“…percaya deh sama air.”

Standard

Suatu kali di kosanku, nona sepatu merah pernah cerita. Suatu kali di kolam renang, ketika dirinya sedang belajar renang, seorang wanita menghampirinya.

“mba, lagi belajar renang ya?” si wanita bertanya.
“iya. Mba.” jawab nona sepatu merah.
“mba, mba jangan takut tenggelam. Tenggelam itu takdir. Mati itu takdir. Mba, percaya deh sama air.”

Itu flash version percakapan mereka ya. Sepatu merah bilang padaku, seumur-umur dia belajar renang orang-orang sibuk meneriakinya, kakinya,kakinya, atau tangannya, tangannya. Dan baru sekali itu ada orang tak dikenal yang merapat padanya lalu berkata, percaya deh sama air.

 

Beberapa waktu kemudian, nona sepeda mungil berbincang denganku via chatting. Panjanglah. Tak perlu juga flash versionnya. Adalah perbincangan itu mengingatkan aku tentang tidur, dan kemudian tentang sepatu merah dan kisah airnya.

 

Ada satu skema dalam perbincangan kami, si nona sepeda mungil bertanya-tanya, pernahkan pikiranku melayang-layang entah kemana, tanpa fokus, dan bahkan tak tau inginnya memikirkan apa. Yang aku tau dan aku jawab pada si nona sepeda mungil ini, aku pernah. Entah serupa atau tidak. Yang jelas bukan sekali dua kepalaku tak bisa diajak kompromi. Ingin berpikir tapi seperti kehilangan sebagian kapasitas untuk memikirkan sesuatu. Hanya melihat-lihat tanpa jiwa, tanpa fokus.

 

Aku lupa di mana, ada juga entah nona yang mana pernah bilang, nggak bagus kalo tidur sambil nggak tenang (marah, kesel, nggak fokus, dkk.) nanti bangunnya juga jadi nggak enak. Entah. Sebagian mungkin benar. Tapi dalam cukup banyak kesempatan aku malah bersyukur aku bisa tidur.

 

Kau tau?

Kalau aku sedang marah, kesal, kecewa, atau sedih, atau apapun itu bentuk miripnya, aku sering tidur. Entah itu sengaja atau bahkan tertidur. Mungkin tidak selamanya, tapi seringkali dalam kasus-kasus yang aku alami tidur itu menolong.

 

Pernah baca sesuatu yang bunyinya kurang lebih begini : “….dan Allah menurunkan kantuk untuk membuatmu tenang…” maaf ya, itu redaksi aslinya jelas nggak gitu. Ada di Al Qur’an, tentang kisah peperangan di masa Rasul SAW. Hujan dan kantuk.

 

Aku tidak tau, benar begini atau tidak begini.

Aku hanya berpikir, mungkin karena aku percaya pada tidur, pada kantuk, maka sinerginya bisa menolong buatku. Seperti kisah nona sepatu merah. Percaya pada air. Mengaitkan keduanya di pikiran imajinerku. Mungkin formulanya lebih mudah bekerja jika kita memandang dengan konsep dan perspektif yang berbeda. Konsep yang dibangun di atas pemahaman yang sedikit lebih dalam ketimbang apa yang ada di muka. Dan perspektif yang diatur-geser sampai pas seperti fokus lensa.

 

 

Rumah Lampung, ruang tamu kecil yang dari kacanya bisa kulihat  satu pot besar tanaman Gelombang Cinta.

26 September 2012

10.51 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

2 responses »

    • iya. cenderung jadi lebih tenang. dan kadang butuh beberapa kali kesempatan tidurr-bangun-tidur, dst. baru pikiran negatifnya pelan-pelan cenderung lebih rasional. 😀

      tengkyu for sudi mampir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s