Tanpa Pilihan

Standard

Kadang untuk memastikan kita belajar suatu hal, Tuhan mendesak kita ke sudut yang tidak memberi kita celah untuk melarikan diri. Harus di situ, pada situasi itu, saat itu juga. Kalau saja kita diberi pilihan, kita akan punya waktu untuk mengecilkan ekspektasi pada diri sendiri, untuk menilai diri kita nggak pantas, hingga akhirnya menghindari sungai yang baiknya kita seberangi.

Itu terjadi padaku dua tahun ini. skenario keterdesakan ini. kalau saja aku tidak terdesak oleh pembelajaran bertubi-tubi nan menguras sumber daya (tenaga, mental, pikiran) model ini, aku tidak akan terakselerasi.

Sebenarnya aku pernah punya kesempatan-kesematan yang mirip dengan peluang hari ini. saat kuliah tepatnya. Tapi aku selalu sok perfeksionis dan menunda. Aku selalu meng-under estimate diri sendiri dan menghentikan langkahku untuk mencoba. Aku tidak keluar dari zona nyamanku.

Padahal, esensi belajar adalah mengeluarkan diri dari zona nyaman hingga derajat yang dibutuhkan. Untuk kemudian beradaptasi, modifikasi, improvisasi, dan melakukan inovasi yang dibutuhkan dalam proses adaptasi kita dengan pembelajaran tersebut. Segera setelah kita menguasai keterampilan yang awalnya ada di luar zona nyaman kita, keluasan zona nyaman itu berkembang. Zona nyaman kita meluas lantaran kita telah berhasil menguasai medan yang semula ada di luar benteng kenyamanan itu.

Aku sering sekali mengurung diriku dalam ketakutan dan keraguan. Membiarkannya bergerak begitu pelan-pelan. Hingga akhirnya setelah hibernasi menahun, Tuhan menghujaniku dengan berbagai kesempatan belajar dalam dua tahun terakhir. Judulnya memang kesempatan belajar. Aplikasinya bisa dibayangkan kan? Lebih banyak tugas dalam aneka bidang yang belum aku kuasai, lebih banyak gesekan yang menuntut diri meluas-luaskan hati, lebih banyak hal untuk ditangani dan dipertanggungjawabkan, lebih banyak waktu menangis ketimbang santai-santai, dan seterusnya.

Ini teorema keterdesakan. Keterdesakan yang memicu lompatan kuantum. Akselerasi berbagai sisi. Semacam comprehension test dari pendidikan hidup sejak lahir hingga kini. Banyak sekali pengetahuan dan keterampilan yang kupelajari di masa lalu, dikonsolidasi ulang di sini. Praktis kelelahan tentu. Tapi ini riil: akselerasi. Aku adalah introvert yang lumrah melupakan kemampuan yang pernah dikuasai. Masih menguasainya, tapi tidak “ingat” kalau sebenarnya kita itu bisa. Deskripsi legkapnya bisa dicek di buku “Introvert Advantage“. Dan satu setengah tahun terakhir, aku seperti mengikuti ujian kompre banyak mata kemampuan yang aku bahkan lupa kalau aku pernah belajar itu.

Lima tahun terakhir adalah lima tahun yang luar biasa. Yang memundurkan aku sementara, memberiku lebih banyak waktu untuk mengevaluasi dan merenung. Untuk menanyakan pada hati soal cita-cita, soal apa-apa yang kita tuju dan kenapa kita begitu keras kepala menginginkannya. Sepenting itukah artinnya bagi hidup kita.

Dua tahun terakhir adalah dua tahun yang memaksaku kepala, hati, tangan, dan kakiku bekerja dengan kecepatan cahaya. Sempat jet lag. Seperti orang bangun pagi yang baru ngucek mata langsung ditarik untuk berlari. Dan larinya itu bukan sepuluh dua puluh meter. Ini jenis lari yang membutuhkan kecepatan ala sprint, dan durabilitas ala maraton. Baru bangun tidur. Atau jangan-jangan malah masih setengah mimpi.

Loop Holes

Tapi ya itu… Kadang kita butuh waktu lebih untuk mendalami makna dari sesuatu. Membiarkan hari-hari gugur dari batang usia, baru kemudian mampu mengiyakan hikmah di balik peristiwa-peristiwa. Dan tepat ketika penerimaan yang baik berkembang dalam hati kita, tepat ketika segala sirkumstansi keterdesakan ini pelan-pelan mampu kita adaptasi, Tuhan menjadikan kita lebih mudah memahami apa yang sebetulnya sedang dirancangNya. Memang parsial, mana kutahu setelah detik ini Tuhan menyiapkan apa. Merahasiakan apa. Tapi setidaknya, pelan-pelan Tuhan mendewasakan kita untuk menggenggang lebih erat pucuk-pucuk keyakinan, bahwa Tuhan selalu menginginkan yang terbaik buat kita. Bahwa Ia tidak akan pernah mengecewakan mereka yang mengharap padaNya. Bahwa rencana Tuhan selalulah rencana untuk menghebatkan kita. Dan bahwa Allah itu memang Maha Luar Biasa. Sempurna. Ini cuma soal kita yang perlu lebih banyak belajar. Learn, learn, and learn.

Margonda, 3 Maret 2015, 07.15 WIB

One more March anthem, Anggun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s