…Karena Selain Itu Kau Takkan Sanggup

Standard

Seorang tua tergugu meratapi nasib. Ia memang tak utuh semangat menjalani hidupnya sebagai hamba. Tapi setidaknya dia berusaha.  Makin hari ia makin renta. Melenguh dan menghamburkan marah pada batu-batu. Memukul dengan bisu. Ia ibarat pohon musim dingin, yang tinggal batang. Tanpa daun. Tanpa kupu-kupu.

 

Orang tua tergugu meratapi nasib. Berpaling resah pada kaca-kaca yang diembuni luruhan hujan. Menatap sendu bayangannya di kaca. Ooh,,, ia begitu keriput. Bagaimanalah.

 

Orang tua tergugu meratapi nasib. Bertanya-tanya pada guguran halus, sisa badai hujan baru saja. Kenapa nasibnya teramat buruk. Kenapa Tuhan marah padanya dan bukan pada mereka yang lebih nakal darinya. Terduduk. Berdiri, berjalan memutar-mutar. Komat-kamit mengganggu angin dengan pertanyaan yang jelas takkan dijawab. Bukan. Ia hanya tak mengerti apa yang angin ucapkan padanya.

 

Kicau burung tak pernah menyisihkan lamunnya. Ia itu terlalu larut dalam lamun. Dalam kenangan, yang sampai mati takkan pernah pergi, namun juga tak kembali. Ia imaji. Orang tua, kelana beruban yang lelah menghela napas satu-satu. Menghitung liter air mata tak lagi dalam juta. Tak berbilang. Karena tak ada jua yang repot menghitungnya.

 

Pagi-pagi kemudian, hutan masih basah, dan langit masih merah-merah. Berjalanlah ia menyisihkan dahan menjuntai di depan halaman. Manalah lagi sempat dirinya mematut taman. Sudahlah renta, dan lama ia ditinggal orang-orang. Berpacu tongkat dan derik langkah yang setengah seret. Pak tua, meratapi nasib untuk kesekian kali dalam hidupnya yang mungkin tinggal sekian hari. “kenapa harus aku? Kenapa bukan para penjahat itu.” pertanyaan sama yang dibahasakannya dalam ribuan tindak laku. Setiap hari, setiap kali berjalan. Begitu.

 

Orang tua tergopoh-gopoh, menghirup udara segar-segar basah di tamannya yang dulu terasa amat luas. Menyempit lantaran tua pula tak tergubris. Ia menutup matanya, menanti matahari, tetap dengan tanya yang sama. “kenapa aku? Kenapa terjadi dalam hidupku? Tidakkah di bumi ada mereka yang lebih nakal dariku?” ah,,, tetua memang tak kalah kecil dengan anak-anak. Begitu, bukan?

 

Orang tua menghirup dalam-dalam. Lagu kesedihan, perih, sepi, kehilangan, dan tertinggalkan. Orang tua sedih.  Beginilah hidupnya. Ahhh,,, lagi-lagi  “kenapa mesti dirinya?”, tanyanya.

 

Pecahlah lamunnya oleh kecup selembar daun yang sisih dari dahannya.  Tetap hening. Tetap tak ada jawaban. Pak tua meninggalkan halaman. Menjemput halaman kuning, kitab-kitab yang dulu selalu ia banggakan. Rak-rak itu penuh dengan piala. Tapi tetap sama, hening. Dan ia, nyata, tanpa siapa-siapa.

 

Menarik napas dan menghembuskan kesalnya dengan singkat. Pak tua meraih satu, meletakkan satu. Meraih lagi satu, membolak-balik, memandang enggan, meninggalkannya. Biarlah, pikirnya. Biar buku itu keluar dari kumparannya, sesekali. Toh, dirinya juga tersingkir, sendiri.  Temanilah, gumamnya.

 

Hari-hari lewat. Terkantuk-kantuk, tersuruk-suruk. Matahari merambat dan jatuh. Bulan membulat, menyabit, lalu gelap. Uban-uban itu, hampir sempurna melelehkan segala pekat yang pernah lekat. Dan ia masih dalam lamunnya yang penuh dengan tanya. Masih sibuk memarahi angin, “kenapa aku? Kenapa begini?” yang tunduk tanpa perlu memberengut.

 

Suatu sore di senjakala usia, tiba-tiba saja, memandang langit, ia teringat. Tergugulah, terduduklah, terdiam, dan mengalirlah bulir kesekian itu.

Tak ada yang menyentuhnya. Tak ada yang sedang dibacanya. Tak ada yang sedang dilamunkannya. Ia hanya sedang beringsut menutup jendela. Dan jawaban datang begitu saja.

 

Suatu kali, tuan bijak mengunjungi sahabat yang terbaring luka. Didengarnyalah sahabat berdoa : agar Tuhan menghukumnya di sini, di dunia saja. Mata bijaknya menyapu udara. Tuan bijak tersenyum, menghadiahkan makna bagi jiwa yang sengsara. “Jika kau ingin berdoa,” tanggapnya. “harapkanlah maaf Tuhanmu. Karena yang selain itu, kau takkan mampu.”

 

Bahasa angin. Bahasa bulan. Bahasa langit. Bahasanya bahasa. Ia hanya tiba-tiba memahaminya. Turun dari langit menyentuh langit-langit hatinya. Ingatlah pak tua pada baris kalimatnya, dulu sekali, ketika ia masih muda. Nun di hari sebelum hari ini, ia pernah bergumam pada pemilik bala tentara langit, “hukum aku di sini saja. Jangan di sana.”

Orang tua tergugu meratapi jawaban itu. Benar. Dahulu, dia memintanya, tanpa tau tanpa berpikir, dia takkan mampu menanggungnya.

 

Lt. 2 Rafflesia, kamar 20

29 November 2012

21.03 WIB

Fatimah Anadia

 

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s