Sebuah Jembatan

Aku berdiri di tubir sebuah jurang. Ingin menyeberang. Sangat-sangat ingin.

Jembatan itu jembatan kayu, terentang tinggi diantara dua bibir jurang. Jurang yang terlalu dalam. Jatuhlah, dan jangan tanyakan apa yang datang kemudian. Aku berdiri di tubir sebuah jurang. Ingin menyeberang. Sangat-sangat ingin menyeberang.

Tapi langkahku tertahan. Jurangnya terlalu dalam, jembatannya goyang, angin terlalu kencang, dan aku fobia ketinggian. Tapi aku sangat-sangat ingin menyeberang.

Pernahkah melihat orang yang terobsesi pada keinginan. Melupakan semua hambatan dan berlari menuju impian. Aku ada di titik itu sekarang. Titik dimana ketakutan terkalahkan oleh kesungguhan, ketidakberdayaan mengerdil dan menyusut hingga hilang dari peradaban. Titik dimana rintangan apapun tidak lebih signifikan dari kekuatan keinginan.

Dan akupun menyeberang. Mencoba menyeberang tapi kembali tertahan. Pada papan kayu kedua, langkahku terhenti. Angin bertiup kencang dan rasa ragu menyesakkan napasku. Aku terduduk di atas papan kayu. Jembatan ini bergoyang, kencang dan semakin kencang. Napasku terhenti bersama detak jantung yang meluncur tak keruan.

Aku tergugu di tempat yang sama, berhari-hari. Nun jauh di dalam hatiku, sungguh, aku sungguh ingin berlari.

10.30 WIB, 13 April 2021

Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: