Tentang Hujan yang Rindu Pulang

Standard

Itu judul buku, kawan.

Tiga buah buku yang aku beli pada sebuah toko online. Di etalase, aku membaca paket tiga buku – tiga buku. Lebih murah. Aku baca review buku-buku itu di berbagai situs, kemudian memutuskan tiga buku yang akan kubeli. Tiga judul ini tidak ada paketnya. Aku meminta satu diantara tiga judul itu ditukar. Semuanya karya penulis yang sama.

Di etalase saat itu, ada foto tiga buku bersisian. Secara berurutan judulnya adalah Rindu, Hujan, dan Pulang. Aku pernah membolak-balik sekilas isi buku Rindu. Menurutku saat itu, buku Rindu kurang cocok denganku. Aku juga tidak suka karena dua tokoh di dalamnya diberi nama sama dengan tokoh kartun yang sedang marak-maraknya, Anna dan Elsa. Waktu itu aku hanya sekilas membolak-balik bukunya. Aku enggan membacanya. Aku juga tidak merasa perlu mencari reviewnya di dunia maya. Langsung saja kuputuskan, aku minta judul itu ditukar dengan seri pertama Bumi, Bulan, Matahari, setelah membaca review buku-buku itu (berikut Hujan dan Pulang) aneka beranda rumah maya orang-orang.

Sudah kutulis di keterangan pembelian, agar buku Rindu diganti dengan Bumi.  Membatin aku menyebutnya, “Hujan Pulang ke Bumi”.  Pembelian disepakati dan paket pun dikirim. Aku senang karena respon penjualnya cepat dan pengirimannya pun cepat. Tiga buku itu sampai di rumah kos kami. Aku membukanya, dan eng, ing, eng…  Yang datang adalah “Hujan, Rindu, Pulang.” Bukan “Hujan Pulang Bumi”.

Aku tipikal pembeli yang agak enggan bolak-balik memperkarakan paket. Kalau bajunya jelek, yasudahlah. Kalau ukurannya tidak sesuai, kirim komentar sajalah. Termasuk soal buku. Kalau salah kirim buku, selama tidak fatal (misalnya beli buku, dikirim tepung terigu), aku juga hanya akan bilang, “yasudahlah”. Kukirim pesan bahwa salah satu bukunya tidak sesuai pesanan. Penjualnya menawarkan mekanisme penukaran. Tapi dasar Anggun pemalas, aku bilang tidak usah. Malas mengurusnya. Lama nunggunya. Ogah bolak-baliknya. Sudahlah… Terima saja. Lagipula, Tuhan tidak pernah salah kirim. Mari kita nikmati saja rencana Tuhan. 🙂

Aku pun menggantimg_20160823_094106i status whatsapp-ku waktu itu, “mungkin hujan memang rindu pulang.”

Aku membaca sesuai urutan sebagaimana aku ingin membahasakannya, “mungkin Hujan memang Rindu Pulang.” Aku membaca Hujan. Di hatiku turun hujan. Aku suka. Aku kemudian membaca Rindu tanpa banyak ekspektasi. Baca saja. Ternyata aku suka. Nama Anna dan Elsa itu tidak jadi masalah lama-lama. Aku suka. Aku baru menyelesaikannya. Aku suka. Aku sangat suka, setidaknya karena saat ini buku itu tepat kubaca. Tepat saat untuk memaknainya.

Usai halaman terakhir aku kembali bergumam dalam hati, “mungkin hujan memang rindu pulang….”

Benar. Tuhan memang sengaja ingin buku itu yang sampai dahulu kepadaku. Buku Rindu. Bukan buku Bumi.

Tuhan selalu tau, kapan saat yang tepat untuk segala sesuatu.

Terima kasih untuk kirimannya, Tuhan… 🙂

Melirik pinguin di kamarku,

20 September 2016

15.01 WIB

Anggun Nadia Fatimah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s