Tentang Pertanyaan-Pertanyaan

Standard

Seorang pandai pernah berkata, “ketika kita tidak kunjung menemukan jawaban, boleh jadi kita perlu mengganti pertanyaan.” Sejak dulu aku percaya itu betul. Tapi adakalanya, merangkai pertanyaan pun bukan perkara mudah. Apalagi menanyakan pertanyaan yang tepat.

 

Kalimat itu sudah lama. Dikemukakan pada kami dalam suatu sesi malam hari, antara satu hingga dua tahun silam. Aku menulisnya kembali. Aku masih mengingatnya di sini, di dalam hati ini. Hingga hari ini selembar halaman di novel yang sedang kubaca memanggil kembali memori itu.

 

Di buku itu. Seorang kakek usia delapan puluhan, menangisi kepergian kekasih yang telah menjadi istrinya selama enam puluh tahun. Kala itu mereka sedang meniti sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yang telah mereka ikrarkan untuk ditempuh sama-sama sebelum maut menjelang. Di tengah perjalanan, sang istri memburuk kondisinya. Untuk kemudian meninggal beberapa hari kemudian.

 

Si kakek tua menyimpan pertanyaan di saku hatinya. Dibawanya kemana-mana hingga menetes dari mata dan memendam dalam keengganan. Enggan makan, enggan bertemu orang-orang, mungkin juga enggan meneruskan kehidupan. Diantara semua waktu, tanyanya, “kenapa harus sekarang?”

Bukankah lama sekali keduanya menantikan perjalanan ini. Menabung satu dua sen, sewaktu demi sewaktu untuk membiayai cita-cita mereka. Hingga cukuplah tabungan. Tapi kenapa? Ketika tinggal sedikit lagi terwujud, kenapa pula mimpi harus terenggut? Kenapa sekarang? Kenapa tidak satu dua bulan mendatang?

 

Si kakek bersedih berhari-hari. Membuat cemas putri sulungnya yang sejak awal menemani pasangan itu mewujudkan mimpi perjalanannya. Si sulung meminta bantuan seorang pandai di kapal itu. Orang pandai bicara perlahan. Amat berhati-hati. Mengerti sekali, hati yang pilu tidak perlu diiris berulang kali. Panjanglah percakapan. Kadang dijawab, kadang menggantung. Percakapan satu arah yang disahut sunyi. Diam.

 

Kakek tua akhirnya sepakat menggelar peta pertanyaannya. Pertanyaan yang berhari-hari ia lipat dan sisip dalam saku hatinya. Yang ia telan menggantikan manis makanan.

 

Orang pandai mulai menelisik. Mengajukan satu dua pertanyaan. Mengklarifikasi. Berharap membantu menemukan jawaban. Hingga sampai ia pada pertanyaan. Antitesis. Kebalikan arah dari pertanyaan di saku hati sang kakek. Bukan. Bukan menjawab tentang “kenapa mesti sekarang kekasih hilang dari hadapan?” Orang pandai justru bertanya balik, kenapa pula kita tidak pernah menanyakan, “kenapa dulu kita bertemu orang yang kita cinta?”, “kenapa mesti hari itu, di tempat itu?”

 

Kita tidak bertanya, “kenapa kita jatuh cinta?”

Kita lupa mengingat, “kenapa pula kita bahagia?”

Kita tidak mengungkit, “kenapa harus sekarang?” pada tiap momen yang kita suka.

Kita selalu membicarakan antitesisnya.

 

“Kenapa kita kehilangan?”

“Kenapa harus sekarang kehilangan?”

“Kenapa tidak nanti-nanti saja?”

cymera_20140508_202112

 

Kita.

Kita dan posesivitas kita. Kita dan keegoisan yang seringkali lupa, “kita tidak akan kehilangan

sesuatu yang tidak pernah kita miliki.” Nyatanya,

bahkan diri ini juga bukan milik sendiri. Di kali yang lain aku membaca, “kita tidak pernah kehilangan. Kita hanya terlalu sombong dengan merasa memiliki.”

 

Seratus!

Ketika badai memburuk aku bertanya, “kenapa gelap menyelimut?”, “kenapa pagi tak kunjung sam

pai?”, “kenapa sunyi serasa beku?”

Tapi aku tidak pernah bertanya, “kenapa Tuhan biarkan

aku meresapi hangat matahari senja?”, “kenapa Tuhan memberiku jutaan bintang untuk kutatap malam-malam?”, “kenapa hening datang memberiku jarak yang kubutuh dari jangkauan orang-orang?”

 

Aku menghitung yang hilang.

Tak menghitung yang sejatinya ditinggalkan.

“Buih akan berlalu, dan yang bermanfaat akan tinggal.” (Tuhan yang bilang)

 

Senin, 19 September 2016

19.07 WIB

Anggun Nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s