokoh, dan tegar.

Mesti bertarung dulu. Kala yang lain sibuk main di taman bunga, satu dua orang diantara kita dihempas ke medan perang yang tak ada habisnya. Bukan agar mati muda.  Mungkin agar segala bunga dan kemudahan hidup jadi lebih manis maknanya. Bukankah hanya yang mengenal sakit yang mampu menghargai sehat. Dan hanya yang mengalami malam yang tau persis arti penting siang. Dan sebaliknya.

 

Mungkin memang begitu.

Tidak ada yang bengkok dalam jalan hidup kita. Yang bengkok adalah sudut pandang kita. Sementara jalannya sendiri didesain langsung oleh Yang Maha Mencipta. Kita lurus dalam rencanaNya, meski kadang tak senada dengan rencana kita.

Jangan-jangan, tentang kita dan fase hidup kita, tidak ada yang lebih lambat atau lebih cepat. Karena tiap individu lahir sepaket dengan desain uniknya. Tidak untuk diperbandingkan satu sama lainnya. Medan dan Jayapura beda dua jam lamanya, tapi tidak berarti Medan terlambat  dan Jayapura menang duluan kan? Kita merasa lambat dan merasa cepat, mungkin karena tertambat pada satuan waktu yang manusia buat.

Nun barangkali di semesta yang lebih tinggi, dimana setiap kita terikat hanya pada satuan rencana Tuhan, tidak ada perbandingan lambat dan cepat antar satu dengan lain manusia. Yang ada hanya diorama hamba yang patuh mengikut skenario Tuhannya.

Referensi :

https://hdmessa.wordpress.com/2016/06/02/falsafah-pohon-kurma/

 

Alasan dan tujuan, adalah latar belakang yang senantiasa mengiringi rencana Tuhan.

13.23 WIB , Jumat, 01 Juni 2018

Nyari apa nemunya apa.

Masih belum kejawab juga, soal bagaimana kurma mengalirkan air ke tanah yang gersang.

Anadia Fatimah

Advertisements

Seperti Memanjat Dinding

Standard

Waktu kecil aku takut menyeberang jalan. Well, tidak begitu ingat takutnya seperti apa. Yang aku tahu, di masa-masa itu tiap kali menyeberang, ibuku menggandeng tanganku. Kurasa masih sampai kelas 6 SD, aku merasa khawatir bila harus naik angkot atau menyeberang jalan sendiri.

Lalu datang masa SMP. Masa dimana sekolahku jauh dan mau tidak mau naik kendaraan umum adalah hal yang harus dilakukan. Sejak saat ketakutanku menyeberang dan naik angkutan sendirian berubah jadi kebiasaan, kurasa aku bahkan tak ingat lagi, kalau dulu aku pernah takut menyeberang. Sekarang? Di jalan yang padat kendaraan pada suatu malam beberapa tahun silam, seorang teman bahkan bilang, “Ang, lw cewek pertama yang nyeberang di sebelah kanan gue.” (dia cowok by the way)

Tetap was-waslah kalau banyak kendaraan. Tapi tidak takut. Tidak lantas menjadi urung. Tahun-tahun ketakutan lewat sudah.

Waktu kecil aku takut gelap, takut jarum suntik, takut laba-laba, dan takut hewan licin menggeliat (seperti ulat, ular, dan cacing). Sekarang aku masih takut ulat, ular, cacing, belut, dan kaki seribu. Tapi aku sudah bisa berdamai dengan gelap hingga taraf tertentu, sudah bisa terima kenyataan jikalau memang terpaksa harus disuntik, dan bisa dengan santai melihat laba-laba.

Waktu kecil aku nangis kalau diajak ke undangan. Aku nggak suka keramaian.  Sekarang sudah jauh mendingan. Seringkali bisa lancar ketemu banyak orang, meski belum selalu demikian.

Waktu kecil aku periang. Lalu sekitar SD kelas dua sepertinya, aku mulai jadi pemarah dan jutek. Terus begitu sampai SMA, sampai kuliah bahkan. Intensitasnya terus berkurang. Sekarang aku malah bingung kalau disuruh mereka ulang wajah jutekku yang dahulu enggak ketulungan. Aku sekarang bisa tertawa seperti sedang terbang.

