When Beauty Hides Behind a Dumb Face

Standard

Ilmu sosial berkembang bukan karena teorinya yang tak terbantahkan, tetapi justru karena banyaknya reader yang lahir dari penulisan karya-karya tak sempurna. Pemikir-pemikir itu memutuskan menuliskan pemikirannya. Mungkin mereka tak lagi hidup ketika generasi berikutnya membaca karya-karya itu. Tapi aku pikir, mereka akan senang jika para pembacanya secara aktif menyempurnakan pokok gagasan mereka. Mengembangkannya, menilik secara objektif pranata yang senjang antara konsep mereka dengan realita.

 

Dan di sinilah kita hari ini. Menghirup udara penuh opsi lantaran polusi ide dan hingar bingar diskusi pemikir-pemikir masa lampau. Tak perlu saling caci. Buktikan saja dengan logis, apa yang menurut kita pantas dibuktikan kembali, diredefinisi, atau dibuktikan terbalik. Semua akademisi menikmati sensasi ini. Sensasi untuk jujur pada dirinya sendiri. Mana yang benar mana yang salah. Dan kita semua pada dasarnya berdiri di batas salah dan benar yang abstrak dan bisa menjadi relatif terhadap konteks -dan bahkan terhadap konsep.

 

Udara penuh opsi.

Dinamika berpikir, representasi intelektual aktif yang enggan menelan mentah-mentah apa kata orang-orang terdahulu tanpa melalui proses pikir.

Doktrin luruh. Tinggallah kita dan ambang rasionalisasi kita.

Kitalah berikutnya, yang menjadi pembaca karya-karya klasik dan karya-karya setelahnya.

Kitalah berikutnya yang dititipi tanggung jawab untuk secara etis mewariskan udara penuh opsi yang kita hirup saat ini.

Akademisi itu objektif.

Tajamkan rasio anda dan haluskan emosi anda.

Bicara dan hasilkanlah karya.

Nanti akan sampai saatnya karya itu dibaca dan mendapati dirinya tak pernah sempurna.

Tak ada ilmu manusia yang sempurna membuktikan kemutlakannya.

 

Lt. 3 Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia

19 Oktober 2012

10.53 WIB

Anggun Nadia

 

Pelajaran hari ini :

*Data lapangan itu tidak bicara apa-apa.

Bunyi yang kita dengar, tercipta dari resonansi yang terjadi di alam pikir kita sendiri.

Kita yang membenturkannya, hingga data-data itu mampu menghasilkan bunyi.

Titik bentur antara pemikiran kita dengan temuan lapangan kita, itulah yang kita pahami sebagaiĀ  bunyi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s