Tentang Mba Tuti dan Rumah Kecil Kami

Standard

Ada yang beda dengan kosan ini… Segera setelah mba tuti pergi. Rasanya jauh lebih lengang, bahkan meski mba tuti bukan tipikal ramai-ramai hip-hip hura. Ada yang kosong. Dia pergi, melangkah dari satu takdir ke takdir lain. Aku masih bisa ketemu dia dengan mudah. Kita semua bisa. Tapi tetap saja ada yang beda.

Weekend kemarin aku ke Ujung Kulon, mba tuti mampir ternyata. Awal-awal dia masuk setelah sepekan cuti nikah. Aku nggak ketemu dia. Berhari-hari hingga jumat pekan ini. kemarin. Akhirnya aku ketemu dia yang lagi duduk di bangmen samping kolam buaya. Dan kita teteriakan, “kaaangeeeeennnn…!!!”
Guess what I felt! Aku terenyuh… Dia merindukanku. Yang kangen bukan aku doang ternyata.

Guys… Mba tuti itu adalah orang yang aku butuh waktu terlama untuk mendekatinya, jauh lebih lama ketimbang seluruh anggota keluarga kosan kami. Lebih dari setahun yang lalu aku kemari. Pertama kali kuinjak lantai nyaman ini, dia yang pertama aku dan mba riri temui. Aku nanya soal listrik, nanya macem2. Ala-ala aku. Belakangan aku tau, dia nggak terlalu menikmati ketemu orang yang kebanyakan bicara. Yang jelas… Duluuu sekali, aku paling segen sama mba tuti. Padahal, mudah sekali aku memasuki hati orang-orang di sini. Tapi tuti? Aku pikir-pikir sekian kali…

Hingga suatu kali aku masak bareng mba tuti… Lalu kita mengobrol. Aku tanya tentang dia, tentang keluarganya. Aku bilang aku nggak bisa masak, karenanya dia harus memberitahu aku soal komposisi bumbu. Dan jumlah yang dibutuhkan tentunya. Rasa-rasanya mulai works!

Hingga suatu kali kosan kami sedang sepi. Aku tinggal berdua dengannya. Aku cerita sembari menangis-nangis. Aku cerita soal banyak hal yang kusimpan-simpan. Soal partner, soal load kerja, soal kebutuhanku akan waktu adaptasi sebelum ditimpuki buntalan kepercayaan model ini.

Hingga selalu, dia nggak pernah biarin aku masak sendirian lagi. tuti akan ada untuk menemani… Secara teknis kelihatannya hubungan ini nggak sedekat hubungan mba tuti dengan anis, seasik dan sesantai hubungannya dengan rida, atau sehormat dirinya pada mbalili. Tapi tuti punya tempatnya sendiri di hatiku. Kenapa ya…

Tuti adalah tuti yang lebih banyak bekerja daripada bicara. Yang suaranya perlahan ala pekalongan kecuali kalo lagi neriakin atau ngebully rida. Tuti adalah tuti yang selalu meminta orang lain mencicipi masakannya sebelum mematikan kompor. Selera orang lain lebih penting dari sekadar kepercayaan diri bahwa hasil karyanya bisa diterima. Tuti adalah tuti yang amat sangat rajinnya. Dia yang selalu membereskan lemari dapur kami. Menyusun kaleng-kaleng sarden, bongkahan mie instan, bumbu siap pakai, gula, garam, kopi, teh, minyak goreng, tepung, dan perbekalan rumah kecil kami lainnya. Dia juga yang dengan gemas mencabuti rumput-rumput di halaman depan dan belakang. Yang selalu memuji betapa leganya tinggal di rumah yang rapi. Yang merasa pusing kalau dunia ini berantakan. Tuti yang resik. Yang cantik.

Somehow… Mbati mengingatkanku pada adelia. Kalau aku sedang sedih, murung, mengurung diri dalam selimut, atau menangis di halaman belakang, tuti adalah tuti yang dari jarak semeter bertanya, “anggun kenapa..? Sakit…?” itu juga yang akan dilakukannya saat aku menutup pintu kamar, menarik selimut, dan menghadap dinding (ala aku kalau sedang kehabisan energi atau lagi sedih). Dia akan masuk, entah untuk mengepel, menyapu, atau meminjam jilbab ekstra besar mbalili untuk berbagai alasan semisal buang sampah ke depan. Sambil masuk dia akan bergumam, “anggun kenapa? Sakiit…?” kalau aku jawab enggak, yasudah. Paling nanti kalau dia masuk kamarku lagi dia tinggal bilang “permisi ya ngguun..”

Guys… Itu bahasanya tuti, atau mungkin aku yang kege-er-an. Tapi sungguh aku merasa tuti hanya ingin memastikan. Atau mungkin ingin mendengar ceritaku seperti aku membaginya pada ullum atau riri. Tapi tuti bukan orang yang seterjangkau itu. dia nyaman dengan jarak tertentu. Itu kenapa dia mendekati tapi jangan harap dia memelukmu atau duduk persis di sampingmu. Tuti nyaman dengan kecukupan jarak. Dan dia bukan tipikal orang romantis yang lihai mempertontonkan keromantisannya.

