Author Archives: mentaridicelahsabit

About mentaridicelahsabit

sederhana saja

Balon Nitrogen

Standard

Dalam hidup, kita berpapasan dengan banyak orang. Sebagian diantaranya menitipkan mimpi mereka dalam sebuah balon nitrogen. Menggelembung penuh, untuk diterbangkan jauh.

Kata mereka mimpi-mimpi ini suatu kali akan menyentuh awan. Mereka percaya, lebar jarak antara tanah dan langit itu selebar keyakinan, kekuatan harapan, dan pantang menyerahnya usaha. Orang-orang dengan kepala dan hati yang penuh mimpi. Orang-orang yang menyerahkan angan pada balon gas dan membiarkan mengudara. Lepas hingga tak nampak dari tempat mereka berpijak.

Aku ingin bilang. Cerita balon gas hebat sekali di telingaku kedengaran. Meski aku punya sebagian hati yang melihat, bahwa balon gas tak selamanya asosiasi yang ideal dan tepat. Acapkali mimpi butuh kaki. Butuh pijakan yang jelas. Butuh tangga untuk sampai di level selanjutnya. Butuh diinisiasi, tapi juga butuh  motivasi dan tujuan tegas  bukan ilusi.

Maka biarlah. Sebagian mimpi berdesakan dalam satu dua balon nitrogen yang terbang ke udara. Dalam lampion merah yang dibakan oranye ketika imlek. Biar direngkuh angin dan dipecahkan bersama hujan dan pelangi. Aku titip salam buat awan dan bintang.

Dan pun marilah. Sebagian mimpi yang lain, yang lebih mudah  diberi kaki, kita beri kaki. Agar berpijak pada bumi dan naik setangga demi setangga menuju level yang lebih tinggi. Meski bukan awan atau matahari. Meski hanya menjangkau hingga setinggi beberapa lantai, itu pun tidak apa. Karena mimpi-mimpi itu beragam sekali wujudnya. Dan tak melulu sama cara untuk mencapainya. Sebagian hadir untuk diupayakan. Sebagian diilhamkan untuk diwujudkan. Dan sebagian lagi, mungkin, hanyalah sebuah cara bagi manusia, untuk berdialog dengan harapan.

 

06.07 WIB

Senin, 19 Februari 2017

Anggun Nadia.

Advertisements

Construct – Deconstruct – Reconstruct

Standard

Cerita ini terinspirasi penuh oleh episode gagalnya haircut. Nggak sepenuhnya gagal sih, cuman semacam agak kurang puas aja. Dua malam berikutnya seorang teman kosan mengomentari potongan rambut anak-anak lantaiku (yang kebetulan baru pada potong rambut di waktu dan kesempatan yang beda). Dia bilang dia juga ingin potong rambut lantaran rambutnya sedang bermasalah. Kubilang, “potong aja mba, terus diurus lagi dari awal.” Agar membaik pertumbuhan rambut itu ke depannya.

Ini cuma beranda, bukan ini inti ceritanya.

Kadang lucu memang, pikiran kita melompat-lompat. Lompatan yang tak selamanya random.  Acapkali itu malah lompatan yang mengantar kita memikirkan hal penting di balik kejadian yang tidak begitu penting.

Kali itu, pikiranku melompat dari soal haircut menuju frase construct – deconstruct – reconstruct. Masuk kamar, kututup pintu, dan mulailah pikiranku berhambur. construct – deconstruct – reconstruct, kita tercipta untuk mengalaminya berkali-kali. Acapkali kejatuhan kita, kegagalan, rusaknya rencana, adalah tanda awal untuk mengubah arah rencana. Dan tak jarang pula, perubahan itu melibatkan proses dekonstruksi yang menyesakkan hati.

Bukan soal rambut tentu, banyak episode hidup yang menuntut kita untuk mendekonstruksi mimpi, dekonstruksi isi hati dan cara pandang ini, dekonstruksi kebiasaan dan rutinitas kita. Dekonstruksi atas hal yang tak nyaman, maupun hal yang membuat kita nyaman. Hal-hal yang sebagiannya kita awali dengan konstruksi setengah mati, meski tak semua, karena sebagian konstruksi memang terwujud setengah hati. Apapun itu. Tapi  begitu nampaknya prosesnya, berkali-kali. Dibangun, untuk dihancurkan pada suatu kali, untuk kemudian diperbaiki dan dibangun kembali. Mungkin untuk hancur lagi nanti.

Di atas tanah yang membara, kehidupan baru tumbuh dan mendapati udara.

 

16 Januari 2018

09.33 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Tidak Datang dengan Paksaan

Standard

“Bu, kenapa kita harus ikhlas?”

“Agar hati kita lega dan hidup kita bahagia.”

“Ibu sering bilang soal ikhlas. Tapi kenapa tadi waktu aku punya banyak permen dan nggak mau bagi sama anak di sebelahku itu, ibu nggak nyuruh aku berbagi? Nggak nyuruh aku ikhlasin aja permennya sebagian?”

Si ibu menatap anaknya  lalu tersenyum. “Ibu nggak mau maksa. Soal ikhlas sebelum itu udah banyak kita membahasnya. Ibu percaya kamu perlahan akan memahaminya.”

“Ibu yang lain kalau ngajarin anaknya suka ngingetin terus kan, dan suka negur kalau anaknya nggak ngejalanin sesuai yang ibunya ajarin. Ibu nggak kaya gitu?”

“Kadang ibu juga begitu. Tapi pada dasarnya ibu percaya, ilmu itu sama seperti ikhlas. Nggak bisa dipaksa. Keduanya diajarkan tapi nggak akan tumbuh mandiri di hati pelajarnya jika dipaksa-paksa. Pelan-pelan aja. Manusia punya prosesnya. Ibu percaya.”

“Ibu aneh, tapi aku suka.”

“Aneh kenapa?”

“Ibu yang lain bahasanya boleh nggak boleh. Ibu enggak. Ibu yang lain nyuruh dan maksa, ibu enggak. Ibu juga nggak kaya ibu lain kalo lagi ngobrol sama anaknya. Ibu jarang pakai bahasa anak-anak, ibu ngomong sama aku kaya ibu ngobrol sama teman-teman ibu, kaya ngobrol sama orang dewasa.”

“Dulu waktu ibu kecil, di bawah 10 tahun waktu itu, ibu memahami pembicaraan orang dewasa dalam bahasa orang dewasa. Dunia berubah dan manusia berkembang. Ibu percaya anak jaman sekarang punya kapasitas yang sanggup melampaui kapasitas ibu di waktu itu.”

“Ibu nggak maksa bukan karena ibu nggak peduli, juga bukan karena ibu selalu setuju. Tapi karena ibu berusaha percaya kalau setiap anak punya kompasnya sendiri. Ibu nggak ingin jalan di depanmu, ibu ingin jalan bersamamu, di sampingmu.”

“Ilmu, pelajaran, rasa ikhlas, dan kesediaan untuk berbagi itu, seperti juga bentuk kebaikan lainnya di bumi ini, Nak, tidak datang dengan dipaksa. Ia datang dengan sukarela. Ibu yakin, itu rute terbaiknya untuk menjangkau pemahaman kita.”

Si ibu tersenyum. Berangkat dari posisi berlututnya di lantai kayu, kembali berdiri dan menggamit jalan lengan anaknya. Sore jatuh dan episode itu diselesaikan dari layar. Tak kulihat lagi lanjutnya bagaimana. Mungkin, beberapa pelajaran memang datang dalam cuplikan.

16 Januari 2018,

09.55 WIB

Anggun.