Si Keras Kepala

Si keras kepala terantuk di sebuah jembatan saat dirinya amat sangat ingin menyeberang. Ia menangis semalam dengan pilu sepilu-pilunya. Tapi si keras kepala adalah dia yang tak mudah menyerah pada keadaan. Ia menyeret dirinya dari jembatan antara dua jurang ke bawah pohon di dataran asalnya. Duduk berjam-jam menantikan bintang.

Si keras kepala lalu berpikir ulang. Adakah jalan untuk sampai ke seberang tanpa lewat jembatan…? Ia pun memilih mengetuk pintu senantiasa terbuka. Pintu-pintu waktu. Pintu-pintu Empunya waktu. Masih ada jalan, yang tak harus lewat jembatan, pikirnya. Bukankah ketika kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, fokus kita adalah menempuh sebaik-baik usaha. Bukan merengek-rengek penuh paksaan.

Maka si keras kepala mengulir jalan. Ia mendaki ke langit dan menyusupkan impian di antara debu-debu bintang. Si keras kepala teringat, yang seperti ini pernah dilakukannya beberapa kali. Untuk bentuk impian yang berbeda, dengan proses dan hasil yang beraneka. Tapi yang manapun hasilnya, si keras kepala hanya ingin melakukan yang terbaik yang masih mungkin dilakukannya.

Di titik ia telah bisa merelakan ekspektasinya, di saat mana ia telah berani memeluk segenap ketakutannya, di kala itulah si keras kepala bisa memberikan 100% upaya terbaiknya.

Si keras kepala itu aku. Dan aku bahagia memiliki diriku.

14.29 WIB, 14 April 2021/2 Ramadhan 1442 H

Aku. Si keras kepala itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: