Dalam Hidup…

Dalam hidup, akan ada titik dimana kita telah menjadi terlalu lelah untuk menghujat rasa sakit. Tidak ada lagi selera untuk menanggapi sumpah serapah, kata-kata keji, tuduhan tanpa dasar, dan ketakutan yang disamarkan dalam amarah. Kala itu, siapapun yang menyumpahimu tak kan lagi kau rasai. Titik itu adalah titik dimana kita telah begitu lelah menanggung hidup.

Hanya satu nyawa. Tak punya pilihan untuk menghentikan langkah. Harus melanjutkan meski tujuan tak kunjung kelihatan. Kenapa rel tak habis-habis digigit roda kereta. Satu perhentian berlanjut ke perhentian berikutnya. Seterusnya saja, entah sampai kapan membentuk putaran. Akhir adalah awal baru perjalanan. Dan sedihnya, awal adalah akhir dari kenangan.

Hari berganti seperti daun yang luruh satu-satu. Dibawa angin hingga terlupa, dimana awal, kemana akhir. Hanya terbang. Menemani debu, dicabik waktu, dan ikut menjelma debu. Kita sedang dimana. Kenapa semua lorong adalah lorong gelap. Terjebakkah kita dalam labirin yang dahulu kita bangun dengan sukarela. Atau bahkan sukacita. Beginikah rasanya menemukan, taman bermain menjelma taman makam. Sarat bau tanah basah tertimpa hujan.

Masih. Sungguh masih terasa indah setiap kenangan yang terselip dalam ingatan. Hidup juga pernah membawakan segar bunga-bunga dan manis gula-gula. Hidup juga pernah dengan bijaksana mengajar kita untuk tabah. Hidup juga pernah menegarkan kita dan menghadiahkan semangat, yang didaur dari senyum tulus, milik jiwa yang tau betul arti berdamai dengan luka.

Sebuah Perhentian, diambil pada Februari 2021

Tapi hidup juga pernah menjebak kaki dalam lumpur hidup. Menyeret ke pusat bumi, tak punya pilihan untuk lari. Hidup juga pernah menimpakan kesedihan tak tertanggungkan. Tumpah di malam-malam. Tumpah di jalan-jalan. Tumpah dari langit, tegas menjadi hujan. Hidup adalah labirin paling panjang, dengan satu saja pintu keluar paling terang.

Tapi dimana kita hari ini. Di sisi labirin mana kita sedang sembunyi. Apa yang kita temukan di sudut ini. Tidakkah ada suara selain lolongan anjing dan serigala. Sesuatu untuk menebas sepi yang menghanyutkan kesadaran dalam luapan sungai air mata. Dimanakah cahaya jika bukan dari bulan di atas sana. Tidakkah adalagi manusia yang tersisa. Tidakkah ada lagi kata-kata bijak yang mampu menawar luka.

Dalam gelap malam hari ini, aku tersadar. Aku tengah duduk di sisi labirin dimana sebuah sungai mengalir. Dengan hatiku sebagai pangkal alirnya. Pantas, gemericiknya terasa sangat familiar. Dan rasa asinnya, benar-benar aku kenal.

17.09 WIB, 17 April 2021/5 Ramadhan 1442 H

,karena kita butuh mengalirkan perasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: