Di Padangan…

Standard

Tulisan ini dibuat untuk menghargai sebuah pertanyaan dari ayah seorang teman, tentang kesan apa yang mampir di diriku selepas main ke Padangan dua hari di akhir dan tepat awal tahun lalu.

Padangan itu kota yang sederhana. Cukup panas, tapi kemarin tidak terlalu panas. Banyak rumah bersembunyi di balik rumah lainnya dalam bilangan gang yang tidak melulu lurus alurnya. Tentu yang kumaksud bukan Padangan seutuhnya, hanya sepersil daerah Padangan yang aku kunjungi waktu itu. Dan… Beberapa jengkal tanah Bojonegoro lainnya.

Aku memikirkan apa kiranya yang paling mengesankan, memberikan aku pelajaran penting yang mungkin di kala-kala lain aku lalaikan. Mungkin keramahan.

Di Padangan, aku bertemu orang-orang ramah yang tak banyak bicara. Tidak sebanyak orang lain yang kutemui sebelumnya. Mereka ramah, bukan tidak ramah. Mereka hanya tidak menunjukkan keramahannya lewat umbaran kata-kata manis yang acapkali penuh dengan intrik.

Adalah orang tua temanku dan juga temannya, Nurin, salah tiga orang ramah yang kujumpai di sana. Mereka baik dan ramah. Tapi cukup, melantunkannya dalam tindak-tanduk yang cukup. Tidak banyak bicara, tidak banyak gerakan. Tapi ada. Dan kita tau sama-sama : itu ada.

Tersenyum pun cukup-cukup saja. Mungkin karena aku orang baru dari kultur yang belum sempurna diintroduksi jadi rasa cukup dinilai sebagai yang relevan untuk saat itu. Entahlah, tebakan selalu bercelah salah.

Di sana, di rumah itu, di Padangan itu. Tanpa mereka sadari mereka mengajariku keramahan tak sarat kata. Tuan rumah yang baik, baik orang tua temanku itu maupun NN, temannya. Dengan sederhana mereka membiarkanku mencicipi aroma paling halus dari penerimaan mereka terhadapku di sana. Abtrak ya… Karena memang letak interpretasi itu di awang-awang, bukan di ceritera nenek atau kakekmu yang pejuang. Yang literal itu cerita, lain halnya dengan pemahaman dan makna.

Aku suka. Keramahtamahan yang sederhana. Tidak berisik. Dan tetap terasa.
Sudah.

Itu bagian kesan paling menarik hingga saat ini. =,)
Kali ini versi bebasnya. Versi cerita.

Aku mau bilang, di Padangan aku akhirnya mengalami prosesi beli tahu di tukang goreng tahu. Bukan di pasar. =,) pertama kalinya beli tahu, kami jalan kaki malam-malam. Lampu-lampu tidak sebanyak di kota besar tentu. Dan bising deru kendaraan tidak pula terdengar. Dan aku merapatkan diri, melingkarkan tangan di lengan temanku lantaran mendengar bunyi binatang asing yang agak membuatku bergidik.

Jalannya tidak jauh. Hanya saja itu tempat baru, malam hari, ditingkahi bunyi binatang asing, dan aku belum beradaptasi. Jadinya menarik buatku untuk membicarakannya. Lucu.
Tidak penting.
Lalu sampailah kami ke tukang goreng tahu. Bukan tukang tahu goreng yang di pasar-pasar. Tapi tukang goreng tahu dengan bakul-bakul besar penuh tahu dan wajan-wajan panas di atas tungku berbahan bakar kayu. Wajan ekstra besar dengan puluhan butir tahu diaduk berenang bersama kiloan minyak goreng.
Ruangan yang panas dan berasap. Dan,,, tahu. Di mana-mana. Untuk pertama kalinya.

