Mas, Sisanya Dibungkus Aja.

Standard

Namanya Dandelion, sebut saja begitu. Aku mau cerita tentang Dandelion, piring makannya, dan kebiasaannya membungkus makanan sisa. Beberapa kali aku (atau kami) makan bersama Dandelion, di kampus, di jalan, di macam-macam tempat. Dandelion itu mungkin ususnya memang tidak melar terlampau panjang, atau di waktu-waktu itu sebagaimana sering dikatakannya, dia tidak sedang lapar. Misalnya makan hanya untuk menemani atau memenuhi undangan. Memang bukan karena lapar.

Aku juga makan bersama orang-orang lainnya. Di antara yang lain kutemukan orang yang membiarkan makanannya bersisa ketika ia sudah tak lagi berminat terhadapnya. Macam-macam pula dalihnya. ‘sudah kenyang, nggak muat lagi’, ‘nyisain buat kucing-kucing’, atau ‘berlebihan itu tidak baik, kita toh tidak boleh memaksakan diri’. Tinggallah butir-butir nasi yang coreng moreng guratan lauk pauk di piring yang kemudian diangkut dan lepas dari ingatan.

Dandelion tidak. Bahwa ia pernah tidak menghabiskan makanannya itu benar. Tapi ia membungkusnya. Sesuatu yang bagi sebagian orang agak mengundang cibiran. Hari itu aku mendengarnya,

“Mas, sisanya dibungkus aja, tolong.”

Itu kali kesekian aku menangkap mantra senada.

Hari itu aku bertanya, agak polos ataulah bodoh entah, “sayang ya?”

Dandelion tersenyum ke lain arah. Menghela sekeping nafas lalu menjawab, “lebih karena mubadzir sih.”

“nantinya kamu makan lagi?”

“he-em… setidaknya aku akan berusaha.”

Dan aku, tinggal mengangguk-angguk.

Rafflesia, 23 Januari 2013

04.25 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s