Anomali

Standard

Halo! Saya Anomali!

 

Panggil saya Anomali. Saya berbeda dengan dunia di sekitar saya, mungkin nggak dengan seluruh dunia. Siapa saya berani mengklaim demikian, padahal, belum seluas lapangan bola bagian dunia yang pernah saya pijak.

 

Saya Anomali. Bergerak selaras keyakinan hati. Anti mainstream? Nggak juga. Kalau pas searah dengan tujuan jiwa, mainstream itu kendaraan saya. Easy, itu cuma istilah, semoga tidak kedengaran terlalu pongah. Karena memang tidak demikian dimaksudkannya.

 

Saya Anomali. Sementara orang lain merasa damai dengan jaminan-jaminan, saya memilih melepaskan diri dan terantuk-antuk belajar jalan, lompat, sesekali ‘merasakan’ terbang. Sementara orang lain merasa utuh dengan ketergabungan (sense of belonging), saya merasa utuh manakala boleh bebas memilih. Bila sepakat maka kita bergabung, bila tak sepakat marilah kita berpisah. Bebas. Saya ingin punya kendali, bukan atas dunia ini, melainkan terhadap diri dan pilihan-pilihan saya sendiri.

 

Saya adalah Anomali. Masa bodoh orang bilang, “harusnya begini dan begini.” Saya kenal hati saya, saya tumbuh bersamanya. Saya kenal jiwa saya, saya menyaksikan perkembangannya. Saya kenal pikiran saya, saya hidup bersamanya. Saya percaya pada diri dan pilihan-pilihan saya, berikut konsep-konsep yang melatarinya. Meski nggak mainstream, meski nampak nggak mungkin, rentan jauh dari kata mapan, saya bahagia untuk bisa berjalan dengan penuh keyakinan saya.

 

Dalam perjalanan saya, ada alasan yang lebih panjang (insya Allah) dari sekedar “saya suka maka saya lakukan.” Insya Allah nggak seimpulsif dan nggak segegabah itu. Hanya saja, mungkin kelihatannya demikian. Karena manusia melihat apa yang mampu dilihatnya dari sudut sempit tempatnya memandang. Dan biarlah Tuhan saja yang saksikan, kenapa dan kenapa, bagaimana hingga demikian pada akhirnya. Percayalah, jalan sendirian tanpa rombongan itu nggak selamanya mudah. Tapi hidup yang saya lalui, mengantar saya ke titik ini. Dan barulah juta menit sebelum ini, saya belajar, mengeja rasa syukur atas jalan yang nggak familiar ini.

 

Wild. Jalan yang nggak familiar itu liar. Nggak ada peta, nggak ada kamus, nggak tercantum dalam ensiklopedi. Boro-boro guidance book, jalanannya aja belom tentu ada. Mesti bawa golok buat buka jalan sendiri. Mungkin pernah dilalui, satu dua orang entah sengaja mungkin juga kesasar dan nelangsa. Hanya saja itu entah kapan dulunya, nggak ada catatannya. Maka bagi saya, jalan ini nggak ada rujukan praktisnya. Rujukan hakikat insya Allah ada. Rujukan praktis itu, yang konon butuh kelapangan hati untuk merelakan ketiadaannya, sekaligus butuh keyakinan sempurna, untuk entah bagaimana, memberanikan diri mengambil segala risikonya.

 

Saya orang gila?

Sepakat! Tidak secuil pun diri saya ingin menyangkalnya!

 

Anomali : Pencilan Pertama,

19.02 WIB,

14 September 2017,

Anggun Nadia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s