Ternyata tukang tahu itu macam-macam. Ada tukang bikin tahu. Ada tukang goreng tahu. Dan ada tukang tahu yang di pasar-pasar itu. Belum lagi pengecer yang menimpalkan tahu di gerobak sayur setiap paginya. Yang kami kunjungi itu tukang goreng tahu. =,P TAHU!*

Di Padangan sempat ada adegan boncengan bertiga tanpa helm. Itu boncengan bertigaku setelah sekian lama. Dan uniknya (bagiku), tak satupun dari kami anak kecil. Tiga perempuan dewasa tumpah rumah di satu jok motor yang sama. luar biasa.
Kami melintasi hutan-hutan padi. Baru ditanam, ad yang sudah rapi. Di jalan, Nurin cerita banyak soal bupati mereka yang punya usaha paving dan menjadikan pavingisasi jalan-jalan desa sebagai program kerjanya.
Kami berhenti di sebuah danau. Mmm… Sepertinya danau. =,) memilih duduk di atas semacam pondokan, aku tidak ingat apa sebutannya. Dari kayu, di atas air di bagian pinggir danau. Melihatnya aku teringat pondokan petani di tengah sawah. Lalu makan pecel Padangan. Dua hari itu mencoba pecel di dua tempat berbeda : Solo dan Padangan.
Lalu aku kenalan singkat dengan kecambah besar. Apaa ya namanya. Dibiakkan memang untuk jadi kecambah dan dipanen sebagai kecambah. Aku lupa. *kalo kamu baca ini tolong komen dan kasih nama kecambah kemarin itu apa ya… @nilarahma

Meneruskan perjalanan, berbonceng bertiga. Kami bertemu ColTaji. Itu sebuah kendaraan bak terbuka yang disulap sedemikian rupa jadi angkot yang tetap aman meski hujan. Aku pernah melihat semisalnya di kota kelahiran ibuku. Dinamakan ColTaji karena trayeknya menuju dan dari daerah Taji. Nurin dan Nila bilang, dulu saat sekolah mereka sering naik yang model ini.

Lalu pulang. Mengantar Nurin, dalam letih lantaran lebih dari sejam menumpang bonceng motor dengan gaya orang-orang terjepit. Lalu dan lalu…
Siangnya berdua nila, naik motor ke Cepu beli Egg Roll dan kaus kaki. Lalu ke Bojonegoro, main ke Kahyangan Api. Tidak banyak yang unik di sana. Akuu lebih tertarik mengingat sensasi perjalanannya. Akuu.. Penikmat perjalanan. =)
Di jalan pulang Kahyangan Api – Padangan, hujan deras turun. Lanjut. Sudah ditelepon orang tuanya Nila, ditanya main kemana. Dibilang janga hujan-hujanan kita malah terlibat hujan deras sungguhan. Adalah adegan tangan keriput. Oleh-oleh menahani kendali motor sembari dilibas hujan. Melaju jauh lebih kencang dibanding ketika datang.

Esoknya mampir ke sawah. Hanya duduk di tepi. Mengamati lalu lintas kehidupan di sawah. Hmm… Banyak ulat. Banyaak sekali. Aku bergidik.
Lalu beli koran. Titipan oleh-oleh seorang teman. Beli Ledre dan rambutan. Aku suka di kota ini tempat beli oleh-olehnya dekat dari tempatku menginap.

Oiya. Aku girang waktu main Padangan-Cepu-Padangan. Dua kabupaten beda provinsi yang bersebelahan : Blora dan Bojonegoro. Dan untuk pertama kalinya aku jalan tanpa orang tuaku, sampai Jawa Tengah sampai Jawa Timur, sampai jauh. Dan bebas melintas Jatim-Jateng cukup belasan menit. Dekat sekali Cepu itu dengan Padangan. Sebelahan. Sayang itu jalanan. Sulit untuk menghentikan kendaraan dan mengambil potret tugu selamat datang-selamat jalan.

Hari-hari yang menyenangkan. Dan penuh pengalaman. Pengetahuan bisa dibaca. Makna bisa dirangkai kira. Tapi pengalaman hanya ada jika kita berjalan, melihat dengan aktif, mendengarkan, menemui, terlibat langsung, dan itu : mengalami.

Tentang Padangan,
22 Januari 2013

10.51 WIB

Advertisements

One response »

  1. Oo ya utk kecambah besar namanya ALE, satu suku kata aja, kalo diulang mjd ALE-ALE merk sebuah minuman ringan.
    Aslinya mana toh, kog ga’ ngerti kecambah besar. Wellcome in padangan city, kota kecil kami yg akan di sulap menjadi kota perbatasan oleh bapak bupati bojonegoro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s