Titip

Tanganku pendek, maka aku tak mampu menjangkau ke situ. Aku berusaha, tapi malah memperbesar luka. Padahal, aku berpura-pura enteng hanya agar langkahnya ringan. Sayangnya hatinya sudah keburu pecah. Yang ada, aku menumpahkan satu ton garam ke luka yang menganga di dadanya.

Maaf tidak lagi penting. Kata yang sama sudah jadi mantra untuk menutup hati yang luka, “gak apa apa”. Itu sudah. Mantra. Tidak berhasil menutup luka tapi setidaknya menutup akses orang lain ke hati kita.

Tak ada yang bisa kulakukan di titik ini kecuali menitipkannya pada pemilik segala rahasia. Pada Dia yang paham penuh apa yang kusembunyikan dan apa yang aku nyatakan. Karena hanya Tuhan pada akhirnya, yang mampu menyembuhkan luka dan mengangkat nestapa. Bukan aku. Bukan siapa-siapa.

Maka di titik ini aku hanya bisa menitipkannya pada Tuhan. Untuk dicintai, untuk digembirakan, untuk dikembalikan senyumnya. Karena jangkauku tidak lagi berguna dan tidak membawa kecuali potensi luka yang lebih digdaya. Kepada Tuhan cinta ini aku kembalikan. Kepada Tuhan, hati ini dan hati yang itu aku percayakan. Semoga dalam perjalanan kali ini, apapun yang terjadi, kepada Tuhanlah akhirnya Tuhan membimbing kita kembali.

Aku nggak bisa apa-apa. Cintaku nggak sanggup menghadirkan senyum apalagi menjanjikan bahagia. Tapi Tuhan punya semuanya. Tuhan Maha Kuasa, Maha Lembut dan Penyayang pada hati yang penyayang, seperti hati indah yang terluka karena kebodohanku yang berusaha menjangkaunya dengan tangan. Hanya tangan Tuhan yang sanggup membebat luka. Semoga di sana, pendarahan jiwamu berhenti segera.

Kumohon, tetap jadi orang baik ya. Berat sekali bagiku menyaksikan satu orang baik sengsara. Lebih berat lagi manakala akulah si sumber nestapa. Dear cinta… Aku berdoa, semoga kamu dan hatimu baik-baik di sana. Semoga Tuhan mencintaimu dan membimbingmu (dan aku juga) pada cintaNya. Satu-satunya cinta yang nggak akan pernah gagal menghadirkan damai, kemenangan, dan bahagia.

16.25 WIB, 19 April 2021/7 Ramadhan 1442 H

Aku ingin minta maaf, tapi lebih penting bagiku kamu berhenti terluka. Karenanya, aku berhenti menjangkaumu dan menitipkanmu padaNya. Dear cinta… Hiduplah dengan bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: