Sahabat Paling Baik

Standard

Merencanakan untuk menulis tentang ini, dulu. Lalu lupa.

Semalam baru menyelesaikan novel Tere-Liye, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, lalu kembali ingat untuk membagi cerita tentang ini.

 

Adalah suatu kali, lupa kapan persisnya, separuh lebih 2010 kalau tidak salah, aku pernah membaca. Sebuah tulisan yang aku -seperti biasanya- lupa tertera di mana. Esensi tulisan itu singkat tapi penting. “sahabat sejati itu adalah orang yang bersamanya kamu bisa jadi diri kamu sendiri. Tanpa butuh segala protokoleriat blablabla itu.”

 

Sudah lama. Dan sejak pertama membacanya hingga saat ini dan semoga sampai nanti, aku sepakat. Sahabat sejati adalah orang yang dengannya kita nyaman untuk berlaku jujur, tentang diri kita. Siapa sebenarnya kita. Tanpa khawatir akan ditinggalkan hanya karena wajah kita tak semulus topeng yang saban hari dilihatnya.

 

Tanpa topeng.

Sahabat sejati itu mengingatkan bukan untuk menjustifikasi dirinya benar, tapi lantaran terlampau sayang pada kita sampai tak tega melihat jelaga sedikiit saja di wajah kita. Dia mengambil risiko kita tersinggung. Dengan besar hati meminta maaf. Dan karena sejatinya kita sahabat, sahabat sejati akan belajar untuk mengenali cara paling baik menaklukkan kemarahan sahabatnya. Mengambil kembali hati sahabatnya, meletakkannya dalam genggaman, meniup lukanya hingga kering, tersenyum sembali menggumam, ‘sekarang sudah pulih kan? Dan kita tetap teman kan?’ ringan. Mungkin itu karena hatinya yang terlampau besar diberikannya untuk kita. Maka maaf dan terima kasih tak pernah lagi membebani hatinya dalam nama gengsi.

 

Tetap terhormat, tetap santun, tetap saling menghargai dalam makna yang lebih dalam dari sekedar anggah-ungguh, basa-basi.

Tetap terhormat, tetap berlaku santun, dan tetap saling menghargai dalam esensi, bukan dalam ritus-ritus protokoleriat yang membentengi kita dengan kakunya jaga citra.

Karena sahabat sejati paham betul nilai sahabatnya.

 

Jika kemudian ada yang kebetulan memperhatikan, dan jadi ingin bertanya, “memang bagian mana novel itu yang mengingatkan kamu untuk menulis ini, nadia?”

Marilah sedikit aku ceritakan jawabannya,

 

Adalah Tere Liye mengisahkan di bab 18 buku itu, bab yang diberi judul Teman Sejati. Ringkasnya, Andi, sahabat Borno (tokoh utama) menipunya bahwa di dermaga kayu (untuk konteksnya silakan baca sendiri =,D) Andi melihat gadis pujaan hati Borno. Gadis peranakan Cina yang sudah berada di lain pulau, lama dirinduinya. Borno yang sedang selesma berikut gejala dan segala deritanya itu terlonjak dan bergegas mengemudikan sepit (dari kata speed, si Borno ini pengemudi sepit -perahu kayu kecil-, baca novelnya aja kalo mau versi panjangnya) menuju dermaga.

 

Bukan bertemu si gadis Cina, di dermaga Borno justru disambut bapaknya Andi beserta serombongan keluarga asal Malaysia. Dan usut punya usut, bapaknya Andi menyuruh Andi mencarter sepit Borno (sekaligus Borno-nya) untuk mengantar keluarga besan ini jalan-jalan di kitaran Pontianak itu. Borno terjebak. Dan tentu saja, sudah sampai sana, mau bagaimana.

 

Borno marah pada Andi. Dan Andi waktu itu belum tau, yang membuat Borno sakit hati sebetulnya bukan kebohongan Andi, bukan soal keluarga Malaysia, tapi lantaran gadis itu tak ada di dermaga. Borno -seperti biasanya- pergi menemui dan menceritakan banyak tentang ini pada Pak Tua, orang tua yang sudah dianggap layaknya ayah sendiri oleh Borno. Berikut ini petikan pesan Pak Tua,

 

“itulah kenapa kubilang kelakuan Andi yang menipu kau tadi pagi adalah tips hebat untuk orang-orang gundah gulana macam kau sekaligus membuktikan bahwa dia adalah teman terbaik kau. Camkan ini, Borno. Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal siapakah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Mei misalnya, kau baru kenal setahun kurang. Sedangkan Andi? Kau kenal dia sejak bayi, satu ayunan. Apa yang telah dilakukan Mei buat kau? Apa yang tidak dilakukan Andi? Apa Mei pernah menyelamatkan kau yang hampir tenggelam di Kapuas? ….
Kau lupa, Borno.kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kau abaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan. Ah, Andi hebat sekali mengerjai kau hari ini. Kau marah padanya? Buat apa? Dia justru membuktikan hanya teman terbaiklah yang nekat melakukan itu. Dia percaya kau tidak akan bisa benar-benar marah padanya….”
(Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah : 257-258)

 

 

Lt. 2 Rafflesia, kamar 20

18 September 2012

12.11 WIB

Anggun Nadia Fatimah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s