Tentang Mba Tuti dan Rida

Standard

Di kosan kami mba tuti paling cerewet sama rida. Kalo salah pasti ditegur. Kalo lelet dikomentarin. Awalnya rida emang masuk ke kategori males tingkat dewa, suka seenaknya, tersangka pemakan habis makanan tanpa sisa, terdakwa kasus pencaplokan hak milik saudaranya (makanan juga), paling ogah disuruh masak, orang beres-beres dia tidur, hahaha. Dan dengan seenak udelnya malah bilang kalo, “rumah paling nyaman adalah rumah dimana kita bisa jadi diri kita apa adanya!” huahahahahaha… Ya keleesss doi serumah sendiiriii… Ini cuiyy??? Berenem! Muahahaha….

Awalnya aku bete, tapi jadi kesian kalo rida mulai kena tegor sana-sini. Mba ullumlah, mba tutilah.. Wuiihh… Ckckck… Aku sama anis tinggal geleng-geleng. Mba riri ketawa-tawa doank. Rida juga sih emang. Tapinya ya gitu, aku terjebak diantara rasa kesal karena rida nggak pengertian, rasa kasihan karena dia dimarahin mulu, dan rasa lucu karena semua itu kaya dagelan. :p

Rumah ini sangat menyenangkan. Ini seperti padang rumput setelah sebelumnya taman-taman lengkap dengan pagar di sana-sini. Entah. Rumah ini lebih manusiawi. Lebih kaya aroma, tidak melulu bau mahasiswa, tidak bau dewa-dewa, pokoknya baunya beda-beda. Bukan antara satu dengan lain orang saja yang beda. Tapi lebih karena baunya beda dari situasi ke situasi lainnya. Lebih manusiawi, seperti dunia dengan khasnya. Kamu tau? Bahkan di sini ada sesi ngobrol sama ibu komplek dan belanja di tukang sayur. Asik deh! Muach! To the max!

Kita berenam, di sebuah rumah kecil ukuran perumahan pinggir tempat biasa dibeli orang pake nyicil. Di pinggir kota. Jauh dari hiruk-pikuk yang lama sekali melingkupi kita. Di sisi jalan yang kami lalui ada banyak ilalang, kupu-kupu,capung, pohon singkong, dan pohon jambu. Kebayang kan betapa kampungnya tempat ini.

Langit di sini biru. Memutih lantaran awan sebelum berubah abu tua dan jatuh sebagai hujan. Di sini jangkrik-jangkrik riuh berpesta jelang malam. Di sini orang bicara dengan bahasa sangat sederhana. Tidak ada semiotika, tidak ada propaganda, tidak ada sikat-sikut, tidak ada main politik, tidak lagi kudengar diksi hebat keluaran para terpelajar dari kampus-kampus hebat negeri ini. Luar biasa. Kata-kata yang serba hebat. Tapi tak sedalam itu terkenang di langit ingatan.

Dan ternyata, aku sangat menikmati sensasi serba sederhana ini. Setidaknya ini tempat yang sempurna untuk menarik diri sementara ini. Untuk duduk di sisi sungai, yang mengalir dalam fantasi kita yang rindu segala khas tentang sebuah kata : damai.

Kami berenam. Ketemu tidak sengaja dan tidak langsung jadi enam. Seperti grup band, ngurang nambah – ngurang nambah. Sekarang, enam!

Banyak kejadian bodoh di hidup kami hari-hari ini. Segala kelucuan, segala tangis berikut tawa atau segala tawa berikut tangisnya, segala lelah, segala kebodohan, segala kurang, segala kehebatan masing-masing lima temanku ini, segala permakluman, segala kerja sama, segala inisiatif, segala masakan gosong, segala kucing muntah, segala adegan antrian mandi, segalanya begitu sederhana bila pembandingnya adalah hidupku di lingkungan sebelumnya. tapi aku suka. Sangat suka. Meski tawa dan tangis selingannya tak jauh beda, tapi aku betah. Aku merasa damai dan belum berpikir untuk pindah.

Di sini udara segar relatif murah. Kebahagiaan sesederhana bisa coba-coba masak kadang enak kadang malpraktek tapi hepi. Rasa puas itu sesederhana menyelesaikan tugas hari itu tanpa mengabaikan teman-teman satu kosan. Tanpa egois. Mengambil secuil peran yang mereka sisakan buat aku yang bodoh, lantaran mereka terlalu baik dan empatik. Akuu… Kurasa aku mencintai mereka. Haha. Bodoh ya..?

