Di Pasar Tradisional

Standard

Tahukah kau, apa yang menarik dari pasar?

Ah ya! Benar, bahwa pasar itu ramai.

Tapi bukan itu.

 .

“Lalu apa?” tanyamu hari itu,

Di bawah gerimis yang kadang gagal menaksir harap lembar dedaunan.

 .

Aku suka pasar, karena di pasar berkumpul aneka cerita,

Tentang buah yang ranum, tentang wortel dan cabai yang tak selalu sama nada warnanya.

Pasar adalah pertemuan-pertemuan,

Adalah perbincangan antarkasta yang semula tak saling bersapaan,

Adalah kata-kata pendek untuk mendapat kemanfaatan yang lebih panjang,

“Lima ribu ya, Bang?”

“Wah! Belum bisa mbak,” kata si pedagang.

 .

Pasar adalah riuh rendah penuh debu dan lebur segala bau.

Jika beruntung, lewatlah kaki ini di lorong pedagang bunga atau pedagang kue yang baunya menggoda.

Kadang pada becek dan anyir kita terdampar,

Mencari kebajikan laut di pojok-pojok penuh orang tawar-menawar.

.

Di pasar tradisional, semua warna berkumpul.

Peduli apa kamu pakai baju hitam ataupun hijau.

Peduli apa kantung belanjamu bekas atau mahal.

Peduli apa kamu sekolah dimana, bayar berapa persemesternya.

Pun kamu petinggi negara,

Beli oncom di pasar tradisional, tetap saja kamu harus bayar!

.

Di pasar-pasar, lelaku manusia sesuai arah tujuannya.

Mencari kemanfaatan yang lebih panjang.

Pakaian, makanan, buah dan sayur, hingga parfum, dan kain kafan.

Aku suka suasana pasar.

 .

Tempat di mana beda pilihan tak selamanya masuk hitungan.

 ..

Sudut lain kita memandang, 21 Juli 2017

11.03 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s