Category Archives: Cerita tentang hidup

Story of A Blind Man

Standard

This is a blind man story,

He was obviously brave, undoubtedly,

Not knowing the route, not willing to know evenly.

.

It was him who decided to be blind forever.

To leave all the privilege of having eyes.

He was the one who prayed continously to God to make him stop seeing.

.

That day, this blind man stepped toward a ghostly forest with an unknown end.

Alone.

No doubt, no fear.

Never  looked back, not gave it any second thought.

.

There was a pause before entering the ghostly forest in dark.

About five minutes he stared to nowhere with his blind eyes.

He took a deep breath and decided something in his heart,

Never consulted,  never regreted it.

He stepped forward.

And prepared to die.

.

That day,

Was the last day I saw him, was the last chance people seeing him.

Then,  all we ever know was just one thing:

He had left all the living being.

 

October 11th, 2017

Anadia Fatimah

Advertisements

Tentang Si Gadis Setengah Waras

Standard

Mungkin otak gadis ini korslet sewaktu praktek di kelas elektro saat SMP. Mungkin juga terjangkit virus lokal yang melumpuhkan satu spot kecil di kepalanya, spot untuk bertindak secara biasa. Spot yang memungkinkannya berpikir sebagaimana mestinya, atau setidaknya menurut lumrahnya model pikiran orang-orang di sekelilingnya.

 

Atau mungkin aku yang korslet tiap kali berusaha memahaminya. Gadis ini unik. Dia hidup di dunia yang sama denganku, dibesarkan dengan kelumrahan masyarakat pada umumnya, tapi kemudian memilih jalan yang tidak ada jalannya. Dia menyukai tebing. Bukan karena tinggi dan menantang rasa takut seperti perasaan sebagian orang. Tapi karena di tepi tebinglah terbentang jurang-jurang. Bukan pada tebingnya. Tapi pada jurangnya. Gadis ini tak sepenuhnya waras. Cuma orang gila yang terobsesi pada jurang. Pada ketidakmungkinan.

 

Gadis Setengah Waras ini berjalan sebagaimana orang lain berjalan. Jikalau kau tak langsung menatap matanya lekat, tak sempat mendengarnya bercerita naik turun belok kanan kiri terantuk jatuh bangun lagi untuk kemudian guling-guling dalam imajinasi. Kalau saja kau tak sial menemuinya saat menjalani ritual mimpi siang bolong, mengoceh tentang asal usul kemerdekaan dan berteori tentang kemungkinan-kemungkinan, kau akan sepakat dengan kebanyakan orang: dia gadis biasa, dengan wajah manis dan pandai berkata-kata, cerdas dan cukup bagus IPKnya, juga suka menyapa sekalipun orang yang tak dikenalnya.

 

Tapi aku ialah aku yang membayanginya semenjak TK. Aku menyaksikan metamorfosisnya. Mengamatinya kala ia masih ulat yang berjuang jungkat jungkit menjangkiti daun dengan capitnya yang sempit. Menemaninya saat garis-garis halus mulai membungkus dan menyelimutinya hingga matahari pun terasa gelap. Aku di situ saat ia tercekat dalam kepompong, berusaha menembus dengan taring imajiner yang terbang duluan sebelum sayapnya terbentang. Aku adalah aku yang terus di situ. Dan karenanya aku berani bilang, gadis ini memang setengah waras adanya.

 

Namanya Ranum. Usianya seperempat abad sedikit lewat. Latar belakangnya tidak begitu penting. Tak perlulah diulas. Jangan sampai sedikit banyak kamu jadi tertular. Aku? Aku tidak tertular. Aku hanya bayangan, tak butuh pandangan hidup yang spesial. Tak butuh tempat dan lakon partikular.

 

Diantara semua hobinya, Ranum paling suka berteori. Menghabiskan usia dengan membaca kepingan informasi alih-alih membaca dari A sampai Z secara kronologis. Dengan begitu, dia jadi bebas menginterpretasi, begitu katanya.

 

Di antara semua ceritanya, Ranum paling ahli menganalogi. Melahirkan diksi-diksi fiksi. “Dunia ini tak suka kejujuran. Maka biarlah aku jujur dalam keterselubungan. Akan kulebur kenyataan-kenyataan dalam analogi fiksi.” Dia senang, menyesatkan orang dalam ceritera, hanya dengan begitu katanya, dia merasa dunia dan dirinya bisa bicara dalam bahasa yang sama.

 

“Hanya dalam ketidakmungkinan, katanya, kemungkinan-kemungkinan mendapatkan artinya.”

 

Gadis Setengah Waras : Episode Pertama,

17.52 WIB

14 September 2017