Secara mendadak esok hari aku harus jalan sendirian. Untuk sebuah perjalanan luar kota. Selain pulang kampung, rasa-rasanya sudah lamaaa sekali aku nggak benar-benar jalan sendirian, ke tempat baru, ketemu orang baru yang 95% belum kuajak kenalan, menghadiri acara yang aku nggak tahu menahu. Cuma tahu sedikit, kemudian disuruh datang. Aku sempat kesal karena dadakan. Karena rencananya tidak ajeg, berubah-ubah tanpa kepastian. Karena akhirnya harus jalan sendirian, cari rute sendirian, hubungin orang sendirian.

Memori-memori lamaku memanjat dinding waktu. Ketakutan-ketakutan masa lalu berkelibat dalam ingatan.  Ketika satu demi satu urusan ini aku selesaikan, rasa tenang setelah berdamai dengan rasa takutlah yang mencuat dalam ingatan.

Mungkin hari ini pun begitu. Esok juga begitu. Selalu mudah menggertak orang introvert sepertiku. Ramai enggan, riuh kebingungan, stimulus baru ketakutan. Benar-benar lemah dan gampangan. Tapi waktu menempa kita jadi lebih kuat. Jadi lebih kokoh dan merasa lega bila berhasil melampaui kelemahan. Kita berubah. Berproses. Menjadi lebih matang. Menjadi lebih tenang. Dan belajar mengendalikan diri dalam ribuan keadaan, dalam jutaan perubahan.

Yang aku tau, ketakutan-ketakutan yang kemudian ditaklukan itu, satu duanya justru menjadikanku ketagihan. Dulu, tak ada yang menyangka aku si anak yang nggak bisa apa-apa itu bisa tahan tinggal di luar rumah tanpa nonton TV seharian di akhir pekan. Tapi sejak SMA aku jadi tahu, aku jauh, jauh lebih bisa beradaptasi dengan situasi yang buruk, yang tak biasa kuhadapi sekalipun. Sekarang? Aku jauh lebih betah sendirian, jauh dari rumah, bahkan ketagihan tinggal di tempat-tempat baru, dan memimpikan jadi pindah dari pulau ke pulau tiap satu, dua, atau tiga tahun sekali. Mungkin karena itu, membeli rumah hingga saat ini tidak masuk ke agenda kepalaku. Karena aku selalu punya mimpi untuk secara antusias mengepak barang ke dalam tas. Bergerak dari satu komunitas ke komunitas. Menggelar sepetak kain di bawah langit, dan menyebut segala penjuru sebagai rumahku. Lately I wonder, maybe a certain degree of me was destined to be a wanderer.

Kita hanya butuh bergulat lagi dalam ketidakpastian. Dalam cepatnya pengambilan keputusan. Hingga tak ada waktu untuk bingung terlalu lama, untuk cemas yang terlalu dalam. Kita kadang hanya perlu terpaksa mengambil pilihan-pilihan yang tidak nyaman. Untuk mengingat lagi betapa sejatinya kita hanya butuh waktu, untuk beradaptasi, untuk mengendalikan situasi. Hingga kemudian keluar sebagai pemenang.

 

22.04 WIB,

20 Mei 2018

Aku.

Di Atas Gelombang

Standard

Ada beda yang nyata ketika antara pelaut yang mengayuh dengan sampan dan pelaut yang mengemudi di belakang navigasi sebuah kapal Ferry.

Di bawah cuaca yang sama dan kondisi laut yang sama, pengayuh sampan dan pengemudi Ferry merasakan sensasi mengarung laut yang berbeda. Saya tidak sedang memukul rata pengalaman manusia. Hanya saja, secara logika rasa-rasanya jelas dua jenis pelaut itu mengarung laut dengan sudut pandang yang beda.

Sama halnya dengan kita dan hidup yang kita jalani. Sebagian orang dikaruniai ‘sampan’ dan sebagian lain dikaruniai ‘ferry’. Tentang satu hal seseorang dimodali  Tuhan dengan sampan, namun di lain soal orang tersebut Tuhan pinjamkan Ferry.

Sampan dan Ferry adalah jenis tunggangan beda modal beda kapasitas. Keduanya juga menghasilkan pelaut dengan beda kapabilitas. Nahkoda Ferry memiliki keterampilan, secara teknis Ferry lebih sulit dikendalikan bila pengendalinya tak memiliki pemahaman yang memadai. Pengemudi sampan juga punya keterampilan. Secara teknis sampan lebih mudah dikendarai. Sepintas urusannya hanya sebatas kayuh dan pahami arah yang benar dalam mengayuh. Itu sudah. Tapi di atas lautan, pengemudi sampan menemukan wujud asli monster yang perlu ia taklukkan. Bukan sampan, tapi laut itu sendiri.

img_20180429_191323_646-230904798.jpg

 

Baik sampan dan Ferry punya fungsinya sendiri. Tak ada Ferry di sungai, dan jarang sekali sampan di lautan bebas. Tapi sampan bisa berlayar di laut, dengan sedikit keharusan dan keterpaksaan.

