Monthly Archives: May 2017

To Finally Define

Standard

“The beauty you see in me, is a reflection of you.” (Rumi)

 

I haven’t testified this yet, it’s still a street “theory”, another way to help me understand the world.

It’s derived from people’s everyday experiences. On love and brokenhearted matters.

 

After yearly confusing thoughts, after taking things a bit harder earlier,  after taking a deep breath in learning, I presume…

 

Perhaps,

The inquiry of finding ourselves sometimes be helped by finding what we love, so does to whom we fall in love. Whatever we see in the things, or in the person we love, are actually a mirror that  reflects whoever we are.

 

A beautiful heart loves beauty.

An artistic heart loves arts and creativity.

An honest one loves honesty.

And so on, and let it be.

 

We love  because we (unconciously) find ourselves by “reflecting” through that person, through the character, the wisdom, the artistic part, habits, agreeable thoughts, and  else.

A wanderer loves to find a travel partner. A divine person, seeks for the love that helps him/her to be closer to God. We actually loves the  similar pieces like ours, realize it or not. We mean it or not. We love ourselves.

 

I remember a quote from a former Islamic scholar, “Actually, when we fall in love, we only fall in love to ourselves.” We love the reflection of our own heart inside the person or the thing we fall in love to.

 

That is why,

The true purpose of falling in love maybe  not (or not only, depends on the situation) is not to be with the person we love.

 

Maybe,

The true purpose of falling in love is to help us to define the self. To finally understand the “who am I” question. To restart, the inquiry of “what is my purpose in life“. To find inch by inch, “what actually we seek in life, or what kind of values firms our heart the most.” And, on.

 

Love could be a noun. Could be an act of bravery. Could be the beauty we seek and  find, and then possibly we lost.

Love could  be a precious jewel, a possession we admire. Yet in the same time, it could also be a journey to (re)define the self. Cause by falling in love, sometimes we are able to see a part of us that was covered, unseen, unrealized, or ignored before. The part that we’re not completely recognized yet.

 

We learn to find then refine the soul within us.

 

I don’t know, still haven’t finished the long thought yet (despite I’ve spent years to build the understanding). Might need couple of  years more to do the reflective thinking, or maybe a whole life’s lesson sessions. But, I think  I’ll save this thought for now. Just like Rumi said,  “the beauty you see in me, is a reflection of you.

 

 

Just another chaotic thoughts,

9.39 GMT+7

Sunday, May 28, 2017

Anadia Fatimah

Advertisements

Satu-Satunya

Standard

a9pfIB0

 

Bagian Pertama : Tanpa Rencana

“Aku jatuh cinta tanpa rencana, ” katanya.

“Begitukah?”

“Ya. Juga kepada orang yang tak terencana?”

Alisku merapat.

“Dia bukan model orang yang dengan mudah kusukai sejak awalnya. Bahkan aku baru tahu setelah aku mencintainya, bahwa aku bisa mencintai hal-hal yang menjadikan dia sebagai dia. Bahwa sebagianku mencintai sisi hidup yang ditinggalinya.”

Aku mengangguk. Setengah paham, setengah hanyut.

Tengah Cerita : Cinta, Cerita, dan Fakta

Seribuan hari aku mengamati orang ini. Ia kadang menderas dalam cerita, kadang menderas dalam tangisnya. Yang paling pilu bukan itu. Ialah saat keran hatinya dipepat. Bicara tidak, menangis pun tidak. Hatiku antara iba, sayang, sedih, prihatin, dan mengaguminya di saat yang sama.

Dekat dengannya membuatku merasa ditimpa hujan musim gugur. Hujan daun-daun yang gugur pada senja yang luntur. Nona cantik yang semakin cantik di kala sedih. Ironis.

Nona itu masih mengembangkan ceritanya. Menuturkannya dari bab ke bab padaku, melompat-lompat. Kembali ke bab satu, lari lagi ke adegan dua puluh satu ribu di halaman 391. Berbalik ke bab 3 adegan pertama, halaman 46, lanjut lagi percakapan di halaman 246, adegan 2077. Melompat-lompat, mengikut imajinasinya yang susah duduk diam.

“Aku cinta dia dan itu faktanya. Sudah kuhabiskan bilang tahunan, kulalui jalan demi jalan, bertemu peluh hingga embun. Masih dia dan selalu saja dia.”

Aku mengangguk takzim. Tersenyum tipis menikmati hembusan angin musim gugur yang setengah kering setengah romantis.

“Aku pernah menyukai lelaki lain. Tapi suka. Bukan cinta. Ini beda rasanya. Beda dan selalu saja beda. Dengan orang lain, tak ada mimpi yang bisa kubangun maketnya. Dengan yang ini, mulai dari draft, maket, hingga pun harus kuangkat sendiri batu pondasinya, aku khawatir bagiku tetap saja semuanya ‘iya!’.”

