Setua Apa Cinta…

Standard

Ketika usia menua, cinta dapat berbeda warna

holding-hands

Ada yang makin lekat,

Hingga ketika yang dicintainya tiada,

Bergeminglah seluruh hidupnya.

Ada yang makin renggang,

Hingga cerita antara mereka tinggallah keharusan demi keharusan,

Tak ada warna, tak ada rasa.

Malam itu di pertengahan Maret,

Sepasang pecinta bungkuk beruban, hendak menyeberang jalan,

Berpegang tangan,

Bergerak perlahan-lahan,

Berdua tanpa padanan.

Malam itu di pertengahan Maret,

Pecinta lelaki mengibas tangan kanan ke arah langit,

Hendak menghalau lalu lalang yang meriah selayak kunang-kunang,

Tangannya yang lain ia genggamkan pada sebuah tangan kanan, lebih mungil,

Milik kekasih yang berdiri gugup di kiri dirinya.

Setengah terhuyung wanita itu mengikut langkah lelaki yang bergegas,

Mesti cepat, sebelum kendaraan kembali lewat.

Di kaki lampu jalan penghias batas dua jalur itu,

Pecinta lelaki beralih ke kiri sang wanita,

Mengulang adegan seperti separuh jalan penyeberangan itu.

Dua tangan itu tergenggam hingga seberang,

Hingga sampai pada tujuan.

Malam itu di pertengahan Maret,

Segenggam cinta memperlihatkan bentuknya.

Amat sederhana.

Bahasa tanpa kata,

Terbuktikan melalui masa.

Tebet, 17 Maret 2015

anggun nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s