Jiwa Seorang Wayan

Standard

Adalah aku orang yang sering menulis kalimat-kalimat yang aku suka dari apa yang aku baca, aku dengar, aku lihat, atau aku alami. Aku menulis sebagiannya dalam catatan harian elektronik, ataupun di buku-buku. Sebagian lain malah aku selip di draft handphoneku.

Adalah tulisan ini terinspirasi dari beberapa kisah yang aku temui dalam hidupku. Sebagian aku alami, sebagian aku baca, dan sebagian aku amati.

Adalah dalam memori tersimpan kisah-kisah ini. Dan adalah kemudian, kudapati rekatannya -sesuatu untuk menjadikannya indah dan utuh di bawah sebuah tema- dalam sebuah novel Dee : Perahu Kertas.

Aku baca versi novelnya, dan hingga hari ini tidak demikian tertarik untuk menilik visualisasinya di bioskop. Berhubung aku penikmat tulisan yang mengajak pembacanya untuk merenung, berkontemplasi dengan pikiran dan jiwanya sendiri lewat kalimat-kalimat yang dihadirkan sang penulis, aku pribadi cenderung menikmati Perahu Kertas versi tulis ini.

Tulisan ini bukan resensi, juga bukan ringkasan cerita. Tulisan ini lebih mirip refleksi. Sesuatu yang mengilhamiku untuk berbagi selepas memaknainya. Ini bukan reka ulang kisah cinta tokoh utama Keenan dan Kugy. Tapi justru seseorang yang boleh jadi luput dari perhatian para pengagum jalan cerita. Cerita ini ingin bicara tentang seorang tokoh yang nampak tak demikian signifikan. Tapi buatku, latar pemaknaan yang hadir bersama munculnya tokoh inilah yang membuatku melihat signifikansi itu : Wayan namanya.

Paman Wayan, atau Poyan dalam aksen Balinya, adalah seniman asal Bali yang dahulu pernah menjalin cinta dengan ibu kandung Keenan, Lena. Ibu Keenan kemudian menikah dengan Adri, ayah kandung Keenan dan pindah ke Jakarta.  Wayan itu sosok yang teramat mencintai Lena.

Wayan adalah seorang pelukis dari keluarga besar seniman di Ubud. Wayan menekuni seni lukis sejak muda hingga terceritakanlah dirinya di novel itu. Setiap seniman punya semacam sumber inspirasi. “ Kalau pelukis-pelukis di sini biasanya punya satu sumber inspirasi. Sepanjang hayatnya melukis, mereka akan melukis berdasarkan sumber yang sama. Tapi justru dengan begitu, mereka bisa mencapai tingkat penjiwaan paling tinggi. ” (Dee, perahu kertas) Entahlah apa yang membentuknya, ataukah siapa, inspirasi berperan melahirkan jiwa bagi karya. Dan seperti Kugy dan dongeng Jenderal Piliknya bagi Keenan,  Lena-lah inspirasi itu bagi Wayan.

Dahulu ketika muda, karya-karya Wayan hampir seluruhnya tentang wanita. Bergambar wajah perempuan, yang tak lain adalah Lena, wanita yang dikasihinya. Bertahun setelah Lena pergi, Wayan mengganti objek lukisnya dengan upacara adat. Orang bilang lukisan upacara adatnya selalu luar biasa, padahal itu hanya pelariannya. Lenalah inspirasinya yang paling dalam, yang tak lagi dibaginya dengan penikmat karyanya.

Kalian pernah dengar istilah “move on”? Populernya istilah ini digunakan untuk menyebut rangkaian upaya seseorang untuk melupakan seseorang di masa lalunya.  Tapi taukah kamu? Kemampuan seseorang untuk “move on” berikut waktu yang dibutuhkan dan besarnya upaya menuju ke sana itu beda pada tiap-tiap orangnya. Dan mungkin, ini erat sekali hubungannya dengan intensitas perasaan dan kedalaman makna rasa itu bagi dia yang mengalaminya. Juga menyoal karakter dan tentu : pilihan hidupnya dengan rangkaian konsep serta konteks yang melatarbelakanginya.

