Aku, Si Butut, dan Kring-kring Buluk

Standard

Dalam hidup kita mengagumi banyak hal. Ada orang, ada momen, ada benda, ada tempat, ada banyak hal yang mengundang kita berdecak.

Kring-kring butut warna abu-abu tua yang sekarang ada bersamaku adalah saksi bisu rekaman hari-hari mengagumkan yang dilalui seorang temanku. Anggap saja namanya Butut. Sebuluk namanya, dia juga suka warna yang buluk-buluk butut. Hitam buluk, biru tua buluk, pokoknya buluk. Kelihatannya butut. Tapi ibarat vespa, kelihatannya butut tapi bandel dan memorabel buat sebagian orang. Butut, kamu mirip vespa, Tut!

Butut, anggap nama lengkapnya Butut Erlangga. Perangainya manis, bukan manis ala band K-Pop, tapi manis rasa sawo matang. Si Butut ini baik, baiiik sekali. Kadang tersulut, kadang emosian, kadang geregetan, tapi penanda sejati kalau termin matang memanglah sebuah proses ketimbang kata sifat yang bisa dilekatkan secara mutlak. Dalam satu hal kita stabil, tapi dalam lain hal kita labil.

Suatu kali Butut bertandang ke kosan. Mengobrol ini itu sampai malam menjelang. Butut cerita banyak soal hidupnya, soal segenggam kulit durian yang baru ditelannya beberapa bulan belakang. Kulit durian yang aku terlambat paham.

Gantian kemudian aku cerita sejempol kulit salak yang  terpaksa aku telan beberapa hari belakang. Soal sebuah benda bernama kring-kring. Kring-kring hilang. Lalu aku dipaksa terima pinjaman kring-kring dari seseorang. Aku bilang pada Butut kalau orang itu meminjamiku lengkap dengan nasehat ini itu. Butut langsung bilang, “waktu kamu bilang itu tadi saya jadi pingin bilang : kamu pake kring-kring saya yang lama aja mendingan.” redaksional sedikit editan.

Jadilah sekarang, kring-kring Butut saya yang pegang.

Abu-abu hitam, itu warna kring-kring Butut yang sekarang ada di meja saya. Itu kring-kring lama yang akhirnya ditinggal Butut selepas kacanya pecah beberapa waktu lalu. Iya. Pecah. Retak lebih tepatnya, ditambah satu garis melintang di dalam layarnya. Dan keypad yang khas perjuangan tak kenal lelah seorang Butut yang sibuk, sederhana, dan bermental luar biasa. Lengkap sudah kebutut-bulukan kring-kring ini.

Ini kring-kring model lama. Keluaran terserahlah kapan saja, yang jelas fiturnya pun serba standar. Saya pernah punya kring-kring mirip ini, kring-kring mama saya sebetulnya, tapi lantaran kring-kring saya hilang di bis akhirnya kring-kring mama saya dibawa juga. Waktu itu kring-kring kami sama, dan bukan hanya kring-kring, buku harian kami tanpa sengaja pun, sama.

Aku suka kring-kring ini. Sederhana. Tidak ditoleh dan tidak diinginkan banyak orang. Tapi kuat. Tapi cukup. Bersahaja dan menyala dalam gelap. Serius! Ada senternya soalnya. Hahaha. Dan asal tau saja, senter ini membuat saya nyaman membaca sekalipun listrik sedang tak nyala. Entah kenapa kring-kring yang ini rasanya jauh lebih berharga. Mungkin karena ini Butut yang punya. Karena saya menyukai Butut dengan segala kebutut-bulukannya.

Mereka, Butut dan kring-kring buluknya, sama-sama sederhana tapi luar biasa. Bersama mereka kita merasa aman. Tak perlu banyak-banyak ditimang, kemana pun, hujan, panas, yang seperti mereka ini akan setia bersama kita.

Buat saya, Butut itu luar biasa. Awalnya mungkin biasa, tidak menarik, dan say hi-good bye saja. Tapi waktu membawa kita melihat lebih dekat dan menyaksikan betapa yang Tuhan hadirkan dalam dirinya adalah pendaran daya hidup yang mengundang keterpanaan.

