Sebuah Perspektif tentang Kehilangan

Standard

Terkisahlah ada satu babak dalam kenyataan hidup seorang teman, sebut saja namanya Tembang Kenangan.  Waktu itu dia baru saja kehilangan ponselnya. Selang beberapa hari cerita pun berkembang. Dan Tembang dengan baik hati membaginya pada saya.

 

Ini kali ketiga dia kehilangan ponsel. Dihitung-hitung totalnya adalah tiga kalian ponselnya rusak dan tiga kali pula hilang dalam kurun lima tahun terakhir. Senyum-senyum mendengarnya, ‘banyak juga’ walaupun dua kenalan saya yang lain sempat kehilangan lebih banyak dari yang pernah Tembang alami.

 

Tembang meneruskan kisahnya.

Hari pertama kehilangan, rasanya biasa saja. Hari kedua juga biasa. Malahan menurutnya, dalam kesempatan itu dia justru menikmati saat-saat tanpa handphone. ‘nggak ada gue yang sok sibuk itu. Nggak ada yang dipegang-pegang melulu. Nggak ada yang must be stand beside you itu.’ Dan Tembang pun tidak membagi kehilangannya itu dengan banyak orang. Walaupun mungkin jumlah orang yang akan tau bisa terus bertambah.

 

Hari ketiga kehilangan keponakannya sakit. Pergilah ia ke rumah kakaknya. Dan sepulang dari sana ia mendapatkan ‘pinjaman’ ponsel. Kenapa kata pinjaman jadi penting diberi tanda ‘….’? Tembang menyebutnya pinjaman. Sebenarnya diberi. Itu ponsel keponakannya yang tidak sesering itu digunakan lantaran di rumah kakaknya ada lumayan banyak ponsel dan sejenisnya. Tapi berhubung kakak iparnya bilang,’yang ini tolong dirawat ya…kok bisa hilang handphone sampe tiga kali itu. Kenapa bisa hilang?’

 

Menanggapi pertanyaan itu Tembang menjawab, ‘yaaah kak, dulu juga waktu kerjanya bolak-balik rumah-sekolah, rumah-kampus, juga handphonenya aman2 aja.’ Maksudnya adalah, karena sekarang Tembang sering keluar rumah dan bolak-balik ke sana kemari, menghampiri tempat-tempat yang memang tidak lebih terjamin keamanannya dibanding rumah, juga lebih sering naik kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi, lebih bisa dimaklumi jika risiko barang berpindah tangan menjadi lebih signifikan kan. Itu maksud Tembang.

 

Tembang mencukupkan kronologinya sampai situ. Dan selanjutnya Tembang ‘menyanyikan’ sebuah pelajaran buat saya. Sebuah perspektif yang lebih segar. Kesegaran yang kadang lebih dibutuhkan dari sekadar argumen-argumen cerdas.

 

Tembang bilang, ‘ponsel itu punya Allah. Allah yang kasih, Allah yang ambil. Dan Allah berhak menentukan kapan Dia memberi dan kapan Dia mengambil. Kalo gue ditanya kenapa handphone gue ilang, ya gue nggak tau jawabannya apa. Allah yang tau kenapa Dia kasih dan kenapa Dia ambil.’

 

Buat seorang Tembang, ponsel itu amanah. Harus ditunaikan haknya dan dijaga amanahnya. Yang dijaga itu amanahnya bukan ponselnya. Ponselnya punya pemilik. Kita hanya dititip. Yang mesti kita lakukan adalah menjaga dan menunaikan amanah yang disertakan  bersama datangnya titipan Tuhan yang dalam hal ini berupa ponsel. ‘yang penting gue nggak pake handphone itu buat yang nggak-nggak. Yang penting insya Allah selama ini gue udah berusaha menunaikan hak-hak handphone itu. Kalo Allah mau ambil, ya gue ujungnya tinggal doa “semoga Allah mengampuni gue, memberi pahala atas musibah ini, dan menggantikan dengan yang lebih baik dari sisiNya.” (anyway, setelah dicross check, ini gubahan doanya ummu salamah ra. ketika suaminya meninggal. Doa ini diajarkan oleh beliau saw. Terus menerus dibaca oleh ummu salamah, hingga akhirnya Allah gantikan almarhum suaminya dengan menikahkannya kepada Rasul saw.)

