Proses

Standard

Setiap orang berproses, proses panjang yang porosnya milik masing-masing, tak terbandingkan. Ada yang sejak kecil sudah cerdas berempati, ada yang butuh sepuluh tahun untuk sekadar ‘melihat’ apa sih itu empati. Ada yang langsung bisa adaptasi dengan segala norma di lingkungan barunya. Ada yang butuh sejuta menit untuk sampai ke sana. Pun ada yang butuh setengah tahun atau setengah masa kuliahnya atau malah satu setengah dasawarsa selepas ia jadi mahasiswa untuk menamatkan bab yang dahulu belum dikuasainya. Bab-bab hidup. Beda-beda tapi nyata. Terlihat sekecil semut padahal esensinya lebih besar dari gajah. Proses.

 

Bukankah dalam memaknai hakikat peristiwa dalam tiap inci kehidupan juga sebuah proses. Proses yang kadang bahkan tak disadari dimulai sejak kapan dan berakhir pada kapan.

 

Fiuh… Lama rasanya, tidak menulis cuilan pikiran yang isinya wacana-wacana di kepala. Kemarin-kemarin banyak sekali mengoceh perihal satu dua hal yang berbeda. Nggak papa… Itu pun proses. Proses untuk memahami diri sendiri, menerima, beradaptasi. Evolusi.

 

Aku lagi nggak mau ngasih contoh. Ini pagi gula-gula yang cocok buat terbang di awang-awang. Orang lain nggak ngerti, nggak apa, kali ini maaf ya. Setidaknya.

 

Intinya, kita semua belajar dan makan waktu untuk memahami pelajaran-pelajaran kehidupan. Intinya, kita semua berkembang, menurut waktu mengitari poros berkali-kali, mengembangkan pengertian yang lebih organik: yang lebih kita, yang lebih menyatu dengan kekitaan kita – sudut pandang dan konsep yang melatarinya, begitu kata orang-orang.

 

Jadi baik itu proses. Baik, dengan segala dimensinya yang kadang terlalu samar dan mudah terlewatkan.

 

Mengerti itu baik, empati itu baik. Berkembang secara finansial itu baik. Berkembang secara intelektual dan mental juga baik. Bersabar itu baik, latihan syukur juga baik. Dan semisal ungkapan “di atas langit masih ada langit”, selalu ada lapis demi lapis kebaikan (pun ketidakbaikan ya..). Sabar itu ada tingkatannya, dalam aneka bentukannya, variasi formasinya, dan level intensitasnya. Begitu pun kebaikan lainnya. Proses. Memahami hakikat lapis demi lapis ini pun dengan proses. Yang pun belum selesai tentunya. Haha. Miris ya? Kalau semuanya berproses, maka di bagian mana kita bisa menyebut diri kita berhasil? Hehe. Mungkin, pemahaman akan itu pun perlu berproses ya… Semangat-semangat! Sejatinya kita nggak pernah sendiri. Dalam berproses pun, kita nggak pernah sendiri. Ini hanya tentang poros masing-masing yang beda. Hingga ada kalanya, kita tak sempat saling mengamati saja.

 

Proses.

Di antara proses-proses ini, ada satu proses yang sedang aku coba jalani. Kembangkan. Adaptasi. Semoga bisa terintegrasi ya, pada tahap berikut dan berikutnya. Aamiin. Semoga.

 

Kunamai ia, “sudut lain kita memandang”. Ya. Aku sedang belajar untuk mengembangkan pemahaman baik akan orang-orang, akan peristiwa, akan diriku sendiri pada akhirnya. Belajar untuk melihat dan mengutamakan kebaikan di atas kritikan. Belajar untuk bersabar dalam mengevaluasi dan mengalihkannya ke dalam: menjadikan evaluasiku untuk luar diriku sebagai bahan evaluasiku untuk diriku. Modifikasi tentu. Pengalihan sudut pandang. Karena kita nggak sempurna. Maka perfeksionisme kita pun butuh arahan.

 

Seseorang pernah bilang, “life is chaotic, you know?”

Sepakat.

Bahkan ketika kamu menjalani semua proses dengan baik, hasilnya belum tentu baik.

Oh ya! Aku percaya. Bahwa niat baik, amal  baik, akan berbuah baik : pada akhirnya. Iya. Insya Allah percaya. Hanya saja titik tekan ungkapan “life is chaotic” bukan pada pesimismenya, melainkan pada kesadaran, bahwa kita sedang bermain di atas DUNIA. Bukan surga. Kita bicara dunia jelang akhir masa. Baik nampak buruk, buruk nampak baik.  Berhala-berhala baru : uang, kuasa, pengaruh, cinta, dan segalanya yang tak mengantar kita pada pemahaman akan hakikat kehidupan. Dunia ini taman bermain, akan ada saatnya semua dari kita dipanggil pulang.

 

Life is chaotic, anggun.

Karenanya, apa salahnya bila sesuatu berlangsung salah, tergelincir keluar jalur. Masih mengherankankah?

Itu dia!

Titik itu. Titik penerimaan bahwa hidup ini penuh dengan kekacauan. Probabilita yang mengandung banyak kekacauan ketimbang keselarasan. Dan kita, manusia, sering saja tergoda-goda untuk ambil bagian dalam kekacauan yang menyenangkan.

 

Life is chaotic, anggun.

Pun gak sesuai, ya nggak papa. Pun gak ideal, mungkin memang demikian adanya.

Bukan, anggun. Bukan dunia yang harus diubah. Terlalu besar buat kita campur tangan di urusan yang bukan wilayah kita mencampurinya. Wilayah kita adalah diri kita, respon kita. Yang berdasar penuh pada dari sudut mana kita memandang. Sudut pandang yang tegak penuh di atas konsepsi apa yang kita yakini dengan hati dan kita nilai selaras dengan mata jiwa dan mata pikiran kita.

 

Life is chaotic, we have to deal with it.

Nggak semua proses baik berakhir baik di dunia ini. Hanya saja, kurasa kita masih boleh yakin, anggun, “bahwa semua yang berniat baik dan menjalani prosesnya dengan upaya paling baik, akan berkembang jadi orang yang lebih baik.”

 

Karena kebaikan bukan soal apa yang terjadi di dunia ini, bukan tentang peristiwa yang menimpa kita dalam hidup.

Melainkan tentang,

Bagaimana kita berkembang jadi pribadi yang lebih matang dalam menyikapi kehidupan.

Bilapun dunia ini nggak berakhir baik, semoga kita bisa pulang dalam sebaik-baik keadaan.

Bersama waktu, bersama pendewasaan. Setapak demi setapak. Mari belajar jadi lebih baik.

 

 

Membenahi letak keset di halaman,

07.35 WIB,

Kamis, 14 September 2017,

Anggun Nadia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s