Diantara Pencarian-Pencarian

Standard

Sementara orang bilang “rejeki harus dicari” dan “rejeki harus dijemput”, baru-baru ini aku ketemu orang dengan perspektif yang agak-agak jarang kedengaran. Katanya, “rejeki itu amanah, mesti dikelola dan disampaikan kepada yang berhak sebagaimana mestinya.”

Kalau saja orang ini berhenti di kalimat ini aku akan berpikir, “oh… iya memang begitu kan ya. Selalu ada hak orang lain dalam rejeki kita.” Sayang dia melanjutkan, hingga pikiran di kepalaku itu pun terlanjur terhentikan.

Waktu itu orang ini bilang, “Karena rejeki sudah ditetapkan, mungkin amanah kita sesungguhnya bukanlah mencari rejeki sebagaimana orang-orang katakan. Aku berpikir jangan-jangan, amanah kita itu sejatinya adalah mengelola dan mengalokasikan rejeki. Jadi Tuhan itu penjamin rejeki kita, sementara kita adalah perpanjangan rencana Tuhan untuk menyinambungkan usia semesta.” Dia juga bilang, “Aku percaya kita semua lahir dengan mengemban peran. Dalam pentas yang kita kenal sebagai hidup, Tuhan adalah penulis skenario, sutradara, sekaligus produser cerita hidup kita. Dan masing-masing kita hanyalah aktor-aktor yang memerankan sesuai alur yang Tuhan tetapkan, mungkin dengan sejumlah kebebasan berimprovisasi. Tapi  jalan kita, peran kita, adalah peran yang menjadikan kita sebagai ‘aktor A’ yang mesti dilahirkan ke semesta. Spesifik, purposif, non identik.”

Orang ini mengingatkan aku pada secarik kertas yang kulupa sudah dahulu kubaca dimana. Tapi aku ingat aku memotretnya. Potongan tulisan Shakespeare, yang isinya renungannya si penulis soal keberadaan manusia dalam hidupnya. Mirip-mirip dikit sama perspektifnya si orang yang lagi merenung tentang rejeki itu. Mungkin dia pernah baca, atau mungkin pernah dengar yang serupa. Entahlah. Aku sedang belajar untuk tidak repot-repot mengkonfirmasi segala hal. Biar mengalir saja. Mencair sebagai air. Terlupakan sebagaimana air-air di selokan. Nanti jikalau sampai ke hutan-hutan dan tercucikan, nanti jikalau sampai ke samudera dan kembali menjadi hujan,  nanti juga berubah jadi tumbuh-tumbuhan, mekar jadi bunga-bungaan.

Waktu itu Shakespeare bilang,

All the world’s a stage,

And all the men and women merely players,

They have their exits and their entrances,

And one man in his time, plays many parts, ...

Aku berpikir, mungkin renungan si orang ini ada benarnya. Manusia memang bertebaran mencari rejeki, tapi bukan karena mereka ditakdirkan sebagai mesin pencari. Melainkan karena mencari rejeki itu adalah bagian dari siklus hidup yang sudah didesain untuk memastikan manusia tetap hidup sedemikian rupa hingga waktu yang ditetapkan oleh Tuhan buat kita. Dan ada baiknya memandang positif renungan ini, bahwa benar juga, jangan-jangan manusia itu amanahnya lebih ke  soal alokasi, yakni untuk jadi agen-agen yang Tuhan kirim untuk menjamin kelangsungan hidup sendiri sebagai aktor, sekaligus juga mengambil peran dalam hidup orang lain dan dalam desain besar bernama hidup itu sendiri.

Bila amanah kita adalah alokasi, maka menjadi penting juga buat kita untuk tidak sekadar memiliki/memperoleh rejeki. Tapi juga untuk menyampaikan rejeki itu kepada pihak lain sebagaimana Tuhan senangi.

Hipotesis.

Orang bilang hipotesis itu abstraksi yang masih mentah. Pun mentah biarlah, toh tidak ada yang salah dengan mentah. Yang salah itu kalau kita yang menganggap mentah itu sama dengan matang, alias menerima mentah-mentah hipotesis orang sebagai kebenaran. Aku pribadi percaya, hipotesis nggak selamanya benar, nggak selamanya perlu bernilai benar. Hipotesis adalah tanda sebuah perenungan memasuki tahap perenungan yang lebih dalam.

Hidup adalah perjalanan merindukan kesimpulan. Mencari closing yang melegakan hati, sedari samudera, ke gunung, hingga sesat di hutan-hutan. Hidup adalah perjalanan mencari kesimpulan, yang sayangnya acapkali terlupakan : sebuah tempat untuk pulang, sebuah tempat yang penuh kedamaian, sebuah tempat yang mengindikasikan pertemuan hati dengan kebesaran Tuhan.

 

11.59 WIB, pas banget mesjid sebelah mulai Adzan.

11 Januari 2017,

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s