Aryou Arya(?!)

Standard

“Kalau anak baik itu daratan dan anak nakal itu lautan, saya di pantainya, Bu.” (Arya Pradipta, 2018)

 

Arya itu murid saya waktu masih main-main di sekolah alam. Waktu ketemu dia, dia masih kelas 5 SD, sekarang udah mau UN SMP. Tahun berlalu cepat ya. Arya manis dikit lagi bertransformasi jadi Arya ganteng, lengkap dengan branding “Aryou”-nya di blog pribadinya dia. Di blog itu, dia menyebut dirinya “Aryou!”

 

Si Arya ini paling pintar di kelasnya. Pintar, cerdas, cekatan, pemberani, tapi santun. Curiositynya tinggi. Dia dibesarkan oleh sepasang orangtua cerdas yang cerdas dalam mencerdaskan. Rasa ingin tahu Arya dikembangkan, instead of dimarjinalkan dan dianggap nggak penting. Pufff… Jadilah Arya The Explorer yang percaya diri dan punya sudut pandang meyakinkan dalam hidup, padahal baru kelas 3 SMP. Ah man,  you should know this kid!

 

Sedari Arya lulus hingga beberapa hari lalu saya belum ada kontak lagi sama Arya. Tempo hari setelah mampir ke laman instagramnya Arya, yang menyediakan link ke blognya dia, saya pun menghubunginya. Semacam, “Arya! Aku mampir ke blogmu, dan aku menikmatinya!”  begitu. Buat yang nggak kenal Arya, mungkin itu blog biasa aja. Tapi karena itu blog memang Arya banget, alias sudut pandangnya doi tuh emang kuat, rasanya jadi kaya ngeliat Arya langsung, kaya ngedengerin Arya cerita kaya dulu. Kangen Arya jadinya.

 

Kami mengobrol pendek di direct message instagram, karena memang udah nggak punya nomor Arya atau nomor orangtuanya Arya di ponsel. Maafkan, ponsel saya memang acapkali hilang atau rusak. Semoga ke depannya lebih sehat dan jarang kena kasus lagi ya, hehe.

 

Sampailah saya pada pertanyaan, “gimana SMP? Seru?” Arya pun bilang, “seru, seru..! Masa transisi, anaknya nakal-nakal.” oiya, saya belum bilang. Arya ini kecerdasannya dan penguasaan bahasanya di atas rata-rata.  Jadi dia paham tuh sama istilah-istilah rumit dan logika yang lebih rumit dari yang kebanyakan anak usianya pahami. Bukan baru ya, sejak dulu. Sejak SD. Ngobrol sama Arya itu imajinatif tapi presisi. Dia tau apa yang dikatakannya, dan tau bagaimana menyampaikannya. Dia kanak-kanak yang berpikiran dewasa, dan mendewasa sembari menyimpan citarasa manis kekanak-kanakannya.  Always love Arya!

 

Arya itu beda. Iya, dia punya citarasa. Sementara kanak-kanak lain (waktu saya masih guru kelasnya Arya) kalaupun pintar palingan jago ngafal atau rajin baca sehingga cakap jawab  pertanyaan ujian, Arya was in different level. Dia bisa ngafal, bisa baca buku, bisa berpikir logis dan mengemukakan alasan rasional, dia bisa jawab pertanyaan ujian dengan baik dan benar. Tapi bukan itu yang saya suka mati-matian dari Arya. Dia itu, punya stand point! Dia  mengembangkan sudut pandangnya terhadap dunia. Dia punya opini dan opininya berlandas pada konsep logis dan etik di kepalanya dia, jadi nggak sembarang opini alias opini asal bunyi.  Arya is smart! Oiya, dia juga jago gambar. Jago bikin komik srip. Hihi. Haha. Maaf ya, saya memang penggemarnya Arya. Walaupun pada dasarnya saya menggemari banyak anak-anak, karena dari mereka ada aja yang luar biasa keliatannya buat saya. haha. Norak.  Biarlah. Toh jujur ini.

 

Kembali ke obrolan dengan Arya. Melanjutkan pertanyaan, saya pun menulis, “waahh seru tuh masa transisi, jadi warna-warni. Ikut nakal-nakalan nggak?”  Ini pertanyaan iseng, toh saya kenal Arya kan. Meski manusia berubah, orang yang stand pointnya berlandas konseptuasi logis-moril-relijis dan punya karakter kuat kaya Arya, nggak akan gampang tergoyahkan. Terpengaruh mungkin, tapi nggak lantas kehilangan identitas. Seneng aja gangguin Arya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dan well, sebagaimana biasa saya justru yang belajar banyak dari kanak-kanak (yang notabene udah jadi ABG kini hari), saya nggak menduga jawaban ini meluncur dari Arya.

