Ketika Allah Mengambil

Standard

Suatu kali ibuku punya pembantu, datang beberapa jam, menyapu satu dua ruangan, mencuci, kemudian pulang. Lalu pergi untuk tinggal bersama anak bungsunya. Lalu ibuku kembali dengan pekerjaannya yang banyak, sendiri.

Lalu datang lagi pembantu yang lain. Kali ini jauh lebih muda dari yang pertama. Menolong ini itu, lalu pulang. Dua mingguan berjalan, mesti ke bandung katanya, ke kampung orang tuanya. Lalu tidak kembali. Ibuku kembali berjalan sendiri.

Lalu datang yang ketiga, lebih muda dari dua-duanya. Hanya sebentar. Lalu pergi.

Bukan karena ibuku galak atau memberi terlalu banyak beban. Ibuku sangat murah hati, senang berbagi, longgar dalam perijinan, dan nggak tega ngasih banyak pekerjaan. Jodohnya memang hanya sampai situ.

Terakhir datanglah yang keempat. Seorang ibu satu anak. Rajin sekali. Namanya Mba Neneng. Dia rajin, membereskan semua ruangan, mencuci, menyetrika, dan membantu memasak. Merasa tidak enak jika tidak masuk kerja. Orangnya baik, ramah, dan sopan. Juga cekatan.

Cerita ibuku, dulu Mba Neneng kerja pada orang yang suka seenaknya. Bosnya suka menyuruh tanpa tedeng aling-aling. Suatu kali pernah, usai perjamuan di rumah majikannya, Mba Neneng diminta mencuci dan menyikat dua puluh buah karpet dalam sehari. Besoknya ia sakit. Jika orang tuanya sakit di kampung, Mba Neneng sulit dapat ijin pulang. Dia mesti melayani kebutuhan delapan orang anggota rumah. Kebayang kan, berapa banyak pakaian yang mesti ia tuntaskan? Berapa banyak masakan yang mesti ia siapkan? Dan gajinya, hanya lebih 50.000 dari yang ibuku mestinya berikan (sudah kubilang kan, ibuku murah hati n_n).

Hari ini aku bertemu Mba Neneng. Lantas tiba-tiba saja aku belajar. Hubungan kerja ibuku dan Mba Neneng adalah kontrak takdir antara orang baik dengan orang baik. Sebelum kontrak yang ini diikat, baik ibuku maupun Mba Neneng harus melewati kontrak dengan orang-orang sebelumnya, yang boleh jadi kurang memuaskan. Dan setelah berputar kesana-kemari, lalu kehilangan, kemudian digantikan, ibuku mendapati Mba Neneng. Mereka saling cocok. Bekerja dan berbincang sebagai teman. Dan aku senang.

Hari ini aku belajar suatu hal. Pelajaran yang diulang hampir di tiap bangku ujian. Tapi kali ini ujiannya bukan padaku. Tapi pada mereka yang ‘kebetulan’ kusaksikan dengan mata kepalaku. Bahwa di tiap kali Allah menangguhkan sesuatu, itu artinya Allah tengah menyiapkan yang lebih baik dari itu.

Alhamdulillah…

^_^

Lampung, 25 Mei 2014

Anggun Nadia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s