Terpaksa memang, tapi dalam nyata kehidupan, seringkali sejenis sampan Tuhan arungkan di lautan. Bukan untuk menguji kehebatan sampan. Tapi untuk menghasilkan pengemudi andalan. Mereka yang bisa bertahan di lautan hanya dengan sampan, idealnya punya potensi keberhasilan yang lebih besar manakala mesti mengemudi sampan di sungai, atau belajar menjadi nahkoda Ferry.

Ini hanya analogi. Mohon jangan merisaukan diri dengan menyebut tingkat pendidikan, sekolah khusus pelaut, dan sejenisnya. Bukan hal teknis yang kita bicarakan di sini. Analogi ini adalah tentang kita, kehidupan kita, sumber daya yang kita kelola dalam hidup, dan cara kita menghadapi hidup.

Ijinkan saya menggunakan catatan ini sebagai sarana refleksi. Saya hanya sedang berpikir, adakalanya manusia merasa lelah dengan hidup ini. Lelah lantaran sebagian orang Tuhan modali dengan Ferry, sementara sebagian lain mesti memasuki lautan dengan sampan. Kenyataan berakhir dalam hitungan mil tempuhan. Mereka yang berangkat dengan Ferry sudah hilang dari pandangan mata, sementara pengguna sampan seperti satu dua orang di antara kita bergerak merangkak dari dermaga.

Tapi di situ uniknya. Jika saja Tuhan beri kita Ferry terlebih dahulu, mungkin kita tumbuh jadi pelaut yang gampang merengek. Segala fasilitas yang ada di Ferry membuat kita jadi manja. Bahkan mobil, bis, dan truk bisa dibawa dengan Ferry. Dengan skenario ini, jika suatu hari kita terpaksa turun ke sampan di laut antah berantah, sangat mungkin sepanjang sisa perjalanan kita gagal mengambil pelajaran. Alih-alih mengayuh dan mencari cara sampai ke tujuan, kita mungkin menghabiskan waktu dengan cacian, dengan prosesi panjang membandingan agungnya Ferry dengan kemiskinan sampan. Belum lagi tentang potensi tenggelam lantaran porsi cacian yang lebih besar dari porsi kayuhan.

Keterampilan yang diperoleh dengan sumber daya yang matang kadangkala gagal mematangkan kebijaksanaan, meski tidak selalu demikian. Mungkin karena melangkahi proses memasaknya, sehingga sensasi cemas menunggu vonis sukses atau gagalnya terlewatkan. Padahal, di jalan kebijaksanaan, proses-proses ini adalah proses yang penting untuk dialami.

Di atas sampan ini mungkin Tuhan tidak ingin kita terjebak dengan manisnya hasil. Mungkin, Ia lebih ingin kita memahami manisnya proses, hingga tiap kayuhan dan tiap hempasan ombak menjadi teman bukan lagi lawan yang mencemaskan.

Cerita tentang Ferry dan sampan tidak membicarakan satu aspek sumber daya. Ini mencakup banyak aspek kesempatan. Tidak hanya metafora finansial, melainkan juga metafora atas waktu, atas keterhubungan, atas kesempatan, kepercayaan, ketersediaan mentor, lingkungan dan persahabatan, kekuatan mental dan pikiran, atas keunggulan fisik dan daya tahan, atas kejujuran, atas nilai keluhuran yang dijunjung masing-masing orang. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Ini dialog nan panjang. Tidak usah risau memberikan batasan. Biar seperti ombak di laut, diayun dan mengayun dengan mekanismenya sendiri. Memberi arti adalah juga sebuah proses. Pemahaman kita akan definisi juga berkembang dari masa ke masa. Ferry dan sampan biarkan jadi sebuah metafora. Semoga setiap Ferry menjadi optimal dalam fungsinya: mengantar manusia menuju mil demi mil yang lebih sempurna, dan semoga tiap sampan di laut menemukan hakikatnya: mengantar manusia menemui ketangguhan yang lebih sempurna.

 

24 April 2018,

21.06 WIB

Anggun Nadia