Pernah suatu kali sebelum tuti menikah aku berkata, “mbati… Kamu nanti sering main kesini ya… Kurasa aku akan merindukanmu.” “Aku akan kehilangan kamu.” Dia diam sesaat. Hanya menanggapi soal “main kesini”, alih-alih soal aku yang akan merindukannya. Tuti. Ini tuti. Dan aku mencintainya entah bagaimana.

Tuti adalah tuti yang membagi pengalamannya denganku. Yang sabar dan tidak mengomel meski lelah dan kesal di saat-saat penuh tekanan. Tuti adalah tuti yang cukup sering satu selera denganku. Dan kau tau, aku senang waktu kita ketemu jumat lalu, 27 februari 2015, dia bilang dia kangen aku. Dan aku boleh cium pipinya. Yang ada jilbabnyaa…. -,- nggak pernah lhoh sebelumnya. kalo mbalili mah udah abis aku kucing-in. Mereka… Aku sayang mereka. Hanya saja, masing-masing beda kadarnya. Dan mbatuti yang nggak bisa kujangkau itu, punya tempat yang beda.. Entah bagaimana aku cinta dia.SAM_1124

Aku bisa mengerti kenapa aku mencintai mbalili, bagaimana aku dekat dengan ullum, dan hubungan-hubungan selain itu. tapi tuti. Dengan tuti rasanya abstrak. Tidak banyak kata, tidak banyak duduk sama-sama. Tuti adalah tuti yang suatu kali aku menangis di halaman, ada rida dan rida bertanya. Aku cerita pada rida. Tuti mendekat, duduk sekitar satu meter dari kami. Mendengarkan dengan seksama. Tanpa menyela. Ada di sana, tanpa panjang-panjang bertanya kenapa. Persis seperti adelia. Somehow… Adelia…

Setelah kembali dari Pekalongan dua pekan silam, aku mulai merasa rumah ini kosong. Ada yang hilang. Bagaimanapun ini adalah rumah pertamaku yang diisi oleh orang-orang dewasa yang mengambil peran secara mandiri, tanpa perlu repot-repot buat jadwal piket sebagaimana di beberapa tempat tinggalku sebelum ini. Aku pernah tinggal dengan orang-orang, tapi rumah ini, sungguh yang paling nyaman.

Tadi pagi mbati mampir, menjemput kompor gas miliknya yang selama ini jadi inventaris bersama. Kakaknya mau datang, mbati mau masak. Dia berbaik hati belum mengambil kompor itu meski sudah berhari-hari dia kembali dan mulai menempati kontrakan barunya. Mbati…

Waktu mbati datang aku masih kepompongan. Kepompongan adalah istilah mba ullum untuk menyebut aku yang hibernasi. Energiku nggak banyak, kalaupun sedang banyak nggak segitu tahan lamanya. Aku menyimpan energi dengan mengambil jarak. Jalan-jalan sendiri, baca buku, kabur ke kontrakan nila, jogging sendiri, atau yang pertama dan terakhir: tidur. Menarik selimut hingga leher. Sempurna menutup. Mirip kepompong memang.

Mbati datang aku masih kepompongan. Khas mbati… “anggun sakit..?” “nggak mba…
Sebentar sekali mbati mampir. Dan aku hanya mengamati dari kurungan selimutku. Mbati, mbati, mbati… Aku masih merasa ada yang kurang, ada yang berubah. Pastinya. Hanya saja, dulu jarang lhoh aku merasa kehilangan. Tapi memang, sekali aku merasakannya, kehilangannya memang dalam. Seperti tentang Adelia bertahun-tahun silam.

SAM_1270Mbati… Semoga Allah selalu bareng sama mbati.. Semoga mbati selalu bahagia, selalu bisa ketawa dengan cantik yang sempurna. Selalu merasa damai, tenang, dan lapang dalam segala ruang hidupnya… Aku sayang sekali sama mbati.. Meski beda sekali aku ke mbati dibanding aku ke mba ullum atau ke mbalili. Tapi sungguh aku sayang mbati. Sayangnya itu kerasa sampai hati sekalipun secara teknis kita nggak nampak sedekat kamu dengan anis atau aku ke mba ullum.

Selamat jalan mbati… Selamat melalui pagi hingga malam hingga kembali pagi, bersama dengan lelaki yang kamu cintai. Terima kasih untuk jadi kakakku selama lebih dari setahun terakhir. Untuk memperingatkanku akan banyak hal yang mungkin akan mengacaukanku di depan sana. Yang alhamdulillahnya aku taklukkan satu-satu. Aku sayang mbati… Alhamdulillah, kemarin kita semua lengkap nganterin mbati ke jalan baru. Dan meski rasanya jauh,, sejatinya kita masih bisa ketemu hampir tiap hari… Sayang mbatiii…

Rumahkesayangan aku, mbati, mba ullum, anis, rida, mbalili
Sabtu, 28 Februari 2015
20.45 WIB
anggun nadia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s