 

Tembang benar. Apa yang perlu dikhawatirkan dari hilang sebuah barang adalah apakah sepanjang Tuhan mengamanahkannya pada kita selama ini kita sudah menunaikan hak-hak barang tersebut.

Jika Tuhan menitipkan uang, adakah kita membelanjakannya di jalan Tuhan.

Jika Tuhan menitipkan barang, adakah kita memanfaatkannya di jalan Tuhan. Sudah sungguh-sungguhkah kita bersyukur. Almarhum Nurcholis Madjid pernah bilang, ‘cara bersyukur yang paling baik adalah dengan bekerja keras.’ Maka sudahkah kita menjadikan titipan-titipan itu suatu jalan untuk kita beramal menuju Tuhan.

 

Tembang benar. Mungkin ada pentingnya tergugu sejenak dengan kalimat demi kalimat yang Tuhan titipkan dan Tuhan luncurkan lewat Tembang. Adakah kita sudah berlaku amanah. Jika sudah biarlah Tuhan menetapkan apa yang ingin Ia tetapkan atas kita. Atas takdir-takdir kita.

 

“…Allah memberi kekuasaan kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah pun mencabutnya dari siapa yang Ia kehendaki…” (Q.S. Ali Imran : 26)

 

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis di dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu….” (Al Hadiid : 22-23)

 

“…Allah menimpakan kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati lagi terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran : 153)

 

Ini bukan permakluman atas kecerobohan. Hanya saja, saya membenarkan Tembang di sisi di mana ia teliti membedakan mana yang sebenarnya lebih penting untuk dijaga : barangnya atau amanahnya. Di sisi di mana Tembang demikian optimis, Tuhan mengambil, Tuhan Mahapunya takdir, dan Tuhan Yang Mahapemurah itu bisa dengan mudah mengantarkannya pada karunia yang lebih besar. Menjadi signifikan untuk dipertanyakan kemudian, ‘adakah kita punya cukup kapasitas untuk berhak mengelola amanah yang lebih besar dari apa yang Tuhan luputkan dari kita?’

 

Oya, yang kehilangan barang itu tidaklah mesti orang yang ceroboh. Banyak orang ceroboh yang gadgetnya tidak Tuhan ambil tapi kesehatannya Allah gerogoti. Banyak orang ceroboh yang tidak kehilangan barang. Orang ceroboh itu sudah kehilangan yang lebih penting dari barang. Orang ceroboh kehilangan karakter teliti. Dan orang yang kehilangan tapi dibimbing untuk belajar banyak dari kehilangannya bisa saja rekayasa Tuhan untuk membuatnya jadi orang yang lebih lapang hati, lebih teguh keyakinan, lebih sabar, dan lebih siap untuk mengemban amanah yang lebih besar di depan.

 

Menyoal masalah ceroboh, teringat Tembang juga pernah mengungkapkan. ‘mungkin dulu waktu temen-temen gue suka pada keilangan handphone gue mikir mereka itu ceroboh. Mungkin gue sempet menyakiti mereka dengan sekadar menanyakan , ‘hah? Lw keilangan lagi?’ dan dengan kehilangan-kehilangan ini Tuhan mungkin pingin ngajarin gue kalo yang keilangan itu belum tentu semata-mata gara-gara nggak bisa jaga barang.’

 

Dan lagi-lagi beberapa saat aku terdiam. Tembang benar. Kita mungkin tidak ceroboh soal barang. Tapi kita mudah sekali ceroboh soal menjaga kata-kata. Tembang benar. Dalam hal ini dia mengajari saya sebuah cara pandang alih-alih sibuk menggerutu dan melontarkan argumen-argumen pembelaan.

 

“dan adalah hikmah, harta benda kaum muslim yang tercecer. Maka di mana pun kamu menemukannya, pungutilah ia.” (gubahan hadist)

 

 

*OOT : kenapa sih nggun lw suka gubah-gubah hadist sama ayat???? Lw pikir gubahan lw bagus apa? Taro aslinya napa?!

Nah, itulah guys. Masalahnya gue nggak inget2 amat redaksi aslinya. Apalagi kalo lw minta perawinya. Apalagi kalo lw nanya sanadnya.

Mangga, di gugling aja. Haha. =,D

 

Lt. 2 Rafflesia, kamar 20

03.19 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s