Tidak Datang dengan Paksaan

Standard

“Bu, kenapa kita harus ikhlas?”

“Agar hati kita lega dan hidup kita bahagia.”

“Ibu sering bilang soal ikhlas. Tapi kenapa tadi waktu aku punya banyak permen dan nggak mau bagi sama anak di sebelahku itu, ibu nggak nyuruh aku berbagi? Nggak nyuruh aku ikhlasin aja permennya sebagian?”

Si ibu menatap anaknya  lalu tersenyum. “Ibu nggak mau maksa. Soal ikhlas sebelum itu udah banyak kita membahasnya. Ibu percaya kamu perlahan akan memahaminya.”

“Ibu yang lain kalau ngajarin anaknya suka ngingetin terus kan, dan suka negur kalau anaknya nggak ngejalanin sesuai yang ibunya ajarin. Ibu nggak kaya gitu?”

“Kadang ibu juga begitu. Tapi pada dasarnya ibu percaya, ilmu itu sama seperti ikhlas. Nggak bisa dipaksa. Keduanya diajarkan tapi nggak akan tumbuh mandiri di hati pelajarnya jika dipaksa-paksa. Pelan-pelan aja. Manusia punya prosesnya. Ibu percaya.”

“Ibu aneh, tapi aku suka.”

“Aneh kenapa?”

“Ibu yang lain bahasanya boleh nggak boleh. Ibu enggak. Ibu yang lain nyuruh dan maksa, ibu enggak. Ibu juga nggak kaya ibu lain kalo lagi ngobrol sama anaknya. Ibu jarang pakai bahasa anak-anak, ibu ngomong sama aku kaya ibu ngobrol sama teman-teman ibu, kaya ngobrol sama orang dewasa.”

“Dulu waktu ibu kecil, di bawah 10 tahun waktu itu, ibu memahami pembicaraan orang dewasa dalam bahasa orang dewasa. Dunia berubah dan manusia berkembang. Ibu percaya anak jaman sekarang punya kapasitas yang sanggup melampaui kapasitas ibu di waktu itu.”

“Ibu nggak maksa bukan karena ibu nggak peduli, juga bukan karena ibu selalu setuju. Tapi karena ibu berusaha percaya kalau setiap anak punya kompasnya sendiri. Ibu nggak ingin jalan di depanmu, ibu ingin jalan bersamamu, di sampingmu.”

“Ilmu, pelajaran, rasa ikhlas, dan kesediaan untuk berbagi itu, seperti juga bentuk kebaikan lainnya di bumi ini, Nak, tidak datang dengan dipaksa. Ia datang dengan sukarela. Ibu yakin, itu rute terbaiknya untuk menjangkau pemahaman kita.”

Si ibu tersenyum. Berangkat dari posisi berlututnya di lantai kayu, kembali berdiri dan menggamit jalan lengan anaknya. Sore jatuh dan episode itu diselesaikan dari layar. Tak kulihat lagi lanjutnya bagaimana. Mungkin, beberapa pelajaran memang datang dalam cuplikan.

16 Januari 2018,

09.55 WIB

Anggun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s