Ini kali pertama aku hidup sama-sama dan aku merasa baik-baik saja. Bahkan setelah sekian lama. Meski harus berbagi ruang, mengantri mandi, dan berbagi banyak hal lainnya, tapi kurasa aku menerimanya. Ini beda dengan yang dulu-dulu. Mungkin karena di sini rasanya lebih manusiawi. Ada yang ngaji, ada yang nyetel tipi, ada yang nyetrika sambil watsapan sama pacarnya, ada yang nyuci sembari nyumpel telinga, ada yang tidur sampe pagi. Terlalu manusiawi. Baunya manusia sekali. Tidak ada yang repot-repot menerapkan standar tinggi ala dewa. Cuma secukupnya saja. Kalau tidak cukup, mmm…. Hahahaha…. Itu lhoh,,, ceritanya bakal kaya Rida! 😛

Sekarang donk! Rida pagi-pagi udah sibuk kutak-katik. Ngapain kek, ngapain. Hahahaha… Tau nggak aku mau cerita apa? Aku mau cerita bagaimana situasi ini, dagelan ini, mengajariku rasa cinta kakak pada adiknya.

Namanya mba tuti. Keluarganya bermil jauhnya, nun di salah satu kota di bilangan Jawa Tengah. Mba tuti anak kesembilan dari sepuluh bersaudara.
Namanya Rida. Anggota rumah paling baru diantara kami berenam. Datang jauh-jauh dari Medan. Anak terakhir dari dua bersaudara.

Sebenarnya seisi rumah ini relatif sepantaran. Usia kami hanya terpaut satu-dua tahun. Tapi kami sebelum ini, hidup di lingkungan sangat beda, dengan pengalaman yang juga jauh-jauh beda. Beda itu lhoh, yang aku bilang manusiawi. Salah satunya.

Kembali ke mba tuti dan rida. Aku sudah cerita kan, mba tuti itu paling bawel sama rida. Semuanya dikomentari. Sedikit-sedikit teriak habis itu ketawa. Rida itu seperti adik hiburan buat mba tuti. Bisa dibecandain, diteriakin, dibully, tapi sebetulnya mba tuti itu sayang sama rida.

Mba tuti akan memberi tau aku dengan perlahan. Main sama anis, becandaan, atau ngambek-ngambekan. Tapi mba tuti ke rida? Mba tuti nggak bisa lihat rida salah lama-lama. Dia cepat sekali teriak, komentar, protes, saking sayangnya. Dan rida berubah, waktu demi waktunya. Dan tiba-tiba ke dalam hatiku jatuh rasa haru. Aku baru lihat, ini namanya kakak pada adiknya. Tidak marah. Hanya ingin adiknya jadi lebih dan lebih baik setiap harinya. Sungguh tidak marah, kalo usil… Mmm… Bisa jadi! 😛

Sembari mencuci piring aku berpikir. Tuhan juga suka gitu. Kenapa aku jalannya susaaaah sekali. Kenapa orang-orang dibiarkan begitu mudah. Kenapa aku pikirannya rumiiiiit sekali. Kenapa orang-orang tidak demikian. Tiba-tiba jatuh pengertian dalam hatiku. Mungkin beginilah cara Tuhan mencintai aku. Karena Dia tidak mau membiarkan aku lama-lama salah. Ia mengalihkanku dari satu jalan, bahkan sebelum ransel ini ajeg di pundakku dan aku mulai berjalan. Itu kenapa aku relatif lama menemukan jalan.

Jika ada seribu jalan ke Roma. Kita tidak perlu mencoba keseribu jalan itu. Kita hanya butuh satu jalan, tapi sampai tujuan dengan selamat dalam berkah dan kasih Tuhan. Dalam ridha dan rahmat. Kadang aku lupa, jika aku batal menempuh satu jalan mungkin itu karena Tuhan tau, itu bukan jalan yang Dia sengajakan untukku. Ada jalan yang lain. Yang lebih Dia suka. Yang lebih Dia ingin untuk aku jalani. Tapi jalan itu mungkin masih jauh. Mesti lewat jalan lain dulu, menikung, telusur, menukik menanjak, berbelok. Lalu masuk ke jalan yang lain, memintas ke jalan berikutnya, dan entah berapa panjang proses kita untuk sampai ke jalan yang memang buat kita.

Yang jelas aku yakin bahwa, kita tidak perlu buang-buang waktu membuktikan jalan mana sampai ke Roma dengan menulusurinya hingga ujung. Satu demi satu jalan. Tidak. Itu kenapa jalanku penuh dengan belokan, pertigaan, dan jenis potongan lainnya.

Karena jalan itu bukan menuju Roma-ku. Jalan-jalan itu (dan mungkin juga jalan ini) hanya mengantarku sampai ke jalan berikut menuju Roma-ku. Aku hanya harus menjalaninya. Hanya ingin terus percaya. Aku memang tidak tau apa-apa. Tapi urusan ini segalanya datang dari dan berpulang kepadaNya. Dan Dia tau segalanya. Itu sudah.

Cara mba tuti mencintai rida, mengenalkan aku malam ini, tentang betapa Tuhan selalu ingin yang terbaik buat hamba yang dicintaiNya. Tentang segala ketersendatan ini hanyalah cara Tuhan untuk menjadikan kita lebih hebat dari hari ke harinya.

Di balik ilalang dan pohon singkong,
Rumah nomor 4.
Anggun Nadia Fatimah.

06 Juni 2014, 22.04 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s