Adalah Wayan, seorang introvert perasa, yang mencintai cukup satu wanita sepanjang hayatnya. Hidup sendirian lebih relevan baginya, ketimbang harus berbohong setiap saat. Kita toh bisa memberikan perhatian, benda-benda, bahkan sebuah karya pribadi kita bagi orang yang bersandingan dengan kita. Tapi adalah perasaan, hal paling jujur yang tak jarang kita pikir bisa kita tipu dengan itu, akankah juga sama dengan ketika kita memberikannya untuk orang yang sungguh-sungguh kita inginkan dalam hidup kita.

Ini soal jiwa yang mengaliri -semestinya- setiap karya.  Sepakat dengan Dee, seniman itu harus jatuh cinta, agar dengan demikian ia jadi belajar, menghadirkan jiwa bersama seperangkat makna yang diceritakannya lewat karya “bisu”nya. (karya itu idealnya berbicara. Namun bagi yang tak paham, karya itu seolah mati tanpa kata. Sebatas indah ya sudah. Atau sebatas bagus yang tak menyentuh sisi paling dalam dalam lokus jiwa manusia. Sebagian karena karyanya. Sebagian lain memang karena penikmatnya saja yang menumpang kereta makna yang beda dengan pembuatnya. Dan sebagian lain mungkin tak paham konteksnya.)

Sikap bisa berbeda.

Aku hanya mau bilang, di dunia ini ada saja orang yang memilih untuk memilih sebagaimana Wayan memilih. Memilih mencukupkan diri dengan satu kesempatan mencintai. Menerima bahwa jalan takdir tak selamanya searah dengan cita-cita diri. Mencukupkan dengan satu kesempatan itu. Bukan tak mau buka hati, mungkin lantaran memang tak sanggup buka. Lantaran sadar terlalu dalamnya cinta, dan demikian nihil menumbuhkan cinta dengan sensasi yang satu laras nada.

Teringat catatan lalu tentang Perawan Tua, adakah mungkin sebagian manusia memilih sendiri sampai akhir karena memiliki akar kisah yang mirip-mirip dengan Wayan di Perahu Kertas.

Jalan manusia berbeda. Dan sikap kita terhadapnya pun berbeda.

Tapi aku sungguh-sungguh menghargai perasaan sebagaimana yang Dee hadirkan lewat sosok Wayan. Memilih untuk jujur pada diri sendiri bahwa segalanya tak kan sama, jikasaja bukan dengan Lena.

Rumah Lampung, kamar masa kecil kita

24 September 2012

18.53 WIB

Anggun Nadia

Advertisements

5 responses »

  1. I lke this statement “Kemampuan seseorang untuk “move on” berikut waktu yang dibutuhkan dan besarnya upaya menuju ke sana itu beda pada tiap-tiap orangnya. Dan mungkin, ini erat sekali hubungannya dengan intensitas perasaan dan kedalaman makna rasa itu bagi dia yang mengalaminya. Juga menyoal karakter dan tentu : pilihan hidupnya dengan rangkaian konsep serta konteks yang melatarbelakanginya.”

      • hahaha, supposed to be yes..

        kerjaanku udh selesai kmaren sore, jd skrg tinggal minta TTD di ACC, alias leha2..hohoo..

        eh, si tokoh Wayan itu bisa dikatakan subhanallah ya.. klo dibandingkan denganku 7 tahun ga ada apa2nya ya,, :DD

      • bahagia chor? engineering consultant? teknik tuh kedengarannya. apa perlu dikasih tanda petik “teknik”? hehehe…
        selamat berjuang chor. huphuphup.wuzzz,,,

        udah baca? aku ada ebooknya tuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s