Memandang Titipan

Standard

Suatu hari di saung sekolah terjadi keributan. Anak-anak kelas 3 mulai histeris dengan segala ekspresi emosi di wajah mereka. Seorang teman yang dikenal dengan panggilan Kak Seto melepas celananya lantaran marah pada teman sekelasnya.

 

Kali itu adalah kali kedua. Di kali pertama dulu, ketika Seto melakukan hal yang sama untuk penyebab yang sedikit saja bedanya, ia ditegur keras oleh Pipin, kepala sekolahnya. Dengan intonasi tegas tanpa perlu keras-keras, Pipin dahulu menegurnya, “Bu Pipin gak suka kalo Kakak Seto marahnya dengan cara ini.” dan seterusnya, dan seterusnya.

 

Kakak Seto dipanggil kakak lantaran memang lebih tua dari teman-teman sekelasnya. Ia didiagnosis autis. Kakak Seto berbadan besar, kadang ketika marah ia dengan sengaja menduduki tubuh temannya yang lebih mungil. Urat sabar Pipin masih biru ungu jika itu yang terjadi. Tapi mendadak merah terang manakala Seto mulai melepas celananya. Adegan lepas celana adalah bagian protes paling keras dalam ruang wacana di kepala dan hati Seto. Ibarat orang tersinggung, itu adalah titik dimana singgungan paling kasar ia rasakan, dan karenanya memunculkan respon paling keras dibanding singgungan-singgungan selainnya.

 

Hari itu, di kali kedua Seto berhadapan dengan Pipin lantaran buka celana, Pipin melempar celana Seto ke atas. Celana Seto bergelayutan di ranting pohon depan saung belajar mereka. Pipin menyodorkan sarung yang biasanya digunakan anak lelaki ketika masuk waktu shalat. “Nih, pake!”

 

Pipin beralih dari Seto ke teman-teman sekelasnya. Kelas yang setengah bingung, setengah histeris. Sebagian takut, sebagian kesal, mungkin di dalam hati ada juga yang melihatnya lucu. Meski baiknya mungkin ditambah rasa prihatin. Seto itu berbeda. Saking frustrasinya, ia protes dengan membuka celananya. Berbahagialah anak-anak yang jika tak suka bisa dengan mudah menyuarakannya, merajuk, lalu mendapat apa yang diinginkannya. Hal yang agaknya sedikit banyak sulit bagi Seto.

 

Seto adalah satu cerita.

Tapi sebenarnya, kali ini, bukan Seto jantung ceritanya.

 

Adalah Pipin, yang kemudian mendekati anak-anak dengan rerupa rasa yang campur aduk dan pikiran yang carut-marut, teman sekelas Seto. Pipin duduk di antara mereka untuk kemudian mengajak mereka berpikir dan merasa sama-sama. Aku tidak ingat persis dialognya. Tapi ada satu yang aku suka. Suka sedemikian sukanya hingga luap jadi darah untuk cerita di mana Pipin sebagai jantungnya. “Kita sama-sama tahu Kakak Seto beda kondisinya. Kenapa juga masih digoda. Kakak Seto nggak perlu sampai sejauh itu kan, kalo nggak ada yang goda? … Allah itu titipin Kak Seto sama kita, supaya kita jaga sama-sama. Supaya kita bantu sama-sama. Tinggal pilih aja, mau pahala apa mau dosa?!”

 

Titipan. Kita semua adalah titipan Tuhan. Titipan yang saling dititipkan pada tiap-tiap diri yang masing-masingnya juga titipan. Titipan. Makhluknya Allah itu ada pemiliknya. Pemiliknya bisa jadi nggak suka jikalau kita mempermainkan diri yang Ia titipkan pada kita. Titipan. Amanah Tuhan. Meminta pertanggungjawaban. Nanti kalau Dia tanya, entah bagaimana kita akan menjawabnya.

 

Petikan cerita di saung hari itu, memberiku pemahaman tambahan tentang berat makna sebuah pengajaran. Bukan soal menjawab pertanyaan ujian, tapi lebih tentang pengajaran penting akan menunaikan amanah Tuhan. Menjaga sama-sama titipan yang Ia titipkan. Menjaga diri. Menjaga hati. Yang keduanya acapkali, sama mudah pecahnya.

 

Mengajar bukan soal transfer cara mengerjakan soal dengan baik dan benar. Nuun,, lebih dalam dari apa yang kelihatan. Mengajar adalah mendidik perangai untuk menghalus, menempa karakter untuk mengokoh, memoles mata pikir  hingga cantiknya jadi bersinar-sinar. Mendidik adalah bersama tumbuh mendaki undak yang tingginya lebih. Agar naik kelas, diantara uji hidup yang kadang tak terbantahkan rumit-rumit pahit.

 

Untuk Pipin yang membagi hatinya tanpa dimaksudkannya,

06 Mei 2017

13.45 WIB

Anggun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s