Terpandu

Pada suatu hari yang cerah, aku membaca unggahan seorang teman. Teman dalam kamusku tidak selalu seumuran ya. Teman yang ini, sebut saja Rilakuma, usianya sekitar 42 atau 43 tahun. Rilakuma punya dua anak, yang sulung baru masuk SMA, yang bungsu masih SD sekitar kelas 3. Hari itu, Rilakuma mengunggah memori, unggahannya bertahun silam berisi percakapan dirinya dan si bungsu yang waktu itu masih kecil. Isi percakapan itu kurang lebih begini,

Si Bungsu: Bunda, kenapa burung nggak pernah nyasar. Padahal kan burung nggak punya GPS…?

Bunda Rilakuma: Karena burung bertakwa, dek… Jadi jalannya dipandu Allah….

Wkwkwkwk…. Mohon jangan bayangkan adegan percakapan orangtua penuh syukur dan ketakwaan yang sedang mengajar anaknya dengan sepenuh hati mendekati Tuhan. Rilakuma adalah orang baik, dia muslim, dan insya Allah terus berusaha memperbaiki diri dengan caranya. Tapi aku kenal Rilakuma. Jawaban itu di telingaku lebih terdengar seperti eyelan asal jawab, yang penting nggak kalah gengsi sama si bungsu. haha…

Jawaban itu tentu ada benarnya. Dan Alhamdulillah di tengah usahanya untuk tidak kalah pintar dari si bungsu, Rilakuma memberikan jawaban yang “ada benarnya”. Hahahaha….

Tapi poinku lebih pada kebenaran yang dikandung pernyataan itu. Percakapan ibu-anak biar jadi bahan hiburan saja. Aku lebih tertarik menyesapi nilai benar dari kalimat, “karena burung bertakwa, jadi jalannya dipandu Allah.”

Bukan… Aku bukan sedang ingin menceramahi siapa-siapa. Aku juga masih jauh dari takwa. Ini tentang pertanyaan Uki di email terakhir yang kuterima sekitar awal maret lalu. Itu balasan imelku berbulan, atau malah hampir setahun lalu. Dasar Uki, dia datang kalau ingin. Kalau lama tak berkabar, nanti-nanti dia akan pamer dirinya yang sok sibuk. Padahal instagram aktif. Kirim imel aja beuuhh.., setaun sekali. Anak siapa sih ituu??! (anyway, tentang Uki bisa dibaca di sini).

Di imel terakhir Uki bertanya, “Pernahkah Bu Anggun merasa khawatir tentang jalan mana yang harus kita tempuh di depan sana? Jalan yang belum kelihatan, hingga kita tidak tau apa yang semestinya kita lakukan…” — well, redaksinya sudah kuparafrase ya. Kurang lebih demikian.

Aku belum balas imel uki. Belum punya jawaban yang sesuai dan meski tak sepenuhnya objektif dan bernilai benar, setidaknya kuharap aku tak membuatnya tersesat. Entah bagaimana baru saja ingatanku lesat ke unggahan si Rilakuma. Haruskah ku buat saja narasinya berdasarkan jawaban Rilakuma pada anak bungsunya,

“Karena burung bertakwa, jadi jalannya dipandu Allah.”

Si Rilakuma

Khawatir itu wajar, itu tandanya kita berpikir jauh. Bingung itu wajar, karena yang tak pernah bingung mungkin hanya dia yang tak pernah berpikir dan menghabiskan waktu mencari jawaban. Tapi penting untuk kita sadari (ntms juga untukku yang kecanduan overthinking), bahwa Tuhan nggak pernah absen. Tuhan selalu ada untuk menunjuki hati, memandu langkah, dan menjaga kita dalam kebaikan. Berpikir saja demikian. Bukankah Tuhan selalu bilang, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-hambaKu.”

Semoga dengan begitu, baik Uki, aku, atau siapapun itu bisa melangkah dengan lebih ringan. Mungkin, kita memang hanya perlu menyadari bahwa kita sejatinya hidup dalam rencana sempurna yang dicipta langsung oleh Dia, Tuhan yang Maha Hidup, Maha Sempurna, Maha Kasih Sayang.

14.34 WIB, 12 Maret 2021

Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: