What is Yours, Would Never Be Other’s

Standard

Suatu hari aku ingin mendaftar kelas X di tempat kursus Y.

Suatu hari aku ke sana, resepsionisnya bilang, “kita punya kelas ini, ini, dan ini (tanpa menyebut kelas X yang aku mau itu). Semua harus lewat tes penempatan kelas.”

Asumsi hari itu adalah, kelas yang aku mau mungkin tidak dibuka. Atau dibuka hanya untuk program khusus kelas internasional dan semiripnya.

Lalu hari berlalu. Aku akhirnya melewatkan term itu tanpa mendaftar di kelas mana-mana. Batal.

Suatu hari setelah lebih tiga bulan berlalu. Aku kembali ke sana. Mendaftar tes juga les. Aku kebagian tes bulan depan. Kuota bulan itu habis. Aku mendaftar les term II, untuk kelas Z. Tidak kupikirkan lagi kelas X yang aku mau dulu. Sudah lewat. “Jalan mana saja yang mungkin, sudahlah mari kita tempuh,” begitu pikirku.

Aku mendaftar kelas Z. Memikir-mikirkan soal kelas Z. Bertanya ini itu tentang kelas yang dimaksud.

Aku tes penempatan untuk kelas Z. Tes tulis. Lolos.

Seminggu setelahnya aku baru tes lisan.

Dan yang tidak kubayangkan datang begitu saja. Seperti meteor yang melesat di langit. Terjadi saja.

Sore itu di ruang tes lisan masuk kelas Z, aku bertemu Tuan Baik. Ramah secukupnya, kontak mata secukupnya (aku tidak terlalu menikmati kontak mata intens dalam waktu lama), santai tapi jelas. Tidak menyudutkan, sangat menghargai, dan memberi aku meteor lesat sore itu.

Sebut saja orang ini si Tuan Baik.

Sepuluh atau lima belas menit. Dia sukses menyulapku kembali ke kelas X, kelas yang lebih tiga bulan lalu aku ingin-inginkan sangat. Kelas Z menurutnya tidak sesuai dengan tujuan belajarku yang ia tau setelah puas menanya-nanyai aku. Aku pikir ia akan menawariku masuk kelas B. Kelas yang sejujurnya aku enggan lantaran itu nampak seperti les-les pada umumnya, mana diferensiasinya. Terlampau dasar, meski beda-beda levelnya. Ternyata bukan. Dia menyebut si kelas X. Negosiasi jadwal dan penjelasan singkat ini itu. Deal. Aku sampai akhirnya, ke kelas X, ke muasal yang aku ingin.

“Setiap manusia dimudahkan menuju apa yang diperuntukkan Tuhan baginya.” (Sebuah Hadist)

Aku pulang dengan senyum mengembang seperti balon dipompa nitrogen. Terbang-jejak-terbang-jejak. Senang. Luar biasa senang. Mungkin kalian tidak mengerti, karena bukan kalian tokoh utama dalam cerita ini. bukan kalian yang sempat menginginkan kelas X sedemikian penuh dan melalui pertimbangan panjang-panjang. Bukan kalian mengimpikannya. Aku.

 —

Kau tau? Kadang kejadian kecil dalam hidup dengan sangat indah merefleksikan apa yang mungkin terjadi di kosmo yang lebih besar. Mikrokosmos kita adalah bagian dari makrokosmosnya. Orang bijak di jaman dulu mengenal baik ungkapan ini, “carilah apapun yang ingin kau temukan, di dalam dirimu.”

“Mereka yang tidak mengenal dirinya tidak akan mampu mengenal Tuhannya.” (Ali ra.)

Adakalanya aku merasa pesimis, akan apa yang mungkin kuhadapi di depan nanti. Ada hal-hal yang berat untuk disertakan di sini. Ada yang tak leluasa aku ceritakan. Tapi pada dasarnya mirip dengan cerita les-les-an ini.

Di jalan pulang dari tempat kursus Y, rasa senangku berlipat. Aku seperti disodorkan miniatur kemungkinan takdir. Mengertikah? Itu,,, anggap ada seribu jalan ke Roma. Tapi kau belum mengenal  988 jalan. Baru hitungan belas yang kau kenal sedikit-sedikit. Dan kedua belas ruas jalan itu nampak demikian sulit (bahkan mungkin mustahil) menyampaikan engkau ke Roma-mu.

Lalu suatu hari meteor melesat di langit gelap – Ruang Mungkin yang kau telaah sampai menangis lantaran semua demikian tidak mungkin. Melejitkan cahaya yang tak sempat kau sangka-sangka. Menyatakan, “Nona, ini mungkin. Tak percayakah egkau di langit tak ada yang tak mungkin. Belum pasti. Tapi kau boleh berharap.”

Seorang teman pernah bilang, “berharap itu menyakitkan.” Hanya saja menurutku,berharap tidak dapat dinegasikan. Setiap kali ingin, maka kali itu pula harapan terbit. Ini tentang kepada siapa harapan itu kita tujukan.

Meteor kecil melintas sore itu. Pendek sekali ia bicara, “kau baru kenal dua belas jalan ke Roma-mu. Masih banyak rahasia langit yang tak kan dibukaNya padamu sampai Ia menjadikannya sendiri atasmu. Hidup ini menarik karena ia misterius, Nona.”

 —

Benar. Baru dua belas jalan yang aku tau. Belum selesai pula aku tempuh satu-satu. Jalan mana saja, sampai jumpa di Roma. Waktulah yang akan memperlihatkan, sebesar apa keyakinan kita, sesungguh-sungguh apa, kita mengimpikan Roma..

Rafflesia Lt.2, kamar 20.

07 Mei 2013

15.30 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s