1 : 99

Standard

Sebut angka 99, ingat apa? Nama Tuhan, jumlah asma’ul husna.

Ingat apa lagi?

Nikmat Tuhan. Dari 100% nikmat Tuhan, yang diturunkan ke dunia dari zaman Nabi Adam as, hingga akhir zaman; yang dibagi rata seluruh jumlah jiwa dan perangkat hidupnya sepanjang masa semesta ada; jika ditotal hanyalah 1% dari kenikmatan yang Tuhan ciptakan. 1% yang kemudian akan diangkat kembali dan disatukan dengann 99 lainnya kelak, setelah semesta ini digulung dan diganti dengan kehidupan baru, hidup yang sebenarnya.

 

Angka yang menarik. Aku tidak sedang berkicau soal matematika, ini lebih dekat ke ekonomi kalau ingin dipandang seperti itu. 1 : 99 adalah juga ungkapan untuk mewakili balasan bagi orang-orang yang senang berbagi dengan senyum.

 

Dalam perspektif islam, senyum juga bisa jadi sarana ibadah. Termasuk berwajah cerah. Ketika orang bertemu dengan saudaranya, dia yang memasang wajah paling manislah yang akan beroleh 99 ganjaran dari 100 ganjaran yang Tuhan janjikan. Sementara saudaranya (yang kalah manisnya itu), beroleh 1 ganjaran.

Jadi nanti, kalau di jalan ketemu orang yang dikenal atau tidak tapi senyum dan cerah-cerah itu wajahnya, mungkin dia bukan sedang menggoda anda atau sok-sok kenal. Mungkin dia punya motif ekonomi : memenangkan 99 ketimbang bertahan cukup dengan 1.

Entah lewat apa dan hitungannya bagaimana, yang jelas aku pernah baca hadistnya. Entah di mana, dan redaksi aslinya bagaimana. =,) maaf ya, kalau Anda salah satu orang yang suka mampir ke sini, tahulah Anda belakangan ini saya menulis apa yang saya ingat. Lebih mirip refleksi ketimbang tulisan ilmiah yang penuh referensi berikut nomor halaman.

Mmm… Jadi ingat.

Semalam atau sekitar dua, atau tiga malam yang lalu, Deddy Corbuzier dalam Hitam Putih menutup acara dengan kisah tentang bersalaman. Tradisi jabat tangan. Menurutnya, tradisi jabat tangan pertama kali muncul di Amerika jaman lalu. Mereka bersalaman untuk membuktikan bahwa mereka tidak memegang senjata. Sebuah simbol siap untuk berlaku damai.

 

Mmm… Mari kita hormati referensinya.

Hanya ingin sedikit membolak-balik memori kita. Kalau tidak salah ingat, dalam islam juga ada kisah soal berjabat tangan.

Pernah dengar cuplikan hadist yang menyampaikan bahwa bersamaan dengan berjabatnya tangan dua saudara dalam islam, meluncur luruhlah dosa-dosa mereka.

Mengingat itu, tradisi jabat tangan juga ada dalam islam. Dan sangat mungkin bukan pertama kali lahir di kitaran 1400 masehi. Bisa jadi awalnya sudah dikenal di masa-masa sebelum itu.

Poinnya bukan pada kapan. Kapan memang penting. Hanya saja, ada baiknya niat yang lebih butuh untuk disentil. Mau apa. Kalau jabat tangan maksudnya untuk pegang-pegang yang bukan haknya, mmm… Mungkin ada baiknya dialihkan saja.

Sok pintar ya? Maaf ya. Anggap saja itu refleksi pribadi saya, yang juga sama pernah bikin salah di mana-mana. =,) Pelan-pelan meniti jalan. Dan tetap tak kan pernah tau akan berakhir di mana, dan bagaimana.

 

Rumah Lampung, kursi cokelat-meja cokelat.

26 September 2012

11.38 WIB

Aku.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s