Dalam Bis Kota

Standard


​”You’d better be sure!”

“Pardon me, sir…?”

“About anything in life.”

Aku mengerutkan kening. Tidak ketemu juga kucari-cari, apa gerangan menyebabkan tetua di sebelahku ini tiba-tiba berkata demikian. 

“You seem uncertain. Just perhaps you wonder what makes me talking like this.”

“Ha?”

Aku setengah melongo. 

Iya betul. Pastinya tidak semua hal dalam hidup kuyakini betul-betul. Sebagian jalan hanya kucoba, yang penting usaha. Sebagian lagi terlalu memusingkan untuk dikatakan. Aku melongo dengan ekspresi orang tidak mengerti. Semacam situasinya belum kucerna dengan sempurna.

“Experience, you know? The thing differs the young and the old. Just by seeing your facial expression, I guess you’re not completely in here. Your mind goes wander. Your soul? Maybe just an inch from desperation.” 

Si tetua bicara tanpa menatap yang diajaknya bicara. Dia bicara sambil mengamati penumpang bis yang baru naik, satu, dua, tiga orang. Kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela. Entah pohon hijau berbatang cokelat tua itu yang menariknya, atau gadis kecil berpayung merah yang berteduh di bawahnya.

Mungkin keduanya. Bukankah dalam hidup jarang ada yang tunggal bersendiri. Situasi selalulah kombinasi.

Aku menggaruk belakang telingaku. Mengangguk sembari sedikit menelan ludah. “Perhaps you are right, sir. There’re still lots of wisdom in the world I haven’t seen.” 

“Easy, child. It takes ages to master yourself. And takes over centuries to deeply understand what wisdom might be. People use the phrase, unfortunately not many of them understand the meaning.” 

Auwww… Kepalaku mulai pening. Ini pembicaraan tanpa ujung pangkal. Datang entah dari mana, mengakhirinya lebih entah bagaimana. 

Tiga halte lewat sudah, sejak tetua itu menyapaku. Hanya sekali kuingat ia memandangku sekilas, saat aku masuk bis dan memilih duduk di sisinya. Selebihnya, pandangan pak tua itu tak jelas ditumpukan kemana. Seperti memperhatikan semuanya, sekaligus tak memperhatikan apa-apa.

Ia tersenyum, menoleh padaku, melebarkan senyumnya lebih kembang lagi. “I gotta go, kid. Embrace the change, it helps you be mature. Sorry to bother, sometimes old people need a friend to talk, but hardly find it.” Pak tua mengangguk kecil bersama senyum yang entah bagaimana mengalirkan hangat dalam nadiku. Ia beranjak dan aku bergeser. Tetua itu turun. 

Aku beralih ke sisi jendela. Tertinggal sendiri dalam ruang tanya yang mungkin adakalanya tak selalu perlu menemukan jawaban. Biar saja jadi pertanyaan. Mengganggu memang. Tapi jikalau benar-benar ini pencarian yang perlu, aku percaya, akan ada saatnya Tuhan membantuku untuk paham. 

Sebaris pertanyaan memudar di pandangan. 

Kutarik nafas sedikit lebih panjang, mengingat-ingat adegan pendek barusan. Untuk kemudian, terantuk pada kalimat terakhir si tetua. “Sometimes old people need a friend to talk, but hardly find it.” 

Aku terenyuh.
Dalam Bis Kota: pencilan pertama.

20.12 WIB

19 Mei 2017

Anggun Nadia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s