Carira

Standard

Selasa malam (25/08/15), aku pulang dari Tebet bersama Om Uncle. Om Uncle adalah sebutanku untuk seorang teman kuliah yang hobi bernyanyi, suka berbagi ilmu, rendah hati, dan asik ini. Dia orang penting di salah satu institusi pendidikan dasar berbasis alam yang sudah punya cabang di sana sini. Omong-omong, lelaki baik-baik yang orangnya asik seringkali kupanggil Om. Terutama kalau dia lebih tua dari aku, tapi lebih muda dari ayahku. Jangan salah paham ya, haha.

Om Uncle mengikat ilmunya dengan berbagi. Itu kenapa baginya, berkesempatan menjadi guru dan berkecimpung di dunia pendidikan adalah hal terbaik yang terjadi dalam hidupnya. Untuknya, experience is the best teacher, and to be a teacher is his best experience. Om Uncle berbagi dengan siapapun, dimanapun, pada saat apapun.

Malam itu sepulang kuliah, kami naik metromini ke stasiun pasar minggu. Om Uncle cerita ini itu soal hipnoterapi yang baru saja dipelajarinya belakangan ini. Panjanglah. Sesi kuliah bersama Om Uncle adalah salah satu hal menyenangkan yang secara gratis potensial kudapati sepulang kuliah.

Dari ceritanya yang panjang lebar itu, ada satu catatan yang kemudian aku highlight. Om Uncle bicara soal karir. By the way, dia adalah trainer berlisensi terkait career path memang. Dalam ceritanya ia menjelaskan, “karir itu asal katanya adalah carira. Diadaptasi dari bahasa latin yang berarti progress. Karena titik tekannya adalah progres, ibu rumah tangga yang terus mengembangkan diri dan kapasitasnya pun sejatinya telah berkarir. Sementara mereka yang bekerja terus-menerus namun kehilangan sense untuk mengembangkan dirinya, sejatinya telah kehilangan arti penting karir itu sendiri.” (—dibahasakan ulang dengan modifikasi seperlunya).

Dari orang-orang yang aku temui, acapkali aku mendapati makna-makna baru di balik kosakata lama yang sudah sejak lama menjadi entri di kamusku. Selasa lalu aku dapat makna baru tentang karir. Jumat sebelum itu, aku mendengar logika cerdas mengenai energi. Kita semua adalah energi. Dan setiap energi saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Kadang hidup memang aneh ya. Rasa-rasanya kita tersesat, padahal itu hanyalah cara Tuhan untuk mempertemukan kita dengan orang-orang yang menginspirasi kita dengan inspirasi yang mungkin kita bawa hingga hampir mati (kalau tidak sampai mati). Rasa-rasanya kita hampir sampai di tujuan. Padahal itu hanyalah awal dari kejatuhan yang akarnya tak kelihatan.

Kadang, inspirasi itu memang dihantar oleh raja dan ratu podium. Kadang hanya tukang sapu jalanan yang kebetulan sedang istirahat di bawah pohon tempat kita sedang rehat sejenak. Kadang oleh dosen-dosen luar biasa. Kadang bentuknya kanak-kanak yang memandu kita dengan pertanyaan. Pertanyaan yang mengawal kita mencari jawaban. Hidup adalah kumpulan kadang-kadang. Kadang begini, kadang begitu. Adalah juga kumpulan acapkali. Acapkali menemukan, acapkali pula kehilangan.

Depok, 26 Agustus 2015

22.15 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s