Halaman Tanpa Angka

Standard

Aku sedang menekuni halaman sebuah buku.
Di sana tertera sebuah kisah.
Warna sampul dan warna halaman dalamnya,
Mengingatkanku pada biasan cahaya yang menembus prisma.
Aneka.

Suatu kali aku sedang makan kue pie.
Lalu aku duduk dan mengambil buku yang kumaksud.
Aku membacanya.
Pie di lidahku tiba-tiba saja beraneka rasa.
Manis, asin, pahit, gurih, strawbery, cokelat, keju, hingga rasa peluh dan rasa air mata.
Aku terpaku.

Lalu di kali yang berbeda aku kembali membaca.
Jantungku berdegup agak aneh.
Tiba-tiba mencelos, tiba-tiba sedih.
Kala kutatap langit kulihat langit pun mendung.
Mungkinkah langit sedang membaca kisah yang sama?

Hari berlalu dan aku kembali menekuni buku itu.
Aku melihat bunga.
Mekar ditingkahi kupu-kupu yang heboh menari.
Dari buku itu aku menyadari, adakalanya hidup semanis buah ceri.

Ini cerita yang tak selesai meski kau baca bukunya tahun demi tahun.
Kau menunggu lanjutannya.
Selalu dan selalu menunggu ada apa di halaman berikutnya.

Ini tentang sebuah cerita
yang tak kau tunggu akhirnya.

16.32 WIB
8 September 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s