Ikatan-Ikatan

Standard

2014508152421Kita terhubung oleh sebuah ikatan. Ikatan yang punya banyak sekali cabang, hingga kita tak kan mampu menghitung atau memperkirakannya. Ikatan ini mengaitkan kita dengan rantai takdir yang lain, milik orang lain, atau milik makhluk lain, kucing sekalipun.

Ikatan kita tidak kasat mata. Terjadi bahkan tanpa pernah kita bayangkan akan terjadi. Bentuknya juga beraneka. Durasi dan implikasinya juga berupa-rupa. Ikatan kita mengikat takdir kita, kecil sekalipun, menyatukannya bahkan dengan orang yang tak kita kenal, untuk kemudian segera saja kita lupa, dalam hidup kita yang panjang.

Ikatan itu yang membuat aku dan Nila pergi ke Sempu Juni 2014 lalu, tanpa tim. Harusnya berempat, dua batal. Dan kita hanya berdua. Sok asik aja. Hihi… Ikatan itu juga yang membuat sopir angkutan setempat mengantar kami ke pertigaan depan masjid, tempat angkutan menuju Sendangbiru (kalau tidak salah, aku sudah agak lupa) menunggu penumpangnya. Sopir yang berinisiatif membawa kami ke pertigaan itu, bukan ke terminal sebagaimana seharusnya.

Ikatan itu juga yang menjadikan aku dan Nila menunggu demikian lama hingga mengira kami ditipu. Sampai akhirnya ikatan itu juga yang membawa serombongan anak SMA (seluruhnya lelaki) menuju angkutan yang sama dengan kami, untuk kemudian menemani perjalanan kami dua hari itu. ikatan itu menjadikan aku dan Nila nggak sendirian di Sempu. Dan ikatan takdir itu, menjadikan kami berdua dapat banyak bantuan dari orang asing tapi nggak berbahaya. Cowok-cowok SMA itu, SMA sekali rupanya. Dan kami senang, kita batal nyasar berdua doank. 🙂

Dapat bantuan mendirikan tenda, karpet gratis di depan tenda (mereka bawa-bawa baliho acara OSIS donk..), teman shalat berjamaah, tukang ngamen gratis, bantuan menyalakan api di tungku, teman mengobrol dan ceceritaan, teman satu perahu jadi sewanya murah dan langsung berangkat, dan seteruuussnya, dan seterusnya. Aman. Alhamdulillah.

Pagi ini aku baru balik dari Lampung. Entah kenapa ingin ke kosan Margonda. Mampir dululah, naro beberapa barang, begitu pikirku. Pagi ini gerbong wanita di ujung belakang rangkaian kereta hampir penuh bangkunya. Sisa sempilan di antara dua perempuan yang lebih muda dariku. Sempilan yang mereka isi dengan ransel. Kuminta sempilan itu untukku, pas. Tasnya kemudian mereka pangku. Ada banyak tas di sisi mereka, gendut-gendut, khas orang yang sedang bepergian jauh untuk waktu tertentu. Nona di sebelah kiriku bertanya, stasiun mana yang lebih dekat ke Mabes Polri Depok. Mabes Polri? Depok?

Percakapan kami dimulai. Nona di kanan-kiriku ini adalah mahasiswa asal Surabaya. Mereka apply magang di kantor Kepolisian Depok. Aku nggak inget itu namanya Polres, Polsek, Pol apalaah.. Aku nggak tau bedanya malah. Yang aku kenal benar cuma satu jenis polisi. Namanya Polisi Tidur.

Nona-nona itu menanyakan stasiun UI. Mereka disuruh turun di sana katanya, lalu sambung angkutan. Aku bilang, turun bareng saya aja, saya bisa turun situ kok. Ikatan baru, ikatan yang membuatku ingin ke kosan dulu sebelum ke tempat tujuanku. Ikatan yang memanggilku meminta sempilan ruang yang menyela mereka berdua, yang konon sebelum aku duduki telah jadi singgasana bagi sebuah tas ransel milik salah satu nona itu.

Ikatan ini menelantarkan obrolan kami kesana-kemari. Tempat beli oleh-oleh, tempat makan kerak telor, naik kereta apa kemana, harga tiket kereta ke Surabaya, jurusan Pendidikan Kedokteran Hewan UNAIR (yang menginspirasi mereka untuk main dengan anjing pelacak Kepolisian Depok), jam berapa berangkat dari stasiun apa, hingga nama dan bertukar nomor ponsel (aku penasaran, magang di divisi anjing pelacak kekira ngapain yak?), daaannn seteeeruussnyyaa….

Aku ikut turun bersama mereka di stasiun UI. Sudah lama sekali aku nggak turun sini. Aku bahkan baru tau kalau pintu keluar stasiun fix menggunakan jalur jebolan tembok di belakang halte stasiun UI. Oh Nona, kamu pasti sudah tua sekarang… -_- Lalu ikatan takdir itu bekerja lagi. Aku tapping keluar, dan di mesin ATM sisi kiri gerbang tapping, berdiri seorang teman lama. Kita teriak-teriakan memanggil nama dan persis seperti para Teletubbies itu, kami berpelukan. Ikatan yang tak dinyana menyampirkan kami dari satu halaman ke halaman takdir yang lain. Percayakah? Beberapa hari ini aku sedang mengingat nona yang kutemui di depan mesin ATM pagi ini. Sebenarnya aku mengingat dua orang. Tapi nampaknya, Tuhan memilih nona yang ini duluan untukku kutemui. Adalah, satu dua percakapan yang ingin aku buka dengan nona ini. Selangkah demi selangkah, kita lihat sejauh mana kita bisa berjalan.

Aku berpisah dengan dengan nona di depan mesin ATM, melanjutkan ikatan sebelumnya yang mempertemukan aku dengan lima anak UNAIR yang datang untuk magang di Kepolisian. Satu lelaki dan sisanya perempuan. Aku menemani mereka berjalan hingga dapat angkutan. Selesai. Ikatan babak satu selesai. Masih kontak via watsap, hingga pagi ini. Tidak tahu akan sepanjang apa ikatan ini berlangsung. Panjang boleh, sekian juga boleh. Seru aja kalau bisa ikutan main ke Surabaya. 🙂 suatu kali nanti.

Dan ikatan dengan nona di depan mesin ATM itu, rencananya akan berlanjut sore ini. Senang rasanya ketemu sama dia. Ada satu dua hal yang perlu diceritakan. Ada satu dua hal yang perlu diingat-ingat. Pelan-pelan.

*ada apa sebetulnya dengan KRL dan tapping gate-nya. hihihi… suatu kali di beberapa waktu yang lama berlalu, juga begini. turun KRL, di tapping gate. tapping gate. huff…

Minggu, 11 Januari 2015

Wisma Ella kamar 6b.

anggun nadia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s