Cinta berdengung di sayap-sayap lebah, menggaung di hutan rumput di sudut lembah. Tersaru. Acak tak berpola. Baru. Tidak dikenalnya sebelum itu. Si Peri Musim Gugur kalut dalam cintanya yang tak surut. Cinta yang berhadapan dengan kabut, menghadap nyata yang menyimpan kemelut. Selalu. Sedari dulu, lelaki dalam fantasi Si Peri Musim Gugur, dicintainya dalam diam, dalam cinta yang tak pernah tertemukan dan ditemukan. Lelaki ini tidak pernah diberitahu, mungkin juga tak pernah berniat tahu. Tak tersiarkan. Terlupakan. Tertinggalkan. Jauh di belakang. Cintanya berhembus di angan-angan.

Bagian Terakhir : Ketika Salju Turun Pada Akhirnya

 

“Aku melihatnya di stasiun kereta. Sore hari di kitaran jam tiga.”

“Oh ya?” Terakhir kuingat, Nona ini tak tahan berada di satu tempat dengan lelaki yang dicintainya. Kehilangan akal katanya. Dulu kabur sambil menutup muka, untuk kemudian di tikungan jalan, sendirian tertawa-tawa. Dulu. Empat tahun lalu saat ia bercerita. Dan kali-kali berikutnya di saat ia merapal ulang ceriteranya. “Kamu kabur lagi?” tanyaku padanya.

“Hebatnya kali ini tidak. Aku mengamatinya dari jauh, lebih lama dari biasanya. Dia bersama seorang wanita berblus hijau. Nona yang tak berhasil kuamati wajahnya.”

“Temannya?”

“Entahlah. Aku mana tahu. Yang aku tahu yang terjadi setelah itu.”

123851-Falling-Leaves

Firasatku mendadak abu-abu.

“Pintu kereta yang baru kunaiki ditutup, begitu pun pembicaraan di seberang peron tempatku semula duduk. Ditutup dengan peluk dan kecup.”

Abu-abu bersahutan dengan biru. Di hatiku mulai bertiup angin musim salju.

“Lalu?”

“Tentu saja tak ada lanjutannya. Keretaku jalan, kereta mereka tiba. Masih kulihat kereta di seberang, pintunya terbuka. Setelahnya hanya barisan anak rel dan jalan-jalan kota.”

“Kamu nggak papa?”

“Aku? Nope. Hari itu aku berdiri sempurna. Senang saja akhirnya bisa melihatnya. Senang saja kali ini melihatnya lebih lama. Dan bila di sana, dengan Nona berblus warna surga dia bahagia, aku ingin sepenuh  hatiku ikut bahagia untuk dia.”

Hatiku ingin menanyakan ulang, “are you really alright?”, tapi suaraku tercekat. Angin musim salju memaksaku merapatkan tulang-tulang yang mulai gemeretak. Diam, tegak, hilang tanggap.

“Mungkin sudah saatnya merangkul kenyataan dan mencukupkan angan-angan.” kata Si Peri Musim Gugur.

Well. Lima pertemuan yang rumit ya.” Lima. Hanya lima kali itu dia bertemu lelaki ini.

Pertama di koridor kampusnya, tempat lelaki tampan yang gagal dicintainya di pandangan pertama menekuk wajah bersama bukunya. Waktu itu, Peri Musim Gugur melewatinya sambil lalu saja.

Kedua, saat ia berbincang dengan teman-temannya di taman kampusnya. Segar sekali wajahnya, begitu Si Peri mendeskripsikannya. Dan Si Peri mulai rajin mendengar kabar tentangnya.

Ketiga, saat melihatnya mengambilkan buntalan karung berisi barang pulungan, yang jatuh dari tarikan gerobak seorang tua yang kumal. Tanpa kata-kata. Tanpa diketahui pak tua, karungnya  jatuh dan tertinggal dua  hasta. Diambilkan dan dinaikkan kembali ke gerobaknya oleh si lelaki. Hari itu, praktis, Peri Musim Gugur memasuki musim gugurnya yang pertama kali: cinta yang menghujani bumi dengan dedaunan warna tua.

Keempat, di stasiun kereta di sebuah kota. Beberapa hari sebelum didengarnya kabar bahwa si lelaki akan pergi. Pergi jauh sekali. Entah kapan kembali.

Kelima, kembali di stasiun kereta. Stasiun yang berbeda dengan kali keempat pertemuan mereka. Stasiun dimana kisah musim gugurnya, menanjak bab jadi musim salju. Stasiun yang diantara rel-relnya Peri Musim Gugur menaburkan sisa kelelahannya, menahun mencintai satu lelaki saja. Tanpa bersuara. Untuk kemudian menyaksikannya jatuh cinta dengan khusyuknya. Seperti mendengar himne, ujar Si Peri Musim Gugur tentang cintanya sore itu.

