Memiliki Proses

Standard

Dari banyak hal yang kupelajari sepanjang penulisan skripsiku tiga tahun lalu di bawah arahan Ade Armando, salah satu bagian paling berkesan buatku adalah Bang Ade membiarkanku ‘memiliki skrispsiku’. Ia ada dan selalu ada, sungguh-sungguh hanya jadi pembimbing yang menjamin setiap eksplorasi kognitifku berjalan dengan aman. Setiap kali aku khawatir jatuh, aku tau Bang Ade akan ada di situ untuk membantuku.

Pembimbingku yang baik itu, tidak melakukan hal menyebalkan yang acapkali dilakukan banyak pembimbing yang kisahnya ditutur dari lisan ke lisan. Ketika sebagian pembimbing ‘menyuruh’ mahasiswanya mengikuti teori ini dan ini, memangkas skripsinya dari sini ke sini, menambah di bagian ini dan ini (kadang tanpa memperhatikan dengan seksama maksud yang ingin dicapai anak bimbingannya), Ade adalah orang yang mensuplaiku dengan pandangan dan masukan-masukan tanpa mencela, tanpa memaksa.

Ia akan mendongeng tentang teori-teori jaman heula, dari perspektif ini dan itu, kata bung ini dan kata bung itu. Ia hanya bilang, “mungkin kamu bisa masuk dari situ”, atau “kurasa ini ada hubungannya dengan…”, atauu “ada baiknya kamu coba baca-baca tentang konsep si itu…” that’s all! Bang Ade nggak pernah memaksakan pendapatnya. Pernah sih, ketika kuminta masukan perlu tidaknya satu dua bagian aku sertakan, ia bilang “nggak usah. Itu nggak penting, Anggun.” Hanya saja entah kenapa, aku ingin coba menyertakannya. Waktu itu aku belum tau relevansinya. Dan kucoba saja, eksplorasi dan miksasi di sana-sini. Hingga saat bimbingan, bagian itu aku sertakan juga.

Saat itu reaksinya sama sekali bukan,”Kan aku (Ade sering menggunakan “aku-kamu” saat mengobrol dengan mahasiswanya) udah bilang ini dibuang aja! Ini nggak penting!” dan seterusnya, dan seterusnya. Sama sekali bukan. Ade adalah orang yang terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan, selama secara logis bisa dibuktikan relevan, baginya nggak masalah. Saat itu, Bang Ade malah bilang, “ini bagus!” (karena secara objektif memang bagus) dan dia meloloskanku meletakkan bagian yang awalnya dia bilang “buang saja” itu.

Bersama Ade Armando, skripsi yang awalnya hampir kuganti tema lantaran aku nggak punya cukup keyakinan bisa menyelesaikan inquiry-nya itu, skripsiku menjelma jadi karya yang aku (insya Allah) nggak akan lupa. Baik proses maupun hasilnya. Karena sesuatu dan lain hal aku menghabiskan dua tahun untuk menyelesaikannya. Tapi di akhir prosesnya aku memahami, ini hanyalah awal bagi inquiry yang tak ada habisnya. Di titik aku menyadari, aku berbakat soal ini.

You have to consider yourself to be a writer or a researcher, Anggun!” (Ade Armando, di hari aku mengantarkan revisi akhir skripsiku padanya)

Memiliki proses (yang dengannya karya tersebut sungguh-sungguh menjadi “milik penulisnya”) adalah barang mahal yang nggak didapatkan oleh setiap orang. Di ranah apapun, tentang karyanya yang manapun. Selama itu melibatkan persona superior sebagai supervisor atau editor, penulis pemula akan ditantang untuk tetap menjaga kehidupan karakter dan otensitas idenya. Dan bersama Bang Ade, aku mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menjadi diriku, mengartikulasikan selurus-lurus pemikiranku dalam karyaku. Yang diedit olehnya bukan karyaku, tapi pemikiran-pemikiran yang kurang relevan atau tidak demikian perlu. Bang Ade tidak membimbingku ‘menulis’, beliau membimbingku untuk berpikir secara ilmiah, cerdas, dan semakin mandiri pada akhirnya. Scaffolding sebutannya dalam kacamata Zone of Proximal Developmentnya Vygotsky.

Tanpa kusadari, polanya dalam membimbingku, kusimpan dalam bawah sadarku. Aku tidak mengingatnya sebagai pola hingga aku menerapkannya berkali-kali. Baru akhir-akhir ini aku menyadari, caraku mendekati orang-orang atau anak-anak, caraku menemani mereka mengevaluasi tindakan dan pemikirannya sendiri, caraku mengklarifikasi maksud-tujuan kemudian memberikan masukan, dan seterusnya, dan seterusnya itu, adalah hasil duplikasi tak sadarku dari kejeniusan pendekatan pembimbing skripsiku dulu. Butuh kurang lebih 3 tahun untuk sampai pada kesimpulan ini. Sungguh proses belajar yang panjang.

I do not know a proper way to thank him. But I really do!

Depok, 24 Agustus 2015

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s