Resource Paradigm

Standard

(Segala sesuatu di luar diri kita adalah Resources)

Beberapa hari ini aku mulai disadarkan, bahwa mayoritas rasa takutku bersumber pada ketidaktahuanku. Dalam ketidaktahuan itu terkandung unsur ketidakpastian, ketidakjelasan, ketakterjangkauan, kecemasan, dan inferioritas lain semisal itu.

Orang-orang bertempramen introvert memang cenderung menganggap dunia sebagai ancaman. Secara alamiah mereka memang mudah merasa takut dan ragu. Lebih hati-hati dalam bertindak, dan seterusnya. Dan introversi ini adalah salah satu penjelasan mengapa aku mudah sekali terjebak dalam kekhawatiran yang kuciptakan sendiri di dalam kepalaku. It’s okay… Toh itu memang aku.

Hanya saja, aku mulai tersadar. Baru hari ini, baru sore ini, aku kembali teringat pada sebuah momentum dimana salah satu ketakutanku pecah dan aku mampu mengatasinya. Yakni saat aku mulai memandang dunia di luar diriku sebagai resource, sumber dayaku. Sumber yang memberiku daya yang aku butuhkan untuk menjadi mampu.

Aku hanya perlu dengan sadar memetakan tujuan dari proses yang sedang aku jalani. Aku kemudian perlu menerima diriku, kekuatanku, dan kelemahanku, menyadari dimana diriku berpijak saat itu. Aku perlu terus mengingatkan diriku bahwa aku adalah pembelajar sepanjang hayat. Aku belajar dari siapa saja, pada saat apa saja, dimana saja, dengan cara apa saja, selama itu berkontribusi positif pada pencarianku akan kebenaran dan ilmu pengetahuan. Aku perlu menyadari bahwa ketidaktahuan adalah alasan untuk mencari tahu lebih lanjut, bukan sebaliknya: jeruji besi yang mengurungku dalam ketakutan dan inferioritas.

Saat itu aku kemudian bergerak. Menjadi yakin bahwa setiap orang di sekelilingku adalah guru, adalah narasumber, dan adalah persona yang akan mengantarku melalui tahap demi tahap pengembangan diriku. Aku mulai menutup mataku dari rasa takut dan ragu. Aku membukanya pada peluang, pada pengembangan hubungan dalam rangka pembentukan iklim belajar yang relevan dengan kebutuhanku di satu sisi, dan kebutuhan mereka di sisi lainnya. Dan dalam pencarianku akan ilmu, aku ingat. Saat itu, rasa-rasanya dunia di sekelilingku bekerja sama denganku. Untuk berproses. Untuk menjelang progres demi progres. Untuk menjadi lebih baik dari hari ke harinya. Dan inferioritas itu terlupakan olehku. Tergantikan dengan antusiasmeku mempelajari hal-hal baru.

Kadang sepertinya memang begitu. Kita adalah paradigma kita. Dan seperti kita yang terus berkembang, paradigma itu juga sepatutnya bertumbuh kembang.

Depok, 26 Agustus 2015

20.18 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s