How Impactful a Word Can Be!

Standard

Child's Bite2009 lalu, aku kos di sebuah rumah kos di daerah Kapuk, Puri Astuti namanya. Di lantaiku ada satu TV lengkap dengan karpet untuk nonton dan ngobrol-ngobrol. Suatu kali, aku duduk di situ bersama salah seorang kakak kosku, kak kiki aku memanggilnya. Aku lupa kita sedang ngobrol apa, aku hanya ingat aku sedang takut (atau khawatir) tentang sesuatu. Dan kak kiki menimpaliku, “kamu takut apa angguuuunnn… Nggak akan ada yang gigit kamuuu...”

Simpel ya. Kupikir dulu itu juga simpel.

Hingga hari ini, enam tahun berselang, saat aku sedang cuci piring di rumah kesayangan aku-mba ullum-mba lili-mbati-anis-rida, aku akhirnya ingat. Kata “gigit” yang sering kugunakan itu oleh-oleh ngobrol bareng kak kiki enam tahun lalu.

Nuunnn jauh setelah semua itu berlalu, tanpa kusadari dan tanpa kumaksudkan demikian, memori bawah sadarku menyimpan petuah itu demikian dalam. Aku sering sekali menggunakan kalimat serupa dengan kata kunci “gigit” itu, untuk menenangkan orang lain.. “yaudahlah guuyyss… Santai aja keleuss.. Nggak akan digigit ini..!” “tarik napas aja guyss… Tegang amat yak? Kita nggak nggigit dan nggak makan orang kali!” dan sejenisnya…

Dari sana ternyata. Aku baru menyadarinya. Kata “gigit” yang demikian sakti itu adalah hasil berguru dari guru tanpa sengajaku: kiki, puri astuti, enam tahun lalu. how impactful a word can be.

Rumah kesayangan aku, mbati, mba ullum, anis, rida, mbalili…

8 Maret 2015, 19.31 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s