Catatan Seorang Pendaki

Standard

Aku khawatir lagi-lagi aku akan mengambil jalan yang orang bilang, “jangan!”

(Aku, 19 mei 2013)

Aku belum pernah sungguhan mendaki fisik gunung. Ini hanya penggalan pikiranku tentang mendaki dalam bentuk yang lain. Ada banyak gunung dan laut dan gurun dan taman dalam hidup. Kali ini tentang gunung. Bukan soal “gunung apa”-nya, tapi tentang satu dari dua metode umum dalam pendakiannya. Percaya atau tidak, metode ini diinspirasi penuh oleh pendakian gunung dalam makna denotatifnya.

Jalan Memutar.

Gunung ibarat lambang cita-cita. Mengejar mimpi itu memang mirip aktivitas mendaki. Ada pendakian yang relatif vertikal. Lurus. Ada pendakian yang mesti memutar. Memutar itu perjalanannya lebih jauh. Tapi itulah cara untuk sampai dengan selamat ke puncak cita-cita kita. Beruntunglah orang yang pendakiannya lurus. Beruntung pula orang yang mesti memutar. Semua bisa beruntung dan semua tetap punya peluang tergelincir.

Ini tentang mengupayakan yang terbaik. Pelajaran tidak didapat hanya dari bangku sekolah. Pelajaran ada di tiap simpang jalan, di trotoar, di danau penuh sampah, di sungai mati, di jalan berlubang. Pelajaran ada di balik dasi, di balik mangkuk kusam peminta-minta, di mata anak pemulung, di kaki langit, di balik daun-daun. Pelajaran membungkus kita dalam lapisan yang kita sebut Hidup. Tinggal kita, mau mensyukurinya atau tidak.

Orang Bilang, “Jangan!”.

Dalam beberapa kesempatan, jalanku memutar. Pernah tergelincir hingga berakibat fatal. Tapi bangun lagi, alhamdulillah. “Pukulan yang tidak menghantarmu mati hanya akan membuatmu semakin kuat.”

Sudah jadi satu paket. Kamu tidak akan meresapi nikmatnya sehat kalau kamu tidak pernah sakit. Kamu tidak akan menghargai arti satu tapak dalam pendakian kalau kamu tidak kelelahan dan tidak didera rasa ingin pulang. Sudah jadi satu paket. Sudah jadi satu paket.

Dalam beberapa kesempatan aku mengambil jalan memutar. Aku berkeras ketika pun mereka bilang, “jangan! Di depan penuh bahaya.” atau “terlalu besar risikonya.” “kamu mau binasa?!” aku tidak tau. Tidak semuanya aku jawab. Sebagian kujawab sekenanya saja. Tapi tidak tau dan kadang sungguh-sungguh tidak tau sampai semuanya selesai aku lalui. Entah kenapa aku demikian mau. Entah bagaimana jalanku untuk memilih jalan terjal itu dimudahkan sedemikian rupa. Ingat! “jalan untuk memilih jalan itu, tidak sama dengan, jalan itu. Artinya aku dimudahkan dengan rasa yakin untuk memilih gunung terjal yang orang lain larang. Tapi pendakiannya, percayalah, sedemikian terjalnya memang.” Mungkin aku menghabiskan waktu panjang. Atau perbekalan yang tidak sedikit. Tapi selesai. Dan aku belajar banyak dari pendakian model ini.

Hari ini, lagi. Hatiku untuk kesekian kali menginginkan pendakian terjal lagi. Aku tidak tau. Ini masih dilema dalam hatiku. Risiko akan lebih besar jelas. Sampai puncak pun tidak langsung dapat harta, jadi artis, atau punya istana. Di atas gunung cuma ada batu. Tapi dari atas gunung, kita bisa melihat apa yang tak mampu mata ini jangkau jikalau kemarin kita memilih hanya berdiri memandangi pohon bonsai di halaman kita yang hijau.

Tapi ya begitu,,, akan ada banyak lelah, banyak sedih, banyak luka di jalan kita nanti. Risiko tergelincir, patah tulang, bahkan meninggal tanpa ditemukan jasadnya. Tapi yasudahlah… Manusia tidak akan sampai kecuali pada apa yang memang Tuhan takdirkan atasnya.

Tugas kita hanya melakukan yang terbaik. Dengan niat paling tulus. Dengan kejujuran paling mutakhir. Berangkat dengan nama Tuhan dalam hati kita. Soal hasil, itu hak Tuhan untuk menentukan. Bukan kita.

Aku cuma perempuan biasa. Tidak tau kenapa hobi sekali mendaki dengan alur yang kadang-kadang tidak ditempuh kebanyakan pendaki. Tidak tau kenapa hobi sekali melibatkan diri dalam risiko. Dalam petualangan yang menjanjikan luka. Aku pikir aku sudah ingin pensiun. Menyarungkan belati yang sedari dulu menemaniku membabat ranting berduri di hutan-hutan. Aku pikir… Ternyata tidak juga. Belatiku masih tajam. Masih haus petualangan. Pikiranku bilang,
“Ayolah Nona, tidakkah lebih baik kita memilih jalan yang ramah pada kita?” tapi hatiku bilang, “kalau kamu yakin, ayo kita jalan.”

Jika kamu pikir aku mungkin mengikuti nafsu, iya : mungkin. Tapi kawan, bisikan nafsu itu beda dengan kata hati nurani. Kalau kamu biasa jujur pada dirimu, nuranimu akan jadi petunjukmu. Meski dalam kasusku, pilihan hatiku membuat jantung berdegup lebih kencang. Melecut kaki untuk berjalan lebih jauh. Dan membuat mataku lebih sulit tidur. Tapi mau bagaimana, hati adalah panglima.

Selama kita berusaha sebaik mungkin memurnikan hati, tidak ada alasan untuk tidak mendengarkan apa yang dia ajukan. Kita selalu punya pikiran. Penyeimbang. Rasio yang terus memperbandingkan setiap alternatif jalan. Tapi adakalanya, nurani kita begitu yakin, dan pikiran tidak mampu menemukan jawaban, kenapa bisa kita sedemikian yakin. Lalu berjalanlah kita bersama pilihan hati kita itu.

Untuk beberapa kasus, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu ternyata ada, di ujung jalan. Ketika matahari sudah jelang terbenam. Ketika kaki lelah kita mengatar kita pada ujung pendakian. Di titik itu, bunga edelweis menyambut kita dengan jawaban, “jika kau tanya mengapa waktu itu engkau mesti mendaki, semua yang kau alami sepanjang usahamu menuju kemari adalah alasan yang lebih dari cukup mengajarimu, arti penting pendakian ini. Kau dengan usahamu. Kau dengan niatmu. Kau dengan cita-citamu. Kau dengan komitmenmu. Kau dengan kesungguhanmu. Kau yang tak menyerah. Sudah mengerti kan? Di sini, di puncak gunung terjal ini, kamu telah menjelma menjadi kamu yang baru.”

Depok,  19 Mei 2013

21.05 WIB

Ke mana pun kita melangkah, entah ke gunung entah ke laut, sejatinya kita tidak menemukan, selain kesejatian diri kita sendiri.

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s