Temanku Yang Tidak Berbakat Bisnis

Standard

Hidup sungguh penuh dengan cerita. Dan satu lagi cerita yang aku dapati di perjalanan akhir-akhir ini.

Aku punya seorang teman lagi, anggaplah namanya Kabut Nan Hening. Mari kita panggil dia Hening. Hening adalah hening yang baru saja sadar dirinya mungkin tidak terlahir untuk bisnis (privat).

 

Bukan. Bukannya dia tidak berjiwa enterpreneur. Dia bahkan sempat mengemban amanah untuk fundraising di beberapa organisasi. Dan hasilnya insya Allah tidak mengecewakan. Dia bukan tidak semangat, kadang bahkan dia tersemangati oleh kerja-kerja dagangnya. Tapi itu, bukan untuk kepentingan pribadinya.

 

Hening adalah hening yang unik. Dia baik, meski sebagian orang yang belum mengenalnya sering kali salah mengartikan apa yang mereka lihat dari dirinya yang sesaat. Hening itu baik. Baiiiik sekali. Saking baiknya, dia bisa mendermakan banyak hal yang mungkin ia dermakan dari apa yang ada di kantungnya. Termasuk hasil usahanya.

 

Hening itu tidak suka bicara sulit soal uang. Hening tidak berbelit-belit untuk memutuskan memberi atau tidak memberi. Memang tidak semua peminta yang papas dengannya diberinya. Tapi percayalah, Hening mengusahakan sebagian uang pemberian orang tuanya, atau hasil jerih payahnya yang sesekali itu (paruh waktu, sukarelawan, event, semacam itulah) untuk pos-pos dibidik secara khusus. Hening menyimpan beberapa nomor rekening lembaga2 potensial untuk penyaluran kebutuhan sosial saudara-saudaranya. Aneka. Adaa saja. Mulai dari lembaga rintisan di pelosok, hingga lembaga amal besar di tanah air. Hening merasa lega jika dia bisa membagi apa yang Tuhan amanahkan padanya.

 

Aku suka Hening.

Hening. Sehening sebutannya, dia mengulurkan tangan (bahkan atm nya). Hening. Aku suka dirinya. =,)

Hening juga sosok orang yang suka menolong. Maka baginya, derma itu tak sesempit materil, tapi juga tenaga, pikiran, hati, jiwa, cinta, perhatian, kata-kata, semangat, bahkan senyum. Tuhan dan utusanNya bilang, semua tergantung pada apa yang hati maksudkan. Dan demikianlah Hening menempatkan unit-unit kecil perbuatan itu dalam lokus penting, bagaikan daun jarum dari pohon pinus berbagi. Hening.

 

Hening itu unik. Pernah orang mendorongnya untuk berbisnis. Adalah, bisnis rintisan. Tapi apa boleh dikata, Hening itu orang yang peka dengan hati yang serba tak tega. Manalah bisa dirinya mengambil untuk dari mereka yang diakunya sebagai teman, sebagai saudara. Hening lebih suka berbagi. Maka adaa saja yang ia dermakan dari apa yang awalnya diniatkan sebagai bisnis. Jadilah aset-aset bisnis duniawinya berubah dimensi jadi aset-aset bisnis ukhrawi. Hening meniagakan begitu banyak aspek dalam hidupnya dengan Tuhannya.

 

Kita tidak bicara soal ikhlas tidaknya seorang Hening. Itu bukan dimensi yang berhak kita campuri. Ini hanya pelajaran soal satu tipe lain manusia. Model manusia yang dalam bahasa Mario Teguh, amat lembut hatinya, gampang kasihan, tak kuasa melihat orang lain menderita. Inilah Hening. Orang ajaib yang Tuhan pertemukan dengan aku yang bodoh dalam perjalanan hidup kami yang entah bagaimana bisa bersisian.

 

Pernah suatu kali aku menyaksikannya. Kala itu Hening sedang ada semacam kerja sampingan untuk kisaran dua bulanan. Hening memang pernah bertutur, jika ia bekerja ia ingin dengan penghasilan itu dia menjadi mandiri. Agar dengan penghasilan itu dia bebas berderma kesana-kemari tanpa perlu laporan, tanpa perlu bilang-bilang. Hening saja. Sebagaimana kita menyebutnya. Dan ia melakukannya. Setidaknya dalam kesempatan mana aku menyaksikannya. Mungkin waktu itu Hening tak sadar aku menyimak. Biarlah. Dia memang suka sendirian, berjalan dengan caranya, tersenyum-senyum dengan dunia versinya. =,)

 

Yaahhh… Itulah hening. Waktu itu, pokoknya aku tau saja, pendapatannya dari kerja sampingan yang dua bulanan itu. Bulan pertama, bayarannya tak tuntas. Karena ia hanya muncul sekitar 15 harian. Adalah sekitar 700ribuan. Bisa tebak berapa yang tuntas meluncur dari gesekan ATMnya? Bulan itu, di jam yang tak terpaut panjang dengan saat ia memastikan bayaran masuk ke rekeningnya, dia transfer. Dalam bilangan yang dilebihkannya 300ribuan dari jumlah yang diterimanya dari kerja sampingan. Transfer. Ke salah satu rekening sosial yang disimpannya sejak beberapa waktu sebelum itu. Hening saja. Dia tak sadar ada yang  memperhatikannya.

 

Aku suka Hening dan keheningannya. Aku menikmati senyumnya yang ringan selepas ia membebaskan dirinya dari tuntutan sebentuk titipan Tuhan.

Melihatnya aku ikut merasa bebas. Pasti sensasi aslinya lebih hebat dan tak terjelaskan. Aku menikmatinya. Semuanya. Caranya yang tak selalu mantap dengan nominal yang akan diketik. Caranya mengabaikan pikiran nakalnya tentang ‘ingin beli ini – ingin beli itu’. Caranya melangkah menuju kotak ajaib yang bisa mengoper-oper uang kesana-kemari dalam beberapa kedip.

Satu hal yang sempat kucatat. Hening tak selalu lebih setiap kali ia memberi. Bahkan pernah juga merasa terlampau lebih dalam memberi, padahal di sudut hatinya ada yang meronta : si ‘ingin ini-ingin itu’ tadi. Tapi dia hanya butuh waktu untuk kembali mengingat bahwa dia hanya tak berbakat berbisnis dengan dunia. Tapi dia tidak peduli, dan berkali-kali tidak peduli. Dia hanya butuh kembali mengingat, sejatinya dia sedang meniti jalan menuju ‘dunia’ dalam dimensi yang lebih abadi. Dan biarlah. Dia mungkin memang tak perlu dengan semua bakat mendulang untung dari dunia. Karena nun di balik kabut dasar hatinya, dia menyimpan segumpal percaya, perniagaan terbaik adalah bukan dengan manusia. Tapi dengan yang menciptakannya.

 

Lt. 2 Rafflesia, kamar 20

20.31 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Yang menyukai Hening apa adanya  =,)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s