 

“Kalau anak baik itu daratan dan anak nakal itu lautan, saya ada di pantainya, Bu.” (Arya Pradipta, 2018).

 

See? Jawaban non mediocre.

Buat saya yang sempat dua tahun main sama anak-anak SD, ini jawaban nggak standar. Ada banyak anak imajinatif yang saya temui. Tapi yang paling menyenangkan itu kalo nemu anak pintar, imajinatif, dan berhati baik. Ya yang model-model Arya, Syauqi, Panglima. Haha. Mereka anak-anak berhati lembut dan manis. Heads in the cloud tapi logis, rasional, santun, tapi tetep nakal. Lucu kan…? Hahahah….

 

Jawaban Arya itu imajinatif banget. Imajinatif, alegoris, asosiatif, dan di saat yang sama presisif deskriptif. Manis. Jawaban Arya jadi semangat saya pagi ini. Bahwa di antara kacau balaunya dunia persilatan, ada saja satu dua bibit-bibit harapan. Arya nggak cuman bilang kalau dia anak tengah-tengah. Tengah-tengah bagi sebagian orang adalah jawaban aman. Tapi bagi sebagian orang lain, semoga Arya salah satunya, ya memang itu posisi pilihan. Karena adanya alasan-alasan, yang nggak sekedar cari aman, atau cari banyak teman. Itu perspektif, sekali lagi itu perspektif. Buat yang memilih jalan di kanan aja atau di kiri aja, percayalah, Insya Allah kita tetap bisa saling menghormati. Okey? No hard feeling ya. Don’t ever forget ya, we’re not The Judge.

 

Membaca Arya mengingatkan saya, ada terlalu banyak pikiran yang saya hambat di kepala saya. Itu kenapa ada banyak tulisan saya yang gagal selesai. Ada banyak kata-kata yang saya ketik kemudian saya hapus dan akhirnya menyerah, nggak dilanjutkan.

 

Kita perlu mengalir, Anggun. Membiarkan isi kepala kita bertaburan. Kita bukan pelita yang lahir untuk menerangi dunia. Kita cuman manusia bukan setengah dewa, kalaupun berlaku salah itupun manusiawi. Kalaupun merasa lemah itu pun bisa dimaklumi. Kalau bingung, bilang aja bingung. Persis seperti Arya yang mengomentari kids jaman now yang boncengan bertiga pergi ke taman. Kalau nggak suka bilang aja nggak suka. Tetap santun aja. Cuman ya gitu, nggak usah dihambat. Biarkan mengalir. Karena menulis itu bukan untuk orang lain, Anggun. Tapi lebih untuk diri kita sendiri. Untuk mengalirkan emosi, untuk menceritakan pikiran-pikiran yang rumit kelelahan, untuk membicarakan mimpi-mimpi dengan diri kita sendiri. Dengan semua wacana itu, kita menjelma jadi diri kita yang terbarukan. Apudetto, kalo kata Sabao.

 

Dengan ini saya menyatakan, saya off dari editan. Ingin membiarkan lepas ke alam, semua yang bertujuan maupun yang iseng ingin saya lepaskan. Dengan ini, saya masa bodoh dengan pikiran orang-orang. Kalaupun orang lain nggak sepakat, ataupun enggak ngerasa dapat manfaat, mohon maaf saja. Anggap saja ini surat buat diri saya sendiri sepuluh tahun lagi. Saya hanya ingin mengapresiasi, kelabu sebagai kelabu, dan biru jingga sebagai biru jingga. Walaupun orang bilang saya buta warna, nggak papalah. Setidaknya saya jujur, benar kelabu itu dan benar pula biru jingga itu, warna yang saya pahami lewat mata kepala saya (yang mungkin bagi sebagian orang masuk kategori buta warna itu). Kita tidak bisa menjaga semua pihak senang selamanya. Tapi kita selalu bisa memilih untuk jadi diri kita apa adanya, selamanya.

 

Salam,

Dari dia yang mencintai pikiran kacau-balaunya.

05.18 WIB, 4 Januari 2018.

Anggun.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s