Nggak papa. Dibolehkan mencintainya hingga sejauh ini saja rasanya sudah luar biasa. Asal di sana dia bahagia, asal di sana dia jadi orang yang baik dan bermanfaat buat sesamanya. Asal dia senantiasa sejahtera jiwanya. Aku bahagia untuknya.”

Aku?

Antara ragu, khawatir akan teman, terpaku, setengah linglung, tetapi kagum di saat yang sama. Kembali tersaruk pada hujan musim gugur di senjakala yang ramah, indah, dan teduh. Orang ini mengagumkan, batinku. Boleh mencintainya hingga sejauh ini saja, rasanya sudah luar biasa. Bagaimana bisa.

Bertahun-tahun cinta ini bertahan di hatinya. Memberinya harapan sekaligus patah hati lantaran kenyataan yang tidak semulus sentuhan dewi fortuna kata sinetron di layar-layar kaca. Tanpa bertemu, ditemui, atau menemui. Tanpa dengar kabarnya, hanya sesekali, itu pun kadang tak sengaja  curi dengar pembicaraan di meja seberang saat makan siang. Dia mencintainya dalam doa-doa, dalam ringkasan hati yang dibaginya padaku bilamana hari itu aku cukup beruntung beroleh cerita doanya. Rapal doa yang lepas. Cinta yang tak mengikat, yang dengan sayapnya terbang bebas menempuh baris-baris awan di langit.

Kisah cinta yang hebat, diciptakan untuk orang-orang hebat yang kadang sama sekali tidak disangka hebat oleh dunia yang acapkali abai mengenali indah yang tak terindera demikian mudahnya. Peri Musim Gugur, bagiku kamu sangat hebat! Terima kasih untuk membaginya denganku.

 

Teruntuk Peri Musim Gugur yang sepenuh hati mencintai yang dicintainya,

Rahasia-Rahasia: adegan pertama, tengah, dan akhirnya.

08.53 WIB

Jumat, 26 Mei 2017

Anggun Nadia Fatimah

 

Tanpa Syarat

Standard

Kadang ketika terlampau lelah berjuang kita sering berharap kebaikan dibayar di muka. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan akan keadilan. Terlalu lelah, diminta hidup dengan adil di bumi yang sarat tindak tidak adil. Diminta berdiri dengan jujur, di tengah kerumun orang yang penuh kedustaan. Diminta  berbuat baik, dimasa mana  kebaikan tidak lagi diutamakan. Setidaknya  bagi sebagian orang. Yang sialnya, jumlahnya konon agak sulit dibilang.

 

Sebuah catatan pagi dari seorang teman mengulik wacana ini lagi. Judulnya “kebaikan tanpa syarat”. Menjadi baik itu bukan setelah menerima kebaikan orang lain, “aku baik kalo kamu baik sama aku.” Bukan pula karena harapan akan kebaikan,  “aku kan udah  baik, kamu donk  harusnya baik-baikin aku.” Bukan.

 

Berbuat baiklah karena kebaikan itu baik. Ikhlaskan saja sekalipun kebaikan yang kamu junjung tinggi-tinggi itu dianggap picik.

 

Kadang lelah sih, Cinta..

Iya aku paham, kok.

Bahwa bertulus hati kadang berbuah luka di hati sendiri.

 

Bisa dimaklumi.rumi-quotes31

 

Karena kita masihlah tinggal di atas bumi.

Akan ada waktunya semua dihitung dengan teliti. Insya Allah akan ada waktunya.

 

Untuk sekarang, sembari menantikan,

Buat saja kebaikan-kebaikan tanpa syarat. Upayakanlah jadi orang baik sebaik-baik yang kamu bisa, Nona. Jikalau lelah, duduklah sebentar. Bukankah pada saat dibutuhkan, istirahat dan menghirup udara segar juga bagian dari kebaikan?

 

Kita hanya anai-anai di akhir zaman. Mungkin nggak lagi banyak yang bisa kita lakukan. Karenanya, mungkin nggak sepantasnya juga  harapan-harapan kita salah tujukan.

 

Orang bilang, kita tersakiti oleh ekspektasi  kita yang terlalu tinggi.

Sepertinya ada benarnya.

Tapi mungkin kita juga tersakiti, lantaran ekspektasi itu salah bidikan. Berharap pada manusia itu mengecewakan. Berharap pada Tuhan itu menuntut kesabaran.

Dipilih saja, Nona.

Semoga Tuhan menguatkan.

 

09.21 WIB

25 Mei 2017

Aku.