Mengapa Tuhan Menunda

Standard

Adalah pelajaran ini terilhami dari rentetan kisah banyak orang. Tapi kemudian dipantik oleh kisah seorang teman tentang perjalanannya mencari pekerjaan.

Gadis cerdas dengan IPK tertinggi di fakultasnya saat lulus, sebutlah namanya nona Harum Mewangi.

Harum juga aktif berorganisasi, lulus empat tahun dari universitas yang juga disebut-sebut punya nama harum. Semestinya tidak ada yang cela dengan cv-nya kan?

Organisasi aktif. IPK terbaik. Universitas hebat. Apalagi?

 

Tapi Tuhan punya jalan lain. Harum belum juga dapat pekerjaan hingga satu setengah tahun lamanya. Bukan. Bukan karena picky. Ia mencoba berkali-kali di berbagai tempat.  Belum juga jodoh. Terus begitu. Berkali-kali. Perusahaan besar sampai yang biasa dan belum begitu bernama dicobanya. Begitulah.

 

Suatu hari berbincang dengan teman lainnya yang lebih dekat dengan Harum. Dia bilang Harum itu hebat. Di sela-sela ‘takdir’nya yang kelihatan belum manis itu Harum mengutarakan sebuah ‘mungkin’. Dulu semasa kuliah mudah baginya untuk mendapatkan magang atau freelance atau yang semisalnya. Kesempatanlah intinya, mudah baginya untuk menembusnya. Lalu sekarang keadaannya berbalik. Dan Harum hanya bilang “mungkin itu cara Tuhan untuk membuat kita tidak sombong.” kurang lebih begitu.

=,)

 

Dan kemarin sewaktu aku main-main ke rumah seorang teman, yang juga teman sejurusan Harum, kabar terakhir tentangnya adalah dia sekarang (alhamdulillah) sudah bekerja di Jasa Raharja yang kantornya di Padang.

 

Seru. Menurutku itu seru.

Padang dan bukan jabodetabek adalah satu tanda seru di antara titik-titik yang biasa.

Tempat yang baru tidak hanya menjanjikan kesempatan kan?

Tetapi juga pengalaman yang lebih kaya.

 

Harum selama ini belum pernah jauh dari orang tua sekarang harus merantau ke sebuah negeri di mana orang yang dikenalnya bisa jadi masih sangat terbatas. Tapi itulah, sensasi ketika kita terbata-bata mengeja satu babak hidup yang lain itu entahlah bagaimana akan mampu kita lupa.

Mungkin Harum harus belajar sesuatu di sana. Sesuatu yang tak akan ditemukannya di tempat ia yang biasa.

Atau mungkin Harum harus berkenalan dengan si A, si B, si C, dan seterusnya, juga untuk belajar sudut pandang yang berbeda dari apa yang biasa didengarnya.

 

Tuhan mungkin bukan tak peduli, juga bukan bermaksud menangguhkan doa dan kebutuhan-kebutuhan kita. Hanya saja untuk mewujudkan sesuatu yang indah dalam hidup seseorang, mata rantai takdir harus berjalan sedemikian rupa sehingga mengikat takdir begitu banyak orang dalam satu simpul. Mengerucutkan bermacam-macam peristiwa antara, yang menyampaikan kita menemui apa yang memang ditakdirkanNya atas kita.

Karena toh kita tidak hidup sendiri. Dan takdir setiap orang berkaitan dengan takdir-takdir orang yang di’temui’nya dalam hidupnya.

Mungkin itu rahasia kenapa, butuh waktu yang menurut kita demikian panjang untuk menempatkan kita dalam satu babak pelajaran kehidupan.

 

Jikasaja Tuhan biarkan Harum berkenalan dengan pekerjaan lain sebelum Jasa Raharja dan membiarkan Harum bekerja di sana, tepat ketika kesempatan dari Jasa Raharja itu ditawarkan Harum sudah tidak lagi merasa penting untuk mengajukan.

Tapi itu tak kan terjadi. Toh apa yang ternyatakan dalam hidup hanyalah apa yang memang sudah Tuhan gariskan dan diijinkanNya terjadi.

Maka itu, Tuhan mengirim waktu untuk mengemulsi segala kejadian yang dituliskan untuk demikian banyak orang, hingga pada saat yang telah Ia tetapkan, semuanya menjadi demikian mungkin untuk bertemu segaris. Berjalan sesisi.

 

Tuhan selalu punya rencana.

Dan selamanya akan demikian.

 

“Dunia adalah tempat bagi apa yang Allah kehendaki.  Dan bagimu, di sisi Allahlah apa yang kamu kehendaki.”

 

*dan aku jadi bertanya-tanya, takdir apa gerangan yang Tuhan siapkan hingga begitu panjang waktuku di sini. Ketika satu persatu orang pergi memasuki pintu takdirnya yang lanjut, aku masih juga di sini. Di depan sana pasti ada sesuatu. Dan sepanjang jalan menujunya adalah kesempatan untuk senantiasa belajar sesuatu.

 

Rafflesia kamar 20

17.19 WIB

Anggun Nadia Fatimah

Advertisements

2 responses »

  1. pelajaran baru buatku kak. serius.
    aku harus ambil banyak pelajaran dari tulisan ini. dalam waktu dekat–atau mungkin tidak, tiba juga nanti saatnya bagiku tuk mengeja satu babak kehidupan itu.

    semoga kelak aku juga memiliki kegigihan sebagaimana mbak Harum..

    dan untukmu, kak, hanya bisa melangitkan doa agar Allah lancarkan jg kokohkan langkahmu menjemput babak baru itu..

    ganbatte!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s