Kenko, Joyko, and Royco

Standard

Kurasa Mba Lili ada benarnya, bahwa aku sejatinya adalah siluman kucing.

Sejak kecil, satu kucing mati datang lagi kucing yang lain ke rumah. Saat di kosan SMA, meski tak bisa pelihara ada juga satu dua kucing yang kadang bisa kutemui di jalan-jalan. Sama ceritanya saat aku masuk asrama UI. Ada dua kucing yang kunamai dan kuadopsi: Pudil dan Altraz.

Pudil adalah kucing yang selalu menantiku sepulang kuliah. Berlari dari lorong dalam asrama menyambutku sampai ke pintu E2 lantai 1. Mengeong demikian manis. Sampai suatu hari, FORKAT (semacam OSIS asrama) berinisiatif mengenyahkan kucing-kucing dari asrama. Kucing-kucing itu dianggap sumber bau-bauan nggak asik, yang menjadikan asrama jauh dari nyaman. Pudil berakhir dengan diciduk ke dalam karung dan dimobilisasi ke shelter belakang fasilkom. Aku sedih sekali hari itu. aku ingat aku bahkan menulis cerita yang sangat panjang tentang aku dan Pudil di blogku yang lama. Yang paswordnya aku bahkan sudah lupa. Sayang aku nggak punya back up tulisannya.

Pudilku yang manis kembali ke asrama dua minggu kemudian. Masih utuh, tapi penuh luka-luka. Sepertinya ia bertengkar dengan kucing-kucing lain di kantin fasilkom sana, rebutan makan dan rebutan wilayah kekuasaan. Ia pulang. Tapi tidak lagi seperti Pudil yang dulu. Sepertinya Pudil melupakan aku. Ia menolak kusentuh dan matanya jadi garang. Aku sedih.

Lalu datang Altraz. Altraz masih kecil. Kucing seekor yang lagi-lagi kutemukan di lorong asrama. Baru lahir, mungkin usia beberapa hari kala itu. aku ingat, waktu itu Altraz belum bisa makan apa-apa. Aku dan Kikhoiy memberinya susu, Altraz tetap nggak mau. Dia baru mau makan saat susunya kami ganti dengan susu cair yang plain, Ultra yang warna biru.

Tapi Altraz mati beberapa hari kemudian. Salah aku sih. Karena dia masih sangat kecil, aku membolehkannya tidur di kamarku. Di atas selimutku tepatnya, asalkan sudah dimandikan. Sore itu, aku memandikannya. Tubuhnya sudah kukeringkan. Altraz kuletakkan di atas selimut, kutinggal sebentar. Dan saat aku kembali, tubuhnya sudah kaku. Dingin. Aku ke kamar kikhoiy di lantai dua. Kami membungkusnya dengan lap tangan bersih, kemudian menggali tanah di taman yang baru digemburkan dengan bantuan piring plastik. Piringnya sampai patah. Kami mengubur Altraz malam-malam di taman depan gedung F2.

Kemudian aku pindah dari satu kosan ke kosan lain. Tidak ada kucing spesial yang kunamai setelah itu. mereka datang dan pergi. Sebagian kuberi kotak untuk tempat tidur, ada juga yang usai melahirkan kotak tempat the kittens-nya kubiarkan di depan kamarku. Tidak bertahan lama. Hanya beberapa lama. Di rumah nomor 4 juga begitu. Meski ullum pelihara ikan, dan anis melarang kami memelihara kucing, kucing-kucing itu tetap saja datang dan pulang seenaknya. Seakan ini rumah mereka. Oiya, aku baru ingat. Ada tiga kucing hitam. Hitam hampir seluruh tubuhnya. Kuberi mereka nama yang mirip satu sama lain, hanya beda huruf vokalnya. Yang paling tampan fotonya pernah kupajang di blog ini. Kunamai dengan nama seseorang. Kucing hitam itu, si pria tampan mudah kelaparan. Aku nggak tau dia dimana sekarang. Sudah sekitar setahun ini aku tidak melihatnya. Begitupun dengan dua kucing hitam sebayanya. Mungkin sudah berpulang.

Entah bagaimana, di mana ada aku di situ ada kucing. Sekarang di kosanku yang terakhir, 4 ekor kucing secara percuma menggunakan keset depan kamarku sebagai tempat tidur dan tempat minum-minum (baca: menyusu). Tidak kunamai.

Setiap kali aku kesepian, aku sedang sedih, aku kehilangan, atau perasaan sejenisnya, aku senang sekali kalau ada kucing yang Tuhan kirim untuk menemani aku. Aku ingat suatu kali di kosan Rafflesia dulu, aku sedang sedih karena sesuatu. Seekor anak kucing masuk, memanjatiku hingga ke meja. Naik-naik ke bajuku sampai aku harus mengenakan jilbab agar ia tidak memanjati kulit dan rambutku. Ia memanjat hingga ke kepalaku. Kami bermain-main, sampai sedihku kehilangan perhatian.

The kittens di depan kamarku semakin besar sekarang. Mereka sudah kuat makan tikus, yang mengejar tentu masih ibunya, yang makan mereka. Haha. Sudah bisa manjat sampai tinggi dan lompat dengan rajinnya. Seringkali saat kubuka pintu kamar, satu dua ekor berlarian masuk dan melompat ke kasurku. Mengambil posisi nyaman dengan tenangnya. Makin diusir makin senang. Belakangan aku makin dekat dan makin sering main dengan mereka. Tadi sore aku baru inspeksi kutu. Aku malas memandikannya, nanti dicakar-cakar. Kucari saja kutunya, kutindas kutu-kutu itu sampai kempis.

Aku masih belum punya nama untuk satu pun diantaranya. Saat terpikir untuk menamainya lepas maghrib tadi, mungkin karena mereka jumlahnya tiga (empat dengan ibunya. Aku biasanyanya memanggil ibu kucing dengan sebutan “Ibu Kucing” saja), atau entahlah karena kenapa, aku kepikiran tiga nama: Joyko, Kenko, dan Royco. Untung bukan masako, royco, dan ajinomoto. Hahahaha… Tenang-tenang… Paling juga nanti kulupakan nama-nama itu. Itu Cuma kekonyolan sesaat yang menggantung di kepalaku sore ini. Kumohon berdoalah semoga aku tidak memanggil mereka dengan salah satu diantara nama-nama di atas. Ngerusak image! Image manisnya kucing-kucing itulah tentu. Kalo image aku mah, emang udah rusak dari dulu. Hahaha…

Margonda, 28 Agustus 2015

20.29 WIB

Just another Cat Lover

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s