Bersama waktu saya akhirnya tau. Jika ada kisah orang-orang yang tak mudah untuk sekadar kuliah di tempat ini, maka Butut adalah salah satunya. Dia bukan orang pertama dengan kisah demikian yang saya kenal. Tapi kisahnya bahkan baru saya pahami di tahun keempat kita kenalan. Tebak kenapa? Mungkin karena kita jarang barengan. Mungkin karena lebih banyak aku yang cerita ini-itu dan dia lebih banyak mendengarkan. Tapi, mungkin juga karena Butut memang tak banyak mengeluh. Bahkan tak menghitung apa yang dihadapinya setiap hari sebagai kesulitan.  Mungkin karena rasa syukurnya mematikan segala indera tentang rasa sakit akibat keterbatasan. Ketika aku semakin paham, buatku Butut semakin mengesankan.

Butut mengajar, menginspirasi banyak orang, membagi banyak ilmu dan pengalaman. Butut itu mengesankan. Justru karena aku tenggelam dalam kebututannya aku jadi tau, betapa kesederhanaan dan keterbatasan adalah kabut tebal yang menutupi tiara yang demikian mahal. Tirai. Yang menjaganya dari pandangan orang-orang nakal. Yang menjeda dan menjaraki agar hanya yang benar-benar tulus yang bisa sampai.

Aku suka Butut. Karena dia sederhana. Menikmati senyumnya murah dan lumrah, tapi untuk tau bagaimana senyuman model itu menghiasi dirinya itu yang mahal. Semahal setiap huruf yang dituliskannya di lembar hidup yang penuh sapuan debu. Tertutupi oleh kabut dan debu. Tapi kau di situ, menunggu untuk ditemukan pejalan yang punya nyali menghadapi gurun.

Butut itu renyah, rendah hati meski setiap harinya capaiannya bertambah. Butut itu terjangkau, dia seperti lahir untuk memberi kita jabaran konseptual dalam bentuk yang ringan dan mudah dipahami. Rangkaian konsep tentang kebertahanan, daya hidup, semangat, keberanian, pembelajaran, kepercayaan diri, dan banyak lainnya, lengkap disajikan dalam slide hidup seorang Butut. Dan kalau kamu beruntung, kamu tak kan dapat tiket nonton siaran live hidup yang mengesankan itu. Dia tak suka siaran. Dia seperti kakek pejuang dikelilingi banyak cucu dengan segudang pengalaman untuk diceritakan. Bersiaplah mengajukan pertanyaan. Bersiaplah untuk mendengarkan. Dan bersiaplah untuk tenggelam dalam keterpanaan.

Dan tentang kring-kring buluk. Palingan juga dibeli dengan sen-sen tabungan. Bertahun-tahun menyaksikan derap juang sang tuan yang hidup dengan wajah ceria semuram apapun dunia di luar sana. Pasti tak selalu bahagia. Tapi selalu positif dan selalu menemukan cara untuk bangkit dan jadi lebih baik.

Kring-kring buluk yang luar biasa. Remuk-remuk dan kehilangan sebagian keterangan huruf di atas keypadnya. Butut memang cepat sekali mengetik di tuts.

Kring-kring buluk, kamu pasti lelah menemani Butut yang nggak ada matinya itu. Tapi aku bertaruh, kamu pasti merindukan saat-saat bersamanya. Menemaninya dalam perjalanan yang tak habis-habis. Membuatmu boleh jadi kelelahan, tapi tak kan pernah habis daya. Karena dia menghidupimu dengan hidupnya. Dengan daya hidup yang tak mati-mati itu. Maaf ya Buluk, sementara ini bertahanlah bersamaku dulu.

Rafflesia lt.2, kamar 20

10 Oktober 2012

14.17 WIB

Orang bodoh yang terlambat menyadari betapa kamu itu luar